Menghidupkan Literasi Digital pada Anak Selama Masa Pandemi

Menghidupkan Literasi Digital pada Anak Selama Masa Pandemi 19/07/2021 67 view Pendidikan tinyurl.com

Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern dan canggih, hubungan antara manusia dan teknologi pun kian tidak dapat dipisahkan. Hal ini tampak dari kegiatan sehari-hari yang kita lakukan dirumah, ditempat kerja, bahkan ditempat umum. Tangan kita tidak pernah terlepas dari suatu benda persegi panjang yang bernama gadget atau smartphone.

Jika dulu dalam kebutuhan ekonomi atas gadget atau smartphone masuk ke dalam kategori kebutuhan sekunder atau kebutuhan tersier. Kini sepertinya hal itu telah berubah. Setiap rumah pasti memiliki smartphone terlepas dari apapun mereknya. Bahkan anak kecil saja saat ini telah mengenal ponsel pintar tersebut. Ini menunjukkan bahwa tingkatan kebutuhan smartphone telah mengalami pergeseran.

Tahun 2020 tepatnya di bulan Maret, sebuah virus menyerang seluruh negara di dunia. Virus yang hingga saat ini masih meresahkan setiap orang, tidak terkecuali dunia pendidikan. Sebab, semenjak kedatangan virus ini, sistem pendidikan seketika mengalami perubahan. Salah satu yang paling tampak dan dirasakan adalah hilangnya sistem pembelajaran tatap muka yang biasa dilakukan di sekolah.

Saat ini ruang kelas di sekolah tidak lebih dari kumpulan bangku dan meja yang hampa. Tidak ada lagi guru yang biasa berdiri di depan kelas sambil menerangkan materi ajarnya. Tidak ada lagi siswa yang saling tunjuk setiap kali maju presentasi ke depan kelas. Tidak ada lagi perdebatan, tawa, dan games yang biasa memenuhi ruang kelas.

Kini, semua itu telah beralih ke sistem pembelajaran online. Di mana guru dan siswa saling terhubung melalui layar smartphone. Peralihan yang semakin menunjukkan bahwa smartphone memegang peranan penting dalam kehidupan setiap orang. Membanggakan sekaligus meresahkan.

Penerapan sistem pembelajaran secara online atau yang lebih dikenal dengan e-learning bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Sistem pembelajaran ini sebenarnya sering dijadikan bahan penelitian oleh para peneliti dan tenaga pendidik. Terbukti dari banyaknya jurnal dan skripsi tentang e-learning yang dapat kita temukan pada mesin pencarian Google.

Namun, karena sistem pembelajaran ini membutuhkan jaringan internet, maka sistem ini pun tidak bisa langsung diterapkan di sekolah saat kondisi normal. Selain itu, rendahnya minat literasi peserta didik juga menjadi kendala dalam proses penerapan sistem tersebut. Padahal literasi sangatlah penting untuk dimiliki pada era revolusi 4.0 saat ini.

Riset  yang dilakukan oleh Centrel Connecticut State University tahun 2016 menunjukkan bahwa kemampuan membaca, khususnya teks dokumen pada anak-anak Indonesia berada pada sepuluh terbawah. Suatu keadaan yang sangat memprihatinkan dunia pendidikan di tengah kemajuan teknologi yang semakin pesat.

Kurangnya edukasi tentang literasi digital dan rendahnya minat baca menjadi penyebab mengapa peserta didik lebih senang bermain game dan sosial media daripada membaca buku di smartphone mereka. Padahal, berbagai aplikasi literasi telah tersedia secara gratis seperti Ipusnas, Gramedia Digital, Wattpad, Storial, Novel.me, Webtoon, dan sebagainya. Selain itu, adanya anggapan bahwa membaca adalah sesuatu yang membosankan dan hanya dilakukan ketika menjelang ujian saja membuat anak-anak menjadi jauh dari buku.

Oleh sebab itu, perlu dilakukan suatu edukasi tentang literasi digital kepada anak-anak peserta didik. Apalagi saat pendemi seperti ini, peserta didik lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah bersama orang tua mereka. Sehingga orang tua memegang peranan paling utama dalam menumbuhkan minat literasi anak. Berikut langkah-langkah edukasi tentang literasi digital yang dapat dilakukan oleh orang tua kepada anak-anak peserta didiknya selama masa pendemi.

Pertama, orang tua harus menanamkan pemahaman tentang pentingnya membaca kepada anak. Selama ini yang ada dalam pemikiran anak bahwa membaca itu sesuatu yang membosankan dan membuat ngantuk. Sehingga mereka umumnya membaca buku hanya pada saat terdesak, seperti ketika mengerjakan tugas dan saat menjelang ujian sekolah.

Kedua, dengan menyediakan bahan bacaan di smartphone mereka. Salah satu yang membuat anak malas membaca adalah karena tidak ada aplikasi literasi di smartphone mereka. Sehingga orang tua perlu mengunduh aplikasi tersebut. Mungkin awalnya mereka akan mengabaikan aplikasi tersebut, tetapi suatu saat mereka pasti akan membuka aplikasi tersebut, entah itu tidak disengaja ataupun disengaja.

Ketiga, orang tua harus menjadi inspirasi anak dengan cara membaca buku digital di smartphoneOrangtua adalah teladan utama bagi anak. Ketika orang tua membaca buku di smartphone mereka, maka secara tidak langsung mereka telah memberikan contoh yang baik untuk si anak. Anak yang tadi melihat orang tuanya membaca buku di smartphone tersebut akan mulai penasaran tentang buku apa yang dibaca.

Keempat, dengan menceritakan sekilas cerita yang dibaca dari smarphone kepada anak. Ketika anak mulai penasaran dengan buku yang dibaca orang tuanya, orang tua dapat menceritakan sekilas cerita tersebut. Laiknya mendongeng tetapi tidak menceritakan secara utuh. Putus di tengah bagian cerita, sehingga anak akan semakin penasaran dengan isi buku tersebut dan akhirnya akan membaca di aplikasi literasi yang ada pada smartphone mereka.

Kelima, bertanya kepada anak tentang buku yang dibaca dan memintanya untuk menceritakan ulang buku tersebut. Setelah anak penasaran, maka ia akan membaca buku tersebut sendiri di smartphone-nya. Meski demikian bukan berarti orang tua dapat lepas tangan dan beranggapan si anak sudah memiliki minat literasi. Orangtua harus terus memantau perkembangan anak dengan cara bertanya tentang buku yang dibaca dan meminta anak untuk menceritakan ulang buku tersebut. Hal ini akan membuat anak merasa bahagia. Sebab mereka merasa dihargai akan kebiasaan barunya.

Melalui langkah-langkah kecil diatas, diharapkan minat literasi anak akan mengalami peningkatan yang signifikan. Sehingga smartphone yang mereka miliki tidak hanya digunakan untuk bermain game dan melihat sosial media, tetapi juga digunakan untuk menumbuhkan minat literasi.

Ketika seorang anak telah memiliki minat literasi maka imajinasi di dalam otak mereka akan bekerja dengan sempurna. Kedua tangan mereka akan mampu menghasilkan karya yang menakjubkan. Sebab literasi telah melatih kemampuan baca, berpikir, menulis dan berbicara mereka. Sehingga kelak mereka akan mampu untuk bersaing secara global dan bijak dalam menyikapi berbagai informasi yang ada. Pendemi yang saat ini terjadi bukanlah alasan untuk bermalas-malasan, tetapi ini adalah alasan untuk semakin rajin lagi belajar agar kita siap untuk menghadapi zaman digital yang semakin dekat dan nyata.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya