Hegemoni Globalisasi, Kaum Muda dan Pengembalian Citra Identitas Budaya Lokal

Mahasiswa
Hegemoni Globalisasi, Kaum Muda dan Pengembalian Citra Identitas Budaya Lokal 15/04/2020 472 view Budaya maxmanroe.com

Harus diakui, menyoal perkembangan dunia yang ditandai dengan proses globalisasi bukan pilihan yang mudah. Ada kompleksitas persoalan yang mesti disadari. Atas dasar kesadaran itu, maka pertama-tama tulisan ini dibuat bukan untuk mendoktrin para pembaca, tetapi sebuah ‘anjuran’ yang hendak saya tawarkan atas posisi (yang sebaiknya) kaum muda tempati dalam menghadapi sejumlah fenomena runyam seputar globalisasi.

Mengapa kaum muda? Bahasan tentang pemuda pada sisi apapun selalu menarik perhatian. Membicarakan pemuda tidak pernah lepas dari cara pandang pemuda sebagai penerus sebuah generasi dan generasi itu sendri. Beberapa pendapat bahkan menyebutkan bahwa nasib suatu bangsa esok hari sangat bergantung dari kondisi pemuda pada hari ini.

Bangsa yang sejahtera adalah bangsa yang memiliki kaum muda dengan wawasan internasional, nasional dan kultural yang luas, pun sebaliknya, bangsa yang ‘gagal’ adalah percikan substansial dari kaum muda yang ‘sakit’, yang gagal dan yang tidak memiliki wawasan komprehensif tentang dunia yang dipijakinya saat ini.

Apa jadinya sebuah generasi ketika semua yang bergelut di dalamnya cenderung mengarah ke hal-hal yang tidak benar, kehilangan ‘kesadaran’ dalam diri serta kehilangan orientasi hidup? Atau apa jadinya ketika kaum muda kita tidak lagi terdorong ke arah prestasi dan penemuan yang lebih baik, melainkan ke arah konsumsi yang berlebihan, kesenangan, kegairahan, sensitivitas yang berlebihan serta pembentukan diri yang berlebihan atau dalam bahasa Baudrillard ‘hiperbeautifikasi’?

Bentuk-bentuk pertanyaan seperti ini hemat saya dilatarbelakangi oleh fenomena globalisasi yang pada suatu sisi mendatangkan ketakutan berarti sehubungannya dengan posisi kaum muda yang rentan didepak oleh berbagai bentuk pembaruan kultus.

Budaya global adalah konsep yang menjelaskan tentang mendunianya berbagai aspek kebudayaan, yang di dalam ruang global tersebut terjadi proses penyatuan, kesalingberkaitan dan kesalingterhubungan. Masyarakat menjadi semakin disatukan satu sama lainnya melalui berkembangnya budaya konsumer global.

Fukuyama melihat homogenisasi ideologi dan budaya ini sebagai keniscayaan sejarah perkembangan budaya, yang di dalamnya tidak ada lagi pilihan lain yang tersedia dan setiap orang harus betah hidup di dalamnya. Apa yang sesungguhnya terbentuk kini secara global adalah apa yang disebut oleh Mander sebagai percepatan kloning kebudayaan, yakni mengekspresikan nilai-nilai dan imajinasi Barat, yang kemudian menjadi model bagi perubahan kultural hampir di setiap sudut dunia.

Ketika proses kloning kebudayaan tidak bisa dicegah, maka berbagai sumber daya kultural yang sebelumnya di bawah kendali masyarakat lokal dan setiap tempat yang khas di dunia ini kehilangan keunikannya, budayanya dan akhirnya kehilangan ruhnya.

Dampak dari fenomena globalisasi yang kian mendominasi peradaban dunia dewasa ini lambat laun semakin terasa, terutama dalam hubungannya dengan posisi kaum muda dan kebudayaan lokal. Jean Baudrillard mengafirmasi hal ini dengan melandaskan pemikirannya pada pandangan-pandangan McLuhan bahwa perpanjangan tangan dari desa global ke dalam konteks perkembangan mutakhir dunia Barat dewasa ini telah menjelma menjadi desa hiper-realitas, kenyataan yang dilebih-lebihkan.

Perkembangan mutakhir sains dan teknologi di Barat seperti yang diramalkan McLuhan – demikian Baudrillard –, tidak saja dapat memperpanjang badan atau sistem saraf manusia, bahkan lebih fantastis lagi mampu menghasilkan duplikat manusia; mampu menyulap fantasi, halusinasi, ilusi, atau science-fiction menjadi nyata; mampu memproduksi masa lalu dan nostalgia; mampu melipat-lipat dunia, sehingga tak lebih dari sebuah layar kaca, flash disk atau memory bank.

Lebih jauh, Baudrillard melihat bahwa kebudayaan dewasa ini mengikuti satu model produksi yang disebutnya simulasi – penciptaan model-model nyata yang tanpa asal-usul atau realitas; hiper realitas. Melalui model simulasi, manusia dijebak di dalam satu ruang, yang disadarinya sebagai nyata meskipun sesungguhnya semu atau khayalan belaka.

Duplikasi-duplikasi – sebagaimana diistilahkan Baudrillard –, tampak nyata dalam sifat menghilangkan kultus dari setiap pribadi dalam sebuah kebudayaan tertentu, dan dengan segera beralih pada kebudayaan global, kebudayaan yang oleh sebagian orang ‘harus’ dilibati, dicontohi sedemikian mungkin.

Kecendrungan naif baru yang muncul adalah bahwa setiap pribadi seakan-akan terpanggil menuju pola hidup modern yang sebenarnya bertentangan dengan kebudayaan setempat yang memandang itu sebagai sesuatu yang tabu. Tabu yang sejatinya memberikan rambu-rambu mengenai apa yang pantas, kurang pantas dan tak pantas untuk dilihat, dipertontonkan, dilakukan atau direpresentasikan melalui citra-citra dan objek-objek di dalam satu sistem representasi sosial seakan-akan juga mengalami kehilangan daya magicnya.

Inilah yang dinamakan Francis Fukuyama dalam karyanya The End Of History and The Last Man sebagai ‘titik akhir evolusi ideologi umat manusia’, dunia yang berkembang ke arah sistem yang semakin seragam, dengan bentuk yang semakin homogen dan sama (Piliang:2013).
Intinya, poin paling mendasar atas dominasi globalisasi tehadap kebudayaan lokal terletak pada kecendrungan naif manusia (baca: kaum muda) untuk melibatkan diri seutuhnya terhadap budaya baru tanpa melakukan filterisasi yang autentik, tetapi hanya berujung pada penyeragaman tanpa landasan yang akurat.

Pertemuan budaya global, budaya lokal dan posisi kaum muda menjadi sebuah persoalan, ketika struktur dan berbagai bentuk kehidupan sosial di dalamnya mengalami ketidakcocokan, ketidaksetaraan atau ketidakharmonisan satu sama lainnya – ketika pertemuan tersebut mengandung ancaman di dalamnya, bertentangan dengan nilai-nilai kehidupan yang sejak lama dihidupi dalam suatu wilayah tertentu.

Pertentangan-pertentangan yang terjadi, hemat saya bukan saja akibat globalisasi yang dengan terang-terangan merambah ke dalam kebudayaan suatu wilayah masyarakat. Lebih dari itu, pertentangan yang terjadi lebih-lebih karena kebanyakan masyarakat kita tidak lagi terdorong ke arah prestasi dan penemuan yang lebih baik, melainkan ke arah konsumsi yang berlebihan, kesenangan, kegairahan, sensivitas yang berlebihan serta pembentukan diri yang berlebihan atau hiperbeautifikasi.

Dalam artian bahwa situasi peradaban itu semata-mata merombak pola hidup lama ke arah yang baru, yang semu, tanpa tujuan yang jelas. Karena itu, semestinya pertimbangan mendalam dan hati-hati pada tingkat filosofis, strategis maupun praktis haruslah dilakukan oleh setiap unsur budaya-budaya etnis dalam upaya untuk melakukan gerakan separatisme atau pemisahan kultural.

Berbagai pertimbangan berikut haruslah dilakukan: pertama, membiasakan kritik diri. Setiap komponen budaya etnik dan daerah harus terbiasa dengan wacana kritik diri, yaitu melihat secara kritis, sampai sejauh mana misalnya, upaya perjuangan identitas dan nilai-nilai budaya global berguna dan dapat dipertahankan di dalam konteks pergaulan dewasa ini.

Untuk itu diperlukan pembelajaran, khususnya pembelajaran bagaimana kita menjalani hidup tidak sebagai sesuatu yang diterima begitu saja, tetapi melihatnya dengan kritis, apa yang berubah dalam hidup kita? Siapa yang mengonstruksi perubahan itu? Apa skenario perubahannya? Nilai-nilai apa yang kita peroleh dari perubahan itu? Nilai-nilai (tradisi, lokal) apa yang hilang? Ke arah mana perubahan tersebut? Sesuaikah perubahan nilai itu dengan ideologi dan nilai-nilai tradisi budaya kita?

Kedua, menciptakan keterbukaan mental. Di dalam konteks kesalingbergantungan kultural, harus dikembangkan mind-set yang baru yang cukup akomodatif, fleksibel dan dinamis, sehingga di dalamnya budaya-budaya lain (budaya daerah, budaya nasional, bangsa asing dan budaya global) dilihat sebagai mitra di dalam proses pengembangan budaya secara terus-menerus, melalui sebuah arena yang dikatakan Gurnah sebagai cultural game atau language game, bukan sebaliknya, sebagai musuh budaya yang harus diperangi.

Ketiga, menghindari sifat ekstrem. Ekstrem dalam artian tidak menerima budaya global yang baru sebagai penggiring ke arah pengucilan kultus lokal. Budaya global boleh saja diterima tanpa harus menghilangkan karakter dasar dari kebudayaan lokal daerah.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya