Komedi, SARA, dan Penjara

Pekerja Seni
Komedi, SARA, dan Penjara 13/04/2021 127 view Budaya thenounproject.com

Lucu itu relatif. Tersekat oleh budaya masing-masing masyarakat. Apa yang dianggap lucu oleh sebagian besar orang Jepang belum tentu lucu di mata orang-orang Sunda, umpamanya. Tiap-tiap kelompok masyarakat punya standar kelucuan umum yang boleh jadi berbeda dengan kelompok masyarakat lain.

Selera humor bukan sesuatu yang ujug-ujug ada, inheren dalam diri manusia. Ia adalah produk budaya. Oleh karenanya pasti berbeda. Kendati berbeda, setidaknya ada kesepakatan tak tertulis bahwa orang di mana pun punya kecenderungan menganggap lucu kebodohan dan kesialan orang lain. Bahkan penderitaan. Horace Walpope, seorang penulis abad ke-18 dari Inggris, menyebut: “The world is a tragedy to those who feel, but a comedy to those who think.”

Dalam merumuskan apa yang lucu dan tidak, tiap-tiap masyarakat dalam suatu kelompok budaya punya formulanya sendiri-sendiri. Orang-orang Yunani Kuno, misalnya, menganggap drama Lysistrata sesuatu yang lucu. Drama komedi karya Aristophanes yang pertama kali dipentaskan pada tahun 411 SM di Athena ini berisi kritik terhadap perang Peloponnesian antara pasukan Athena dan Sparta.

Syahdan, perempuan-perempuan Yunani yang dimotori Lysistrata mogok melakukan hubungan seks dengan suami-suami mereka. Pemogokan itu adalah bentuk “negosiasi” agar suami-suami mereka berhenti berperang. Dan seperti kebanyakan drama komedi, Lysistrata berakhir bahagia. Meski di dunia nyata Athena dan Sparta tetap berperang, di panggung drama Lysistrata, mereka berdamai dan mengakhiri perseteruan dengan menari dan bernyanyi bersama.

Lysistrata adalah cara Aristophanes mengkritik negara dan masyarakat Yunani kala itu. Apa yang lucu? Kesialan dan penderitaan pria-pria Yunani menahan hasrat seks, itu yang lucu.

Dalam wayang golek Sunda, Cepot, Dawala, dan Gareng, selalu ditunggu-tunggu kemunculannya. Selain tingkah dan ucapan mereka yang jenaka, segala kesialan dan kebodohan mereka juga jadi bahan tertawaan yang tak habis-habisnya.Ketika mereka berkelahi dengan penjahat dan mendapat sekian pukulan telak, alih-alih merasa kasihan, penonton justru menganggapnya lucu. Mereka tertawa. Tapi, tidak demikian halnya jika Gatotkaca yang kena bogem. Penonton boleh jadi kasihan atau bahkan turut marah karena jagoannya ketiban sial.

Mari beranjak ke dunia nyata. Sebelum menolong, sebagian orang biasanya lebih dulu akan menertawakan kawannya yang terperosok ke dalam lubang atau tercebur ke dalam kolam. Sebagian orang lebih senang menertawakan seorang ndeso yang gugup di depan gawai lantaran gaptek (gagap teknologi) ketimbang mengedukasinya. Demikianlah, komedi mendahuli empati. Lucu mendahului iba.

Kecuali berisi kesialan, kebodohan, dan “penderitaan”, sebagaimana Lysistrata, komedi juga sering jadi media kritik. Tahun lalu, Bintang Emon, seorang komika, mengkritik kasus penyiraman air keras yang menimpa Novel Baswedan. Melalui unggahan videonya di media sosial, ia mempertanyakan ringannya vonis hakim terhadap tersangka dan “ketidaksengajaan” tersangka menyiram air keras ke wajah Novel.

Lantaran joke kritis itu, Bintang Emon diserang dan dilaporkan oleh pihak (yang ramai dituding sebagai buzzer) ke Kementerian Komunikasi dan Informasi. Harus diakui, selain fenomena sosial, yang sering jadi sasaran empuk humor kritis biasanya pemerintah atau figur publik. Meski mengundang gelak tawa, tapi pada titik ini komedi berstatus kritis (bahaya).

Selain membahayakan komediannya, lelucon yang ditanggapi dengan pentungan dan ancaman pidana juga membahayakan demokrasi dan hak kebebasan berpendapat. Kritik adalah bagian dari kebebasan berpendapat dan berekspresi. Di semua negara moderen-demokratis, berpendapat dan berekspresi secara bebas adalah hak warganegara, yang seharusnya, dilindungi hukum.

Kebebasan itu barang tentu berbenturan dengan kebebasan orang lain, termasuk kebebasan dalam “merasa tersinggung dan sakit hati” atas joke yang dilontarkan pada dirinya. Seorang komedian merasa berhak mengomentari apa pun atau siapa pun. Dan pihak yang dikomentari juga merasa berhak untuk tersinggung.

Kalau sudah begini, terjadilah perseteruan. Ketika klarifikasi dan permintaan maaf tak juga membuat reda, UU ITE jadi senjata andalan. Si komedian akan berhadapan dengan dugaan pelanggaran pasal 27 ayat 3 mengenai pencemaran nama baik dan/atau pasal 28 ayat 2 mengenai ujaran kebencian yang mana masih berkerabat dengan pasal lain dalam KUHP. Atau sekian pasal lainnya. Ancamannya pindana penjara.

Kondisi semakin “mencekam” dengan hadirnya polisi virtual yang berpatroli mengawasi segala akivitas media sosial, termasuk status, termasuk juga komentar. Yang dianggap melanggar, langsung di-DM. Paling ringan ditegur. Paling berat diciduk dan disangkakan dengan pelanggaran UU ITE.

Oleh sebagian kalangan, sejumalah pasal dalam UU ITE dianggap pasal karet lantaran terlalu multitafsir. Terlalu relatif, tidak ada batasan jelas sampai mana sebuah joke dianggap komedi atau telah tergolong penghinaan, penistaan, pencemaran nama baik, atau ujaran kebencian?

Kalau pun diberi batasan SARA, bukankah para komika justru sering kali mengeksplorasi hal ini untuk dijadikan bahan materi joke mereka? Sering kali para komika itu memulai joke mereka dengan “orang Sunda itu…”, “orang Islam itu kalau…pasti...”, “orang-orang anu biasanya…” dan ungkapan lain dengan formula semacam itu.

Di zaman serba hibrida seperti sekarang ini, SARA seharusnya ditafsir ulang. Alih-alih sensitif dan kerap jadi pemantik perseteruan, SARA sudah waktunya dibiasakan menjadi candaan akrab antar suku, agama, ras, dan golongan. Candaan akrab antar warga negara. Tentu dengan cara perlahan dan sopan agar tidak mengejutkan, bikin geger dan malah jadi masalah baru.

Soal memolisikan seseorang adalah hak tiap warganegara. Di sisi lain, berpendapat dan berekspresi termasuk mengkritik dalam bentuk komedi atau bukan, juga adalah hak. Negara seyogianya menjamin hak-hak tersebut. Termasuk hak untuk tertawa dan membuat orang lain tertawa.

Di lain sisi, cara seseorang berkomedi dan menanggapi komedi pada akhirnya adalah pilihan bebas individu. Kedewasaan berkomedi adalah ketika sesuatu dapat ditempatkan pada posisinya. Joke adalah joke. Komedi adalah komedi. Menanggapi komedi dengan panas hati adalah ciri mentahnya kedewasaan. Berkomedi dengan menyinggung nurani boleh jadi ciri miskinnya kreativitas. Dan yang paling penting diingat: lucu itu realtif!

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya