Riuh Capres Menyonsong Pemilu 2024

Riuh Capres Menyonsong Pemilu 2024 25/08/2023 388 view Politik sindonews.com

Atmosfer pemilu 2024 semakin terasa di Indonesia. Suasananya kini kian memanas, baik di kalangan kaum politikus, maupun masyarakat biasa. Saat ini, beberapa tokoh yang digadang-gadangkan akan menjadi calon presiden (capres), yakni Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan mulai gencar mencari pendukung, baik dengan cara menjalin relasi dengan sesama partai, terjun lansung ke masyarakat, maupun melalui tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam masyarakat. Di media-media masa, mereka juga mulai menunjukan kinerja yang telah mereka capai. Mereka juga telah merencanakan hal-hal konkret apa yang akan mereka kerjakan jikalau menjadi seorang pemimpin tertinggi di Indonesia.

Sebagai upaya konkret meningkatkan elektabilitas, langkah ini merupakan cara ampuh untuk menunjukkan eksistensi diri guna membangun suatu kepercayaan di dalam masyarakat. Dengan adanya dukungan yang kuat dari masyarakat, bukan tidak mungkin mereka akan diberikan kepercayaan oleh partainya untuk maju menjadi calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) di pemilu nanti.

Sebagaimana yang telah disepakati oleh KPU bahwa pendaftaran capres dan cawapres akan dibuka dari tanggal 29 Oktober sampai dengan 25 November 2023. Bulan Oktober dan November akan menjadi bulan yang ditunggu-tungu oleh semua kalangan, mengingat beberapa partai masih belum menetukan kepada siapa mereka akan berkoalisi. Bagi capres maupun cawapres yang terpilih nantinya, dukungan dari setiap partai merupakan amunisi yang sangat berharga mengingat partai mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam masyarakat.

Baru-baru ini beberapa partai, seperti Golkar, PAN dan PKB secara resmi telah mendeklarasikan diri untuk mendukung Prabowo Subianto. Hal ini menjadi pertanda dan sinyal bahwa Prabowo bakal menjadi capres yang kuat di pemilu 2024. Walaupun Prabowo belum menunjuk siapa yang akan mendampinginya maju dalam pilpres 2024, namun bisa dipastikan bahwa nama-nama besar seperti Mahfud MD, Muhaimin Iskandar dan Gibran Rakabuming Raka mempunyai peluang yang sangat besar menjadi cawapres di pilpres 2024.

Di lain pihak, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) diduga juga akan merapat ke koalisi pendukung Prabowo Subianto setelah membatalkan dukungan untuk bakal capres PDIP, Ganjar Pranowo. Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs (Indostrategic), Ahmad Khoirul Umam, melihat indikasi dari keputusan PSI sebelum menarik dukungan kepada Ganjar, telah menjalin hubungan dengan Prabowo dan elite Partai Gerindra lainnya. PSI memang mengklaim bahwa kini sedang 'menjomblo' alias tidak memihak ke bakal capres atau koalisi mana pun. Namun, Umam menduga dalih tersebut hanya digunakan untuk membangun narasi legitimasi dukungan pendukung, yang pada akhirnya akan diberikan kepada Prabowo. Dalam hal ini tentu tak mudah memilih bagi partai manapun untuk menyatakan dukungannya kepada capres, mengingat hal tersebut membutuhkan pertimbangan yang matang, terutama dari pihak partai yang bersangkutan.

Menurut data Lembaga Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Rabu, 23 Agustus 2023, pihak SMRC merilis hasil survei yang dilakukan pada 31 Juli-11 Agustus 2023, dengan responden sebanyak 4.260 dari seluruh Indonesia. Hasil survei: Ganjar Pranowo 35,9%, Prabowo Subianto 33,6% dan Anies Baswedan 20,4%, yang diperoleh dari simulasi pilihan tertutup terhadap tiga nama tersebut. Menurut Direktur Riset SMRC Deni Irvani, dalam dua tahun terakhir, Mei 2021 sampai Agustus 2023, dukungan kepada Ganjar naik dari 25,5% menjadi 35,9%, sementara Prabowo stagnan dari 34,1% menjadi 33,6%, sedangkan Anies cenderung turun dari 23,5% menjadi 20,4%. Selain itu, berdasarkan hasil survei Litbang Kompas pada 27 Juli-7 Agustus 2023, bila Jokowi mendukung Prabowo Subianto, akan meningkatkan elektabilitas dia secara signifikan dari 31,3% menjadi 35,1%. Bila Jokowi mendukung Ganjar, hanya sedikit menambah perolehan Ganjar dari 34,1% menjadi 34,9%. Bila Jokowi mendukung Anies, dukungan dia bertambah 1,4% dari 19,2% menjadi 20,6%.

Angka elektabilitas ini akan terus berubah mengingat masih banyak kesempatan bagi para capres untuk bernegosiasi dan berkoalisi dengan sesama partai maupun menunjukkan track positifnya di masyarakat. Dalam hal ini, siapa yang mampu membangun relasi antar sesama partai tentu mempunyai peluang yang lebih besar menangkan pilpres 2024. Begitu pula dalam lingkup masyarakat, siapa yang mampu membangun kepercayaan dan citra yang positif tentu akan mendapat dukungan yang lebih dari masyarakat. Sebaliknya, jika ada salah satu dari capres yang dalam hal ini jatuh dalam suatu problem atau isu yang mengatasnamakan diri mereka tentu hal ini akan mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap mereka, sehingga bisa menurunkan elektabilitas dari setiap capres.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya