Pendidikan Seks untuk Anak

Pendidikan Seks untuk Anak 04/07/2021 87 view Pendidikan haibunda.com

Baru-baru ini pengakuan seorang artis ibukota yang menemani anaknya menonton video porno sebagai bagian dari pendidikan seks untuk anaknya. Hal ini memantik pro kontra di masyarakat. Sebagai orang tua di masa kini, dia berpendapat mustahil anaknya tidak pernah nonton film dewasa. Dan suatu ketika dia mendapati anaknya sedang menonton film dewasa, sehingga ia menemaninya layaknya seorang sahabat dengan tujuan memberikan edukasi seks kepada anaknya.

Pengakuannya ini telah mendapatkan komentar dari banyak pihak, salah satunya dari komisi perlindungan anak yang menyatakan bahwa film porno dapat memberikan dampak negatif yang membahayakan tumbuh kembang anak. Lantas bagaimana pendidikan seks yang tepat bagi anak?

Pendidikan seks secara khusus belum ada dalam kurikulum sekolah. Sementara, orang tua belum semua paham tentang pentingnya pendidikan seks kepada anak. Alih-alih memberikan pendidikan seks kepada anak, sebagian orang tua justru merasa tabu membicarakan seks dengan anaknya, sehingga anak tidak berani bertanya mengenai seksualitas kepada orang tuanya.

Di sisi lain perkembangan teknologi telah banyak memberikan informasi terkait seksualitas. Dan anak bisa saja setiap saat mengaksesnya tanpa sepengetahuan orang tua. Padahal, pendidikan anak merupakan tanggungjawab orang tua, apalagi pendidikan seksualitas turut menentukan kehidupan anak di usia dewasa.

Pemahaman orang tua tentang pendidikan seks akan memberikan kontribusi yang besar terhadap keberhasilan pendidikan seks kepada anaknya. Pengenalan seks kepada anak sejak dini dengan tepat dan orang tua yang membersamai pertumbuhan dan perkembangan anak menuju akil balig akan berdampak positif kepada perkembangan anak menjadi manusia dewasa yang bertanggungjawab.

Pendidikan seks kepada anak merupakan upaya untuk memberikan pemahaman kepada anak tentang seksualitas dengan jelas dan benar, meliputi arti, fungsi dan tujuan seks. Sehingga, ketika anak tumbuh dewasa akan dapat menyalurkannya secara baik, benar dan legal.

Profesor Gawshi (dalam Yousef Madani: Pendidikan Seks Usia Dini Bagi Nak Muslim) menyebutkan pendidikan seksual adalah untuk memberikan pengetahuan yang benar kepada anak yang menyiapkannya untuk beradaptasi secara baik dengan sikap-sikap seksual di masa depan kehidupannya. Dan pemberian ini menyebabkan anak memperoleh kecenderungan logis yang benar terhadap masalah-masalah seksual dan reproduksi.

Lebih jelas lagi, Nina Surtiretna (dalam bukunya Remaja dan Problema Seks Tinjauan Islam) menyatakan bahwa pendidikan seks adalah upaya memberikan pengetahuan tentang perubahan biologis, psikologis, dan psikososial sebagai akibat pertumbuhan dan perkembangan manusia. Pendidikan seks pada dasarnya merupakan upaya untuk memberikan pengetahuan tentang fungsi organ reproduksi dengan menanamkan moral, etika serta komitmen agama agar tidak terjadi penyalahgunaan organ reproduksi tersebut.

Dengan demikian, ada tiga hal penting dalam pendidikan seks bagi anak, yang pertama aspek biologis, yaitu pengetahuan mengenai organ seksual atau organ reproduksi serta fungsi-fungsinya. Hal ini meliputi perbedaan alat kelamin, pertumbuhan payudara dan pertumbuhan organ reproduksi yang berfungsi dalam perkembangbiakan, termasuk penggunaan kontrasepsi untuk mencegah kehamilan.

Yang kedua aspek psikologis, yaitu pengetahuan tentang perkembangan kejiwaan seiring dengan perkembangan organ-organ reproduksi. Hal ini akan sangat tampak pada usia remaja, seperti ketertarikan kepada lawan jenis, emosi yang timbul saat menstruasi, bagaimana ketika remaja mendapatkan mimpi basah dan perasaan-perasaan lain yang biasanya muncul pada diri remaja.

Yang ketiga aspek psikososial, yaitu seksualitas dalam hubungannya dengan individu yang lain. Dalam hal ini pendidikan seks berdasarkan etika, moral, ekonomi dan pengetahuan lainnya yang dibutuhkan agar seseorang dapat memahami dirinya sebagai individu seksual dan menjalani interpersonal dengan baik.

Pendidikan seks seyogyanya diberikan sejak dini dengan cara yang benar sesuai dengan tahapan usia dan perkembangan anak. Pendidikan seks kepada anak setidaknya dapat kita bagi dalam tiga tahapan. Pertama, usia balita hingga anak usia 9 tahun. Pada tahapan ini lebih banyak pengenalan aspek biologis, yaitu pengenalan organ reproduksi bagian luar. Dimulai dengan pengenalan identitas diri laki-laki dan perempuan. Penyebutan alat kelamin dengan benar, tanpa bahasa kiasan.

Memberikan pengetahuan kepada anak bahwa tubuhnya sangat berharga, orang lain tidak boleh menyentuh sembarangan, sehingga anak dapat melindungi diri dari kejahatan seksual. Pengenalan organ reproduksi ini dapat dilakukan ketika anak mandi, misalnya anak diajak mandi bersama orang tua. Anak perempuan mandi bersama ibunya dan anak laki-laki mandi bersama ayahnya. Anak diperkenalkan organ reproduksinya saat ini dan perbedaannya nanti jika sudah besar seperti ayah atau ibu.

Kedua, usia remaja awal, 10 – 15 tahun. Pada tahapan ini anak mengalami perkembangan seksualitas dan reproduksi yang kompleks. Ketiga aspek pendidikan seks sangat penting ditekankan di masa remaja awal. Perkembangan organ reproduksi secara biologis dapat dijelaskan dengan rinci baik oleh orang tua maupun guru di sekolah. Sehingga remaja betul-betul memahami pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya dengan baik, fungsi-fungsi biologisnya dan bagaimana menjaga serta merawat organ-organ intimnya dengan baik dan benar.

Secara psikologis, anak juga harus diperkenalkan bagaimana menerima dirinya secara fisik dan perasaannya. Bagaimana bersikap atas perasaannya, ketertarikannya terhadap lawan jenis, dan norma serta etika yang harus dipatuhi dalam pergaulan sosial. Dalam tahap ini, peran sekolah akan sangat membantu dalam pendidikan seks bagi anak. Ditambah lagi jika ada wadah kegiatan yang khusus berkaitan kesehatan reproduksi dan perencanaan masa depan anak, seperti Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R).

Ketiga, usia remaja akhir, usia 16 – 18 tahun. Pada tahapan ini, perkembangan seksualitas anak sudah matang. Fungsi organ reproduksi sama dengan orang dewasa. Perempuan sudah bisa hamil dan laki-laki telah dapat membuahi. Aspek psikologis dan psikososial sangat ditekankan pada tahapan ini. Bagaimana mengendalikan perasaan dan hasrat seks, bagaimana berinteraksi dengan lawan jenis dan sebagainya. Sehingga, anak dapat melalui masa remaja dengan sehat dan menyiapkan masa depannya dengan baik.

Tahapan pendidikan seks ini tidak bersifat mutlak, tetapi menyesuaikan perkembangan reproduksi anak, karena setiap anak tidak selalu sama perkembangannya. Misalnya ada anak perempuan yang telah mendapatkan menstruasi di usia 9 tahun, namun ada juga yang baru mendapatkannya di usia 15 tahun. Sehingga edukasi dan pendampingan orang tua disesuaikan dengan kondisi perkembangan seksualitas yang dialami anak.

Adapun metode dan media pendidikan seks dapat dikembangkan oleh orang tua sesuai dengan kebutuhan. Misalnya pada tahapan pertama, usia balita dan anak, pendidikan seks dapat diberikan dengan metode bernyanyi atau bercerita dengan media boneka atau gambar. Pada tahapan kedua, bagi remaja awal pendidikan seks diberikan dengan penjelasan ilmiah dengan media gambar organ reproduksi yang kompleks atau visualisasi dengan animasi. Demikian juga pada tahapan ketiga, penjelasan ilmiah dan komunikasi terbuka akan lebih dibutuhkan oleh remaja.

Penulis tidak sepakat jika film dewasa atau film porno dijadikan media edukasi seks kepada anak, apalagi di usia dini dan remaja awal. Karena dampak negatif film porno dapat memberikan rangsangan seksual anak yang menimbulkan kenikmatan yang dapat membuat ketagihan untuk menonton lagi. Jika dilakukan terus menerus akan merusak imajinasi berpikir anak yang akan menghambat prestasi dan perkembangan sosialnya. Karenanya orang tua yang bertanggungjawab penuh terhadap pendidikan seks kepada anaknya sudah seharusnya melakukan pendampingan sekaligus pengawasan kepada anak dan memastikan anak mendapatkan informasi yang benar tentang seks dan menghindarkan anak dari paparan film porno yang berdampak buruk terhadap perkembangan seksualitasnya.

Perkembangan teknologi yang pesat sangat memungkinkan anak terpapar film dan konten-konten porno. Oleh karena itu orang tua harus menjalin komunikasi yang efektif dengan anak, membangun kedekatan dan menjadi sahabat anak sehingga anak tidak segan bercerita tentang diri dan pengalamannya. Orang tua juga berkesempatan untuk berdiskusi dan mengarahkan anak menemukan identitasnya sebagai makhluk seksual dan melewati masa remajanya dengan baik dan tumbuh menjadi seorang dewasa yang bertanggung jawab.

Pendidikan seks bagi anak dan remaja di Indonesia akan menjadi baik jika orang tua sebagai aktor utama pendidikan seks dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Ini juga perlu didukung oleh peran guru di sekolah yang berkolaborasi dengan orang tua dalam memantau perkembangan anak di setiap tahapannya serta menjaga anak dari pengaruh buruk media dan pergaulan bebas di antara teman-temannya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya