Habib Rizieq Telah Pulang, Lalu Apa?

Esais
Habib Rizieq Telah Pulang, Lalu Apa? 10/11/2020 646 view Politik Tribun.com

Pagi ini seperti biasa-biasanya. Hal pertama yang saya lakukan setelah terbangun dari tidur adalah memantau media sosial. Karena para elite di negeri ini biasa mengeksekusi hal-hal penting justru ketika semua kita terlelap.

Pengesahan pemenang Pilpres dilakukan diam-diam di tengah malam. UU Omnibus Law juga kurang lebih sama. Dikebut tanpa ampun. Apa lagi? Silahkan diperpanjang cerita tentang hal itu.

Namun kali ini saya menemukan hal berbeda. Kabar penting datang dari pihak oposisi Pemerintah, Babe Haikal Hasan, juru bicara Persaudaran Alumni 212.

"Pesawat Imam Besar Umat Islam Indonesia baru saja melintas negara bagian India... Masih sekitar 4 jam lagi tiba... Mohon doa semua"

Cuitan itu adalah laporan terkini tentang perjalanan Habib Rizieq Syihab (HRS) dalam kepulangannya setelah dua tahun tinggal di Arab Saudi.

Pesan singkat tokoh oposisi ini melengkapi suasana Indonesia seminggu terakhir. Riak-riak pertengkaran Pilkada DKI 2017 lalu merambat muncul bersamaan dengan rencana kepulangan HRS. Yang kalah karena merasa dicurangi dan yang tercekal di luar negeri dan merasa dikerjai kini berhadap-hadapan.

Meme hinaan terhadap HRS bisa dengan mudah ditemukan. Coba saja cek Twitter, FB, atau Instagram.

Isinya tak ada yang lain. Seputaran kasus 'chat mesum' yang tak pernah terbukti itu. Meski kasusnya sendiri sudah ditutup, tapi para Buzzerp pro penguasa terus menaikkannya.

Sedangkan di sisi lain pendukung HRS sebagaimana biasanya. Militansi dan ketakziman mereka jangan pernah diragukan.

Banyak yang datang ke Jakarta hanya untuk menyambut HRS. Sebagian mencarter bus. Ada pula yang menggunakan kapal terbang. Bahkan beberapa akun milik hacker menyebarkan run down acara penyambutan. Wal hasil, jalan tol menuju Bandara Soetta macet parah pagi ini. Tak bisa bergerak.

Beberapa potongan video menunjukkan aparat membantu penumpang yang terjebak. Sebagian diangkut mobil Patwal. Adapun yang lain harus rela berdesakan di truk terbuka.

Dan ketika yang ditunggu-tunggu tiba. Alunan syalawat menggema. Tidak hanya di dalam bandara, di luar juga serupa.

Ini betul-betul melebihi dari penyambutan seorang presiden. Hormat dan takzim melebur ke dalam cinta.

Tapi lepas dari itu semua, sebetulnya adakah kaitannya dengan persoalan riil rakyat? Apakah sosok HRS ini bisa menghadirkan perubahan bagi rakyat?

Seberapa berbahaya HRS terhadap keberlangsungan agenda-agenda pemerintah untuk penyejahteraan rakyat? Sampai-sampai pemerintah merasa takut niat sucinya disabotase. Karena itu pula HRS dimusuhi buzzerp istana dengan sedemikian kejamnya.

Dan begitu pula sebaliknya. Seberapa besar perbaikan kondisi rakyat tertindas yang dapat diwujudkan oleh HRS? Sampai-sampai ribuan orang rela datang ke Jakarta untuk memberi sambutan dan dukungan sedemikian rupa.

Sebenarnya tak ada. Sama sekali tak ada.

HRS tak berbahaya bagi keberlangsungan program penyejahteraan yang dilakukan pemerintah. Pun begitu pula halnya. Ia juga bukan tokoh penting yang selalu ngotot membela rakyat tertindas.

Satu-satunya yang bisa menjelaskan hal ini hanyalah perebutan kekuasaan elite. Benci yang luar biasa kejamnya dan cinta yang sedemikian rupa besarnya terhadap sosok HRS hanyalah soal perpindahan kekuasaan elitis. Tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan riil rakyat.

Saat ini pemerintah sedang terjepit. UU Omnibus Law yang dipaksa untuk disahkan itu melengkapi kekecewaan publik terhadap performa pengelolaan Covid-19. Jika kekecewaan ini tidak dikelola dengan baik, rezim bisa jadi lengser.

Di sisi yang lain, oposisi sedang mendapat angin segar. KAMI kemarin mendeklarasikan hidupnya kembali Partai Masyumi. Amien Rais yang semula mau mendirikan Partai Ummat, dikabarkan bisa batal karena bersiap merapat. Kekuatan politik oposisi semakin menyatu.

Dalam situasi demikianlah HRS pulang ke Indonesia. Bagi pemerintah ini bisa menjadi kabar buruk karena tokoh pemersatu kekuatan oposisi elite telah tiba. Resiko yang harus dikelola semakin besar.

Sedangkan bagi oposisi ini justru menjadi kabar baik karena semua kekuatan yang terpecah semakin mudah disatukan.

Ini sama sekali tidak ada artinya bagi persoalan riil yang dihadapi rakyat di negeri ini. Bahwa ada UU-UU lucu, itu akan tetap jalan. Bahwa ada yang lahan kehidupannya dirampas proyek pembangunan negara, itu akan tetap sama.

Jadi pulang atau tidak pulangnya HRS, tak ada bedanya bagi rakyat. Itu hanya isu elitis. Ini hanyalah balada kaum elite, penguasa dan para hatersnya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya