Penggila Warung Kuliner Perdesaan Yang Terkecoh

Admin The Columnist
Penggila Warung Kuliner Perdesaan Yang Terkecoh 08/05/2021 614 view Iktirad Iyeng Pinterest.com

Sebuah pesan WhatsApp (WA) menyelinap di gawai saya. Pesan tersebut berisi potongan video TikTok tentang tempat kuliner baru di daerah Jogja. Lokasinya di sebuah desa terpencil, di pinggir sungai berbatu. Joglo-joglo sederhana tampak berjejer di bawah rimbun pepohonan jati, tempat bermacam makanan tradisional seharga lima ribuan dijajakan. Para pengunjung beradu cepat dan berdesakan memilih dan membeli kuliner khas desa.

Beberapa hari kemudian saya berangkat ke sana. Letaknya memang terpencil, bahkan Google Maps pun bingung merekomendasikan jalan terbaik. Saya sampai keblasuk jalan-jalan sempit perdusunan. Berjumpa mbah-mbah yang sedang menjemur gabah. Ia menatap saya, saya pun menatapnya. Seolah ia bertanya kepada saya, "kamu ngapain ke sini?", saya pun bertanya kepadanya "ini serius mbah, ada tempat kuliner ngehits di sini?".

Meski jauh dan terpencil, video TikTok membuat saya mendatangi lokasi kuliner yang baru itu. Dan bukan cuma saya, tapi juga ratusan pengunjung lain. Semua tersihir informasi yang dikirim melalui video TikTok.  

Demikianlah. Kalau dulu informasi tentang warung kuliner beredar dari mulut ke mulut, kini berpindah dari gawai ke gawai. Jika pergerakan informasi model lama itu butuh waktu tahunan untuk membuat sebuah warung makan di desa terpencil menjadi terkenal se-Kabupaten, sekarang Facebook, Instagram, WhatsApp, Telegram, TikTok dan Youtube hanya butuh semalam untuk membuatnya populer sejagat maya. Simsalabim!

Apa yang terlintas dalam benak saya? Tak lain dari tawa sinis para cyberoptimist. Mereka adalah orang-orang yang meyakini bahwa internet memberi dampak positif bagi kehidupan manusia. “Engkau bisa lihatkan, bagaimana internet meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa?”, kira-kira begitu ucapan imajiner mereka yang mendarat di kuping saya. Dan bisa jadi anda termasuk salah satu cyberoptimist yang mengolok-olok saya itu.

Bukan, saya bukan cyberpessimist yang melihat internet hanya membawa dampak buruk bagi kehidupan manusia. Pandangan saya mengenai persoalan tersebut tidaklah hitam-putih. Karena dampak internet sesungguhnya bergantung pada konteks kejadian. Maksud saya, semua ditentukan oleh bagaimana situasi sosial, ekonomi dan politik tempat internet itu digunakan.

Pada sebuah peristiwa barangkali anda-anda yang optimis benar, internet bisa menambah bahagia kehidupan manusia. Tapi pada peristiwa yang lain anda-anda bisa salah lantaran internet ternyata memberi kesedihan. Atau paling tidak, sebagian anda terkecoh dalam melihat sebuah peristiwa, persis ketika melihat peristiwa menjamurnya warung kuliner baru di pelosok-pelosok desa yang beberapa waktu belakangan ini terjadi di banyak tempat.

Kalau saya tak salah hitung, sekurangnya ada lima tempat kuliner baru yang muncul di sekitaran rumah saya, di daerah lereng Gunung Merapi. Warung-warung ini telah menyulap sawah, tebing sungai, pepohonan dan rumpun bambu menjadi resto yang aduhai. Sim salabim, sarang jin, hantu dan segala macam dedemit kini menjelma menjadi tempat pesta manusia penyantap olahan daging, tulang iga, serta jeroan sapi dan kambing.

Berkat internet, orang-orang kota mengetahui keberadaan warung-warung kuliner baru di pelosok perdesaan. Atas jasa media sosial orang-orang kota mengunjungi desa untuk menemukan warung kuliner itu. Dan karena itu semua maka perputaran uang di kota beralih ke desa.

Sampai di sini anda yang cyberoptimist memang benar. Uang yang semula berputar-putar di kota sekarang mulai mengalir ke desa.

Hal inilah yang membuat sebuah ide brilian menari-nari di kepala saya. "Mengapa tidak ikut ambil bagian dari keberkahan ini? Mengapa tidak membuat warung kuliner juga?".

Maka saya pun mulai berhitung. Untuk memulai bisnis kuliner, saya membutuhkan tanah seluas seribu meter persegi. Jika harga per meter perseginya dua juta rupiah, begitu harga pasaran sawah di dusun saya, maka saya butuh modal dua miliar. Ditambah biaya pembangunan, gaji karyawan di tahun pertama, perijinan usaha, keamanan dan lingkungan, total kebutuhannya menjadi tiga miliar.

Mungkin sebagian anda merasa angka itu biasa saja. Tapi jujur, hitung-hitungan ini membuat jantung saya senut-senut.. Mental saya mengkerut.

Tapi saya tak putus asa. Jangan-jangan ada skema lain yang membuat petani di desa ini bisa menjadi pebisnis kuliner. Misalnya, ini misalnya, ada petani yang biasa bertanam padi dan palawija tiba-tiba mendapat ide bisnis kuliner yang teramat seksi sampai-sampai ada orang kota berduit yang tergoda untuk membiayainya.

Maka saya mengobservasi sawah dan tegalan, mungkin saja ada wajah-wajah petani yang tak lagi tampak ngantor di tempat biasa. Delapan tahun menetap di desa ini membuat saya tak kesulitan untuk mengenali mereka. Dan kalau ternyata ada wajah yang hilang dari sawah, mungkin merekalah petani yang telah berhasil menjadi pebisnis kuliner itu. Saya bisa belajar banyak bagaimana cara menggaet hati investor. Tapi bukannya menyusut, jumlah mereka justru bertambah. Kemarin sore saja saya lihat ada petani baru, usianya 20 tahunan, memasang bambu tempat bersandar pohon cabe.

Pikir saya, “jika semua petani masih ke sawah, mustinya ada beberapa di antara mereka yang menjadi owner bisnis kuliner”. Maksudnya, mereka membiayai sendiri warung kuliner di desa ini tanpa investor. Lalu warung kuliner itu mereka serahkan ke seorang manajer lulusan sekolah bisnis, sedangkan mereka tetap ngantor seperti biasa.

Saya pun mencari tahu siapa di antara petani-petani di sini yang telah menjual 200 sapinya untuk mendapatkan modal usaha sebesar tiga miliar. Mengapa sapi? Karena harta kekayaan masyarakat agraris bisa diukur dari jumlah sapi yang dimiliki.

Namun saya tak menemukannya. Satu keluarga petani di belakang rumah saya cuma punya dua ekor sapi dan sampai sekarang masih ada karena suara lenguhannya saban sore masih terdengar sampai sekarang. Keluarga petani yang lain cuma punya 2-6 ekor saja, dan semua masih lengkap, tak ada yang dijual. Artinya tak ada petani yang memiliki 200 ekor sapi, apalagi menukarnya dengan uang tiga miliar.

Tak ada petani yang mendapatkan investor maupun yang menukar sapi-sapinya dengan uang tiga miliar untuk bisnis kuliner. Kesimpulan ini membuat saya sadar, bisnis kuliner di wilayah perdesaan bukanlah bisnisnya masyarakat desa.

Inilah yang saya temukan pada salah satu warung kuliner yang telah dua tahun berdiri di desa kami. Berkat iklan di media sosial, warung itu tumbuh dalam sekejap. Banyak pembeli antri dengan mengendarai mobil mewah yang amat kontras dibanding mobil carry 80-an pengangkut mesin penggiling gabah milik petani di sini. Siapa owner warung kuliner ini? Entahlah, kami tidak kenal. Yang jelas bukan petani dan bukan pula warga kami.

Lalu saya menertawakan kegenitan pikiran orang-orang yang mengira warung kuliner di perdesaan adalah bisnisnya masyarakat desa. Lik siapa itu, salah satu petani berkarisma di dusun saya ini, tak mungkin sempat-sempatnya merancang business plan warung kuliner. Lha saban hari waktunya habis mengurusi pengairan sawah dan palawija. Kalaupun ada bisnis sampingan, itu tak lebih dari terlibat jejaring penggilingan gabah keliling.

Dan bila ada di antara mereka yang punya sapi ratusan ekor, apa iya mereka nekat kasih jual itu sapi untuk mendapatkan modal tiga miliar. Lebih baik mereka menunggu hari raya kurban untuk menjual sapi-sapinya itu karena harga sapi melonjak. Sederhana dan jelas untung. Ketimbang mumet menghitung biaya untuk menggasak sawah dan membabat pepohonan, mendalami algoritma media sosial untuk keperluan iklan, sampai menghitung kerugian bisnisnya.

Jadi internet memang mengubah bisnis kuliner, tapi tidak fundamental. Ia hanya memindahkan lokasi warung kuliner dari kota ke desa, sedangkan aturan mainnya tak berubah. Sehingga orang-orang kota berduit tetaplah menjadi kelompok ekslusif yang mendapatkan keuntungan dari perubahan ini.

Maksud saya, jika anda selama hampir sebulan terakhir gemar berbuka puasa di berbagai warung kuniler baru di perdesaan, ya sah-sah saja. Tak berdosa. Tapi jika lantaran hobi itu lalu merasa menjadi bagian dari gerakan progresif penyejahteraan masyarakat desa, anda sepertinya terlalu genit, deh.. Karena kemungkinan besar anda salah satu cyberoptimist yang sedang terkecoh itu. Huw-huw-huww…***

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya