Dromologi dan Realitas Virtual Manusia

Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Dromologi dan Realitas Virtual Manusia 01/04/2021 52 view Budaya idseducation.com

Sejak ditemukannya internet pada sekitar pertengahan abad ke-20, wajah peradaban manusia menunjukan perubahan mulai dari hal kecil sampai hal besar. Perubahan yang terjadi menyentuh berbagai dimensi seperti: politik, ekonomi, pendidikan, sosial, budaya bahkan agama. Karena perubahan yang sifatnya multidimensional itulah, wajar jika internet dikatakan merubah peradaban.

Keberadaan internet semakin menunjukan kesempurnaannya kala ia berkolaborasi dengan benda bernama smartphone. Dengan benda tersebut, berbagai aktivitas bisa dilakukan hanya dengan berdiam diri di tempat. Sisanya dikerjakan oleh jari-jari yang menari di layar smartphone. Dalam bidang ekonomi misalnya, untuk berbelanja pembeli tidak harus selalu pergi ke pasar, ke mall atau ke market place. Cukup diam saja di tempat, lalu membuka aplikasi dan kita bisa memilih produk jenis apapun sesuka hati.

Lalu apa dampak penggunaan internet dalam dimensi sosial-budaya? Kita akan melihat bagaimana cara berpikir masyarakat, kondisi psikis, masalah identitas, dan orientasi diri berubah ke arah yang cenderung regresif.

Tentang Dromologi dan Virtualitas

Dromologi merupakan konsep yang digagas oleh seorang filsuf, arsitek, dan kurator bernama Paul Virilio. Dromologi memiliki akar kata dari bahasa Yunani yaitu dromos yang artinya perlombaan, kecepatan atau adu cepat dan logos yang berarti ilmu. Dromologi merupakan ilmu yang mengkaji bagaimana kecepatan bisa mendeterminasi suatu fenomena. Teori ini berhubungan dengan proses kecepatan dalam berbagai bidang seperti komunikasi, transportasi, digitalisasi, dan hal-hal lain yang didasarkan pada teknologi.

Dromologi bekerja menggunakan prinsip kecepatan yang berarti menuntut perubahan tubuh sosial individu agar selalu menjadi yang tercepat, terdepan dan pertama. Diam berarti tidak mengikuti zaman yang terus berubah hingga akhirnya tergilas oleh laju kecepatan. Laju kecepatan yang menuntut kita untuk selalu bergerak dan berubah ini bukannya tanpa akibat apapun. Hal ini justru memunculkan akibat-akibat yang cenderung ke arah negatif dan destruktif.

Akibat pertama adalah munculnya ledakan informasi dan kedangkalan makna. Cara kerja dromologi ditambah adanya smartphone memungkinkan kita untuk mendapat informasi dari segala arah dengan jumlah yang tak terbatas. Kecepatan informasi yang dihadirkan pada akhirnya menghilangkan pertimbangan manfaat dari hal yang diinformasikan. Kita bisa merasakannya. Sebagai contoh, terkadang breaking news dari suatu media memuat informasi yang kurang bermanfaat seperti kasus perceraian artis, pernikahan artis, perselingkuhan dan informasi lain yang tidak begitu signifikan meningkatkan kualitas hidup. Ditambah lagi informasi yang sifatnya destruktif seperti hoax, ujaran kebencian dan lain sebagainya.

Dengan prinsip yang serba cepat, hal ini memungkin informasi diperoleh secara real time atau dengan kata lain informasi yang diperoleh adalah informasi yang aktual. Bisa kita bayangkan, dalam satu hari sangatlah mungkin banyak kejadian terjadi dalam waktu yang berdekatan. Ketika media berlomba-lomba menginformasikan banyak kejadian dalam satu hari ini, konsekuensinya kita pun akan diserang oleh beragam informasi secara bersamaan. Dalam pandangan Virilio, mengumpulkan berbagai informasi yang membeludak ini bukan semata-mata karena muatan informasi itu sendiri. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, namun lebih kepada agar selalu terlibat dalam setiap percakapan dengan sesamanya atau dalam istilah yang lebih populer, agar lebih terlihat up to date.

Akibat kedua adalah adanya piknolepsi atau suatu kondisi yang merujuk pada kepusingan dan kemabukan karena adanya laju penyebaran citra atau gambar dengan frekuensi tinggi. Dalam kasus ini, dapat dikatakan manusia larut dalam laju kecepatan citraan, simbol atau gambar, baik dalam komoditas, informasi dan lain sebagainya. Untuk menemukan fenomena ini tidaklah sulit, kita cukup seharian berselancar di dunia maya maka akan kita temukan fenomena ini. Misalnya ketika kita mencari infromasi di internet. Kita akan banyak menemukan citraan yang disebar oleh produsen melalui komoditasnya atau pun citraan yang ditampilkan oleh public figure tertentu.

Konsekuensi dari contoh di atas adalah manusia tidak hanya mengalami kemabukan dan kepusingan. Lebih jauh dapat menimbulkan gejala cemas dan gelisah. Karena ketika berbagai macam komoditas hadir dengan citraan, kemasan, dan simbol yang menggugah, efeknya kita akan terangsang atau tergoda terhadap komoditas tersebut. Permasalahannya, ketika kita terpengaruh oleh daya pikat komoditas tertentu dan kemudian menginginkan berbagai macam komoditas itu, kita tidak selalu mampu memenuhi keinginan tersebut. Entah disebabkan oleh keadaan finansial ataupun keadaan lainnya yang tidak memungkinkan kita untuk memenuhi keinginan itu.

Belum lagi jika kita menghubungakannya dengan keadaan masyarakat hari ini yang bisa dikatakan sebagai masyarakat tontonan. Dalam arti, masing-masing individu yang berinteraksi dalam masyarakat tersebut disibukan dengan mempertontonkan simbol. Mempertontonkan simbol di sini lebih mengacu pada kegiatan yang lebih mementingkan brand suatu komoditas alih-alih nilai guna dari komoditas itu sendiri. Dengan adanya masyarakat tontonan, ditambah adanya prinsip dromologi ini, memaksa kita untuk terus memacu diri dalam membeli produk-produk branded. Dan lebih jauhnya hal ini dapat menyebabkan gejala piknolepsi tadi.

Lalu, bagaimana dengan realitas virtual? Smartphone merupakan contoh yang sangat baik dalam menjelaskan realitas virtual. Dengan hadirnya smartphone yang kini telah dimiliki hampir oleh setiap orang, interaksi yang dilakukan antar sesama manusia tidak harus selalu lewat realitas aktual atau realitas ril. Smartphone memungkinkan kita untuk berinteraksi melampaui batas-batas geografis, di manapun dan kapanpun. Konsekuensi dari interaksi yang dilakukan lewat smartphone ini adalah menyembunyikan identitas bahkan memalsukan identitas asli seseorang.

Mengapa demikian? Karena sesuai dengan definisinya, realitas virtual memang sesuatu yang diada-adakan, sesuatu yang diciptakan, dan salah satunya adalah identitas kita. Terkadang dijumpai satu orang yang memiliki lebih dari satu akun media sosial dengan identitas yang berbeda. Bisa juga sikap seseorang yang saling bertolak belakang antara di dunia nyata dan di dunia virtual. Permasalahan identitas ini bukanlah hal yang sepele. Hal ini justru menunjukan seseorang yang kehilangan otentisitas dan orientasi diri. Karena kita ditutupi oleh banyak identitas yang dibuat oleh kita sendiri.

Teknologi adalah hal yang telah mengakar di hampir sebagian masyarakat hari ini. Dalam menyikapinya, jangan sampai kita dibentuk oleh teknologi ke arah perubahan psikis yang buruk seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Dalam konteks ini, manusia harus pandai untuk melihat keadaaan, berhenti sesaat, dan mengambil jarak agar tidak tenggelam dalam nalar yang serba cepat. Prinsip kehati-hatian, sikap kritis dan skeptis, sikap mau memverifikasi, serta sikap reflektif merupakan sikap yang harus mendapat prioritas di era dromologi dan virtual ini.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya