Hikmah Poligami Rasulullah: Membantah Kalangan Misionaris dan Orientalis

Santri Ma'had Aly Salafiyyah Syafi'iyyah Sukorejo Situbondo
Hikmah Poligami Rasulullah: Membantah Kalangan Misionaris dan Orientalis 06/04/2023 510 view Agama id.quora.com

Kalangan misionaris dan orientalis menyangka bahwa poligami merupakan suatu inovasi milik Islam dan tidak ada dalam syariat-syariat agama samawi sebelum Islam, asumsi demikian salah besar. Karena faktanya memang tidaklah demikian. Kitab Taurat menegaskan bahwa Nabi Ibrahim juga melakukan poligami dengan istri yang banyak, begitupun Nabi Dawud.

Istri yang dipoligami oleh Nabi Dawud melebihi dari tujuh orang wanita, sementara selir-selirnya sangatlah banyak, sehingga tak bisa untuk dihitung. Kitab taurat juga menegaskan bahwa Nabi Sulaiman melakukan poligami dan memiliki selir yang amat banyak, sebagaimana dikutip oleh Syekh Muhammad Abu Syuhbah, pengarang kitab Sirah Nabawiyyah Ala Dhaui al-Quran wa al-Sunnah. Berikut redaksinya:

وكانت له- سليمان- سبع مئين من النساء السيدات، وثلاث مئين من السراري

Artinya: Dan dia - Sulaiman - memiliki tujuh ratus istri (Sayyidah) dan tiga ratus selir.

Tentu meski demikian adanya, kita sebagai orang berpikiran dewasa harus bijak dalam menyikapinya. Karena mereka merupakan nabi Allah yang setiap perilakunya selalu mendapat bimbingan dari Allah, tidak sebagaimana orang biasa.

Terlepas dari konteks yang melatarbelakangi hal itu, saya hanya ingin mengatakan suatu hal yang amat penting mengenai poligami. Yaitu, poligami bukanlah suatu inovasi kepunyaan Islam, melainkan Islam datang adalah untuk membatasi budaya poligami yang hampir tidak bisa dibendung itu.

Al-Quran dengan tegas menyatakan bahwa poligami sudah ada di zamannya para Nabi sebelum Nabi Muhammad. Dengan demikian, berarti memberikan isyarah tidak langsung bahwa poligami merupakan budaya ummat terdahulu sebelum Islam. Berikut teksnya:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنا لَهُمْ أَزْواجاً وَذُرِّيَّةً وَما كانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتابٌ.

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu). (Q.S. Ar-Ra’d: 13: 38)

Ayat di atas ini turun dengan tujuan untuk membungkam orang- orang Yahudi yang mencemarkan nama baik Rasulullah dengan perkataan “Kami tidak melihat cita-cita pria ini kecuali hanyalah wanita dan pernikahan, seandainya ia memang seorang Nabi, niscaya ia akan sibuk dengan urusan kenabian ditimbang wanita”.

Nah, ayat tersebut hendak mengatakan pada orang Yahudi bahwa kalian tidak pantas untuk bersikap heran, karena nabi kalian juga memiliki banyak istri. Seorang rasul berbeda dengan kalian, ia memiliki keistimewaan yang dinamakan mukjizat. Buktinya, ia bisa mengurusi rumah tangga yang ribet tanpa mengacaukan misi kenabiannya. Kurang lebih begitu.

Mungkin ada juga seseorang dari kalangan muslim yang memiliki asumsi sama seperti misionaris, orientalis, dan Yahudi tersebut. Mulai sekarang mari kita rubah midset kita ini, karena tidak sesuai dengan pengetahuan dan fakta yang ada.

Hikmah Poligami Rasulullah

Untuk menyikapi poligami yang dilakukan oleh Rasulullah ini, kita tidak boleh terburu-buru dalam menyimpulkan dengan pengetahuan yang begitu minim. Karena, tidaklah sedikit seseorang salah menyimpulkan dengan data dan pertimbangan yang begitu memuaskan. Jika dia saja salah, apalagi orang yang tak punya pengetahuan dan pertimbangan yang mapan.

Seseorang yang benar-benar melakukan kajian terhadap poligami Rasulullah ini, yaitu dengan kajian yang tidak diliputi oleh unsur subjektif, kepentingan pribadi, hawa nafsu, dan unsur fanatik tentu akan menemukan Rasulullah sebagai sosok manusia agung dan mulia. Berarti, poligami yang dilakukan oleh rasul memiliki suatu tujuan yang mulia dan hal itu sudah merupakan pilihan yang tepat serta bijak berdasarkan situasi dan kondisinya.

Syekh Muhammad Abu Syuhbah menyebutkan ada tiga hikmah secara umum mengenai poligami yang dilakukan oleh Rasul, yaitu: Pertama, poligami Rasulullah Saw merupakan metode paling efektif untuk dakwah islamiyyah dan risalah kenabian. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa Nabi Muhammad merupakan penutup para Nabi dan Rasul, agama yang dibawa oleh-Nya merupakan penutup eksistensi agama-agama sebelumnya, dan syariatnya mencakup keseluruhan manusia di semua ruang dan waktu.

Untuk menyebarkan dakwah Islam yang meliputi akidah, akhlak, dan tasawwuf membutuhkan kerja serta kinerja yang ekstra. Sehingga poligami merupakan alternatif yang efektif untuk kewajiban seorang nabi ini, yaitu sampainya (tabligh) agama Islam pada seluruh manusia, baik pria ataupun wanita, sudah tua ataupun masih muda.

Tidak akan ada informan paling baik untuk menceritakan tentang kehidupan Nabi Muhammad beserta dengan ajarannya kecuali para istri beliau sendiri, lebih-lebih tentang hal-hal yang berkaitan dengan kekeluargaan. Karena para sahabat tentu merasa sungkan untuk mengetahui perkara itu, ujung-ujungnya yang ada nanti malah dibilang toxic.

Hal ini terbukti tatkala kita membaca kitab-kitab hadits dan sunnah Nabi Saw ternyata cukup banyak hadist yang diriwayatkan oleh para istri beliau, mereka juga banyak memberikan fatwa. Siapa yang tidak tahu bahwa Sayyidah Aisyah meriwayatkan 2210 hadits, cukup banyak bukan.

Kedua, poligami Rasul menjadi bukti yang cukup kuat tentang kebenaran dirinya sebagai seorang Nabi utusan Allah Swt. Karena, kehidupan poligami yang dilakukan olehnya tidaklah mengganggu terhadap tugas yang diampu beliau sebagai rasul, yaitu menyampaikan dan meyebarkan agama Allah Swt. Tentu, hal ini berbeda ceritanya jika yang melakukan poligami bukanlah seorang Rasul.

Bahkan, poligami yang dilakukan Rasul akan dianggap sebagai orang yang berwibawa di masanya, sebagaimana yang berlaku di zaman jahiliyyah.

Ketiga, poligami Rasul memberikan pemahaman pada ummatnya bahwa perilaku Rasul saat di ruang privat tidaklah berbeda dengan perilakunya di ruang publik. Karena seandainya berbeda, maka pastilah para istri Nabi akan memberi tahu hal tersebut pada publik. Namun realitanya, para istri Nabi tidaklah melakukan hal tersebut. Bahkan, Hal ini juga bisa menjadi bukti yang cukup kuat untuk menunjukkan bahwa beliau memang seorang utusan.

Karena, betapa banyak dari para pemimpin, politikus, ataupun orang lainnya sangatlah berbeda antara perilaku yang digunakan di ruang privat dengan perilakunya di ruang publik. Sehingga, hal itu menjadi aib bagi mereka.

Demikianlah beberapa hikmah yang disampaikan oleh Syekh Muhammad Abu Syuhbah terkait poligami Rasulullah, semoga penjelasan ini bisa memberikan manfaat pada kita, di dunia maupun di akhirat. Wallahua’lam.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya