Kritik Terhadap Film Dokumenter Seaspiracy

Kritik Terhadap Film Dokumenter Seaspiracy 04/06/2021 1659 view Lainnya unsplash.com

Sejak dirilisnya film dokumenter “Seaspiracy” oleh Netflix akhir Maret lalu, banyak orang mulai membicarakannya di media sosial. Setelah menonton, tak sedikit dari mereka langsung menelan mentah-mentah isi dari film tersebut. Hal serupa juga terjadi dalam lingkup pertemanan akun Instagram saya. Mereka berlomba-lomba membagikan testimoni atas betapa maha dahsyatnya film tersebut. Faktor audio dan visual dokumenter yang cukup dramatis membuat orang dengan mudah tersentuh dan segera berempati terhadap keadaan laut sekarang. Ini pun terjadi pada saya selepas menontonnya.

Film dokumenter “Seaspiracy” menyajikan rekaman-rekaman video dramatis hasil investigasi ke lokasi-lokasi yang menjadi tempat berlangsungnya kejahatan industri perikanan. Sisi gelap penangkapan ikan oleh industri besar dan masifnya konsumsi negara Asia Timur akan ikan seolah menjadi pemeran utama dalam film tersebut. Tentu tak hanya itu, disajikan pula di dalamnya data serta fakta yang telah dihimpun untuk mendukung premis-premis film ini.

Selama satu setengah jam saya menonton, memang benar, rasa empati dan hati nurani saya mulai tergelitik. Saya cukup kaget ketika memasuki bagian di mana sampah plastik seperti sedotan, botol, kaleng, dan lainnya ternyata bukanlah mayoritas penyumbang sampah laut. Film ini mengklaim bahwa sebagian besar sampah laut berasal dari alat-alat bekas penangkapan ikan. Saya membaca artikel-artikel bernada kritik yang tersebar di media terhadap film ini dan menelusuri studi ilmiah yang terkait untuk melakukan verifikasi. Satu klaim tersebut menurut saya menyesatkan penontonnya, termasuk saya sendiri yang hampir tersesat.

Dalam sebuah studi ilmiah oleh WC LI, dkk, "Plastic waste in the marine environment: A review of sources, occurrence and effects", mengenai sampah plastik di laut (2016), 80% sampah yang ada di lautan berasal dari sampah darat seperti membuang sampah sembarangan, penggunaan kantong plastik dan pembuangan limbah padat. Sedangkan sisanya 20%, berasal dari sampah lautan yang mayoritas disumbang oleh alat-alat bekas penangkapan ikan.

Dalam studi ilmiah itu disebutkan juga bahwa saat ini jumlah alat-alat bekas menangkap ikan yang menjadi sampah laut merupakan 10% dari total sampah laut yang berasal dari laut. Alih-alih menyebutkan fakta yang benar ini, “Seaspiracy” lebih memilih untuk mengklaim bahwa ‘sebagian besar’ penyumbang sampah plastik lautan adalah alat-alat bekas tersebut. Tentu ini menyesatkan penonton meskipun tak dapat dipungkiri bahwa alat-alat bekas tersebut juga menjadi salah satu penyumbang sampah laut. Ini seolah menganggap bahwa sampah plastik seperti sedotan, kantong plastik, tekstil, botol, kemasan makan dan benda lain yang sangat sering digunakan oleh manusia merupakan hal yang sepele. Padahal sejatinya sampah-sampah ini juga merupakan masalah serius dan perlu terus diatasi.

Satu klaim lagi dalam film ini yang juga membuat saya tercengang yakni mereka menyampaikan bahwa pada tahun 2048 lautan akan ‘kosong’. Banyaknya pro dan kontra serta kritik terhadap film ini yang tersebar di media sosial, ditemukan fakta bahwa klaim tersebut bersumber dari artikel penelitian yang dipublikasi 15 tahun silam, tahun 2006. Namun melansir Vox, 13 April 2021, dalam artikel studi ilmiah "Impacts of Biodiversity Loss on Ocean Ecosystem Services" yang ditulis oleh Boris Worm, dkk tersebut tidak mengatakan ‘kosong’. Di dalamnya disebutkan bahwa pada tahun 2048 semua populasi ikan yang dieksploitasi di dunia akan sangat berkurang akibat penangkapan ikan. Penulis menambahkan bahwa hal itu akan membuat penangkap ikan menghasilkan kurang dari 10% dari sejarah tangkapan tertingginya.

Di samping klaim-klaim yang menyesatkan tersebut, menurut saya film dokumenter ini mencoba melihat permasalahan hanya dari satu sisi saja. Dalam dunia jurnalisme penting untuk menyajikan berita dan informasi yang cover both sides bahkan all side agar berimbang dan tidak menyesatkan. Narasumber yang diwawancarai mayoritas berasal dari kelompok yang memiliki prinsip sama seperti pembuat film ini, Ali Tabrizi.

Beberapa kritik yang tersebar di media sosial menyarankan bahwa akan lebih kredibel, baik, dan jelas maksudnya apabila disajikan lebih banyak wawancara bersama pihak-pihak yang melakukan kejahatan dalam industri perikanan tadi. Ada pula kritik yang menyebutkan bahwa dokumenter ini merupakan sebuah agenda yang ‘memaksa’ penonton untuk beralih menjadi seorang vegetarian atau vegan.

Klaim-klaim yang menyesatkan dan banyaknya kritik negatif terhadap film dokumenter ini memberi contoh bahwa sangat tidak direkomendasikan untuk menelan mentah-mentah informasi dan berita apa pun bentuk dan dari mana asalnya. Sejatinya klaim-klaim yang menyesatkan itu tak hanya ada dalam film ini tetapi juga dalam berita, informasi, bahkan perkataan orang-orang pemerintahan yang kita konsumsi.

Saya mengambil contoh Donald Trump. Melansir Kompas, 14 Juli 2020, selama menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat sejak tahun 2017, Trump telah membuat sebanyak 20.000 klaim menyesatkan. Bahkan lebih parahnya lagi banyak dari itu yang merupakan klaim palsu. Warga Amerika Serikat yang pada saat itu dengan kokoh menaruh kepercayaannya pada Trump telah ditipu oleh presidennya sendiri.

Kasus serupa lain yang tidak jauh dari kehidupan kita, warga Indonesia, yakni maraknya penyebaran pesan-pesan terkait Covid-19 yang salah melalui aplikasi WhatsApp. Melansir Tirto.id, 3 Maret 2021, belum lama ini juga terjadi hal serupa, penyebaran pesan berantai di WhatsApp terkait vaksinasi. Banyak klaim-klaim yang salah dan menyesatkan dalam pesan berantai tersebut.

Menurut data yang disajikan oleh datareportal dan Hootsuite, per tahun 2020, pengguna WhatsApp di Indonesia sebanyak 84% dari jumlah populasi. Tentu saja bukan jumlah yang sedikit. Apalagi pengguna WhatsApp beragam termasuk warga lanjut usia juga. Peluang mereka untuk secara langsung percaya terhadap pesan dan informasi yang diterima melalui WhatsApp sangat besar. Sehingga cek fakta terhadap informasi yang kita konsumsi menjadi sangat penting. Tak hanya bagi diri sendiri, mengedukasi orang lain untuk menerapkan prinsip cek fakta pun sangat diperlukan agar tidak lagi ada yang dikelabui oleh oknum penyebar pesan palsu tak bertanggung jawab.

Tulisan ini merupakan opini pribadi yang ditujukan kepada penonton dan pengguna internet sebagai himbauan bahwa segala informasi yang kita konsumsi belum tentu semuanya benar dan akurat. Kita perlu menjadi kritis agar mampu melihat fenomena dan isu dari berbagai sisi serta sudut pandang. Kita perlu memastikan kebenaran fakta-fakta yang disajikan dalam produk-produk jurnalisme maupun informasi dalam media sosial lainnya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya