Mengenal Diri Sendiri dan Sufisme Ala Adam Smith

Santri Ma'had Aly Salafiyyah Syafi'iyyah Sukorejo Situbondo
Mengenal Diri Sendiri dan Sufisme Ala Adam Smith 24/01/2023 44 view Agama wikimedia.org

Siapa di antara kita yang tidak mengenal ungkapan ‘Barang siapa mengenal dirinya sendiri, maka sungguh akan mengenal kepada tuhannya’ sebagai ungkapan yang selalu digaung-gaungkan oleh kelompok penempuh jalan spiritual. Sungguh, ungkapan ini telah populer di telinga kita.

Namun, ada sebagian orang yang salah memahami ungkapan tersebut sebagai hadis Nabi Muhammad Saw. Padahal ungkapan tersebut bukanlah hadis, melainkan ungkapan seorang sufi terkenal Yahya bin Muadz ar-Razi, sebagaimana pernyataan Az-Zarkasyi dalam kumpulan hadis masyhurnya mengutip pendapat Imam Sam’ani.

Ungkapan tersebut, dikutip dari pernyataan Syekh az-Zarnuji dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim-nya, memiliki orientasi yang mengajak seseorang untuk mengenal dirinya sendiri, dilihat dari sudut pandang sifat-sifat yang melekat pada dirinya sebagai suatu hal keterbatasan untuk dirinya sendiri, berbeda dengan sifat-sifat kesempurnaan milik Allah. Diri manusia cenderung untuk melakukan dosa atau kesalahan, baik dilakukan dengan sadar ataupun tidak. Dengan demikian, ketika seseorang telah mengenal dirinya sendiri yang selalu diliputi oleh kesalahan dan kemaksiatan, ia sadar butuh pada dzat yang maha sempurna untuk dijadikan tempat bersandar, yaitu tempat dirinya untuk meminta pertolongan.

Uniknya, Adam Smith yang terkenal sebagai bapak ekonomi modern, juga memiliki prinsip yang satu sisi mirip dengan quote ‘Man Arafa Nafsahu, Faqad Arafa Rabbahu’ itu. Berikut pernyataannya dalam book The Money Game, buku tentang permainan yang dimainkan orang dengan uang dan pasar: “The first thing you have to know is yourself. A man who know himself can step outside himself and watch his own reactions like an observer.”

Jika dialih bahasakan ke Bahasa Indonesia, kurang lebih maknanya adalah “Hal pertama yang harus Anda ketahui adalah diri Anda sendiri. Seorang pria yang mengenal dirinya sendiri dapat keluar dari dirinya sendiri dan melihat reaksinya sendiri seperti seorang pengamat.”

Prinsip Adam Smith di atas ini jika dideskripsikan, maknanya tidak jauh berbeda dengan quote Yahya bin Muadz ar-Razi tadi. Namun orientasinya berbeda, karena yang ini mengajak kita untuk merenungkan diri sendiri, demi kemajuan, ketangkasan, dan keuletan diri kita sebagai individu yang baik, bukan untuk mengenal tuhan yang maha sempurna.

Memang benar, Adam Smith mempunyai prinsip tersendiri untuk mengintrospeksi dirinya sendiri yang kerap kali dalam ajaran Islam dikenal dengan muhasabah, meski ranahnya agak sedikit berbeda. Nyatanya, kita lebih disibukkan untuk memikirkan kehidupan orang lain ketimbang diri sendiri. Lebih banyak menilai keburukan dan kesalahan orang lain ketimbang menilai kesalahan diri sendiri. Padahal dengan mengenal diri sendiri terlebih dahulu, akan memudahkan diri kita sendiri untuk memahami orang lain. Seandainya kita merenungkan kembali, benarkah kita sudah mengontrol diri dengan benar?, Sudahkah kita menjadi manusia yang sesuai harapan?, bukan tidak mungkin untuk menjadi manusia yang berkualitas yang mempunyai skill spesialis.

Mengutip buku How to Win Friends and Influence People yang dikarang oleh Dale Carnegie, Presiden dari sebuah Bank Wall Street pernah menyampaikan sistem yang sangat efisien untuk meningkatkan diri sendiri menjadi lebih berkualitas dalam suatu percakapan sebelum kelas dimulai. Pendidikannya sebelum ia menjadi presiden, hanyalah mengenyam sedikit pendidikan formal. Namun faktanya, ia berhasil menjadi orang penting dalam bidang keuangan di Amerika dengan menerapkan sistem konstan yang dibuatnya sendiri. Berikut rahasianya dan pernyataannya langsung tanpa ada perubahan redaksi.

“Selama bertahun-tahun saya sudah membuat buku perjanjian yang mencatat semua janji yang saya buat dalam sehari itu. Keluarga saya tidak pernah membuat rencana apapun untuk saya pada hari sabtu malam, karena keluarga saya tahu akan waktu saya setiap sabtu malam untuk merenungi atau meneliti diri sendiri dan mengulang serta menilai apa yang sudah saya kerjakan. Setelah santap malam, saya menyendiri, membuka-buka perjanjian saya dan memikirkan kembali semua wawancara, diskusi, dan rapat yang sudah berlangsung selama seminggu. Saya menanyakan diri saya: “Kesalahan apa yang sudah saya perbuat pada hari itu?”, "Apa yang saya kerjakan sudah benar?”, “Dengan cara apa saya bisa meningkatkan hasil kerja saya?”, “Pelajaran apa yang bisa saya dapat dari pengalaman itu?”

Demikian muhasabah versi Presiden Wall Street yang menjadikannya orang penting dalam bidang keuangan di Amerika. Tegasnya, ia tidak menemukan sistem yang lain selain sistem yang telah disebutkan di atas tadi. Tentu, menerapkan sistem yang telah ia sarankan bukanlah perkara mudah, perlu latihan (riyadah) dan penyesuaian diri agar supaya berhasil.

Begitupun muhasabah dalam tradisi masyarakat sufisme, bukanlah suatu hal mudah seperti membalikkan tangan. Hujjatul Islam Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin pada juz 4 membahasnya dengan Kitabul Muraqabah wal Muhasabah, tepatnya beliau menegaskan tentang muhasabah diri setelah beramal. Lantas beliau mengutip Al-Qur’an Surah Al-Hasr, ayat 8 untuk menjelaskan tentang keutamaan muhasabah diri. Berikut ayatnya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hasyr: 18)

Khitab ayat di atas tertuju pada orang-orang mukmin untuk selalu waspada atau memperhatikan apa-apa yang telah diperbuatnya, hal ini tiada bukan adalah untuk perkembangan individu seorang mukmin. Dikarenakan tasawwuf adalah nama lain dari akhlak, berarti muhasabah disini difokuskan terhadap perangai dan perilaku buruk yang telah dilakukannya agar supaya dievaluasi.

Sayyidina Umar bin Khattab juga punya quote tentang muhasabah ini. Pada biasanya ungkapan beliau tersebut selalu dibaca di pondok pesantren sesudah bacaan tarhim sebelum subuh, berikut ungkapannya:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا وَتَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِى الدُّنْيَا

“Hisablah diri (introspeksi) kalian sebelum kalian dihisab, dan berhias dirilah kalian untuk menghadapi penyingkapan yang besar (hisab). Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia.”

Hasan al-Bashri, seorang tokoh sufi yang ahli dalam bidang fikih, mengungkapkan sebagai berikut, dikutip dari terjemah Ibnu Katsir: “Demi Allah sesungguhnya orang Mukmin itu selalu menegur dirinya: Apa yang aku inginkan dengan percakapanku? Apa yang aku inginkan dengan makananku? Apa yang aku inginkan dengan minumku?. Akan tetapi orang yang lemah terus melakukan dosa setapak demi setapak tanpa menyesali dirinya.”

Akhiran, menurut Sartre manusia adalah makhluk yang berbeda dengan gunting yang merupakan benda mati, gunting adalah benda yang sudah mempunyai esensi sebelum eksistensi. Sementara manusia tidak demikian, eksistensinya mendahului esensinya. Dengan demikian muhasabah dalam rangka mengenal diri sendiri sangat urgen bagi manusia demi menciptakan esensinya di masa depan. Sudahkah kita merenungkan diri kita, apakah sudah sesuai dengan yang kita harapkan atau tidak?. Wallahua’lam.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya