Korupsi dan Pertumbuhan Ekonomi

Mahasiswa Magister Ilmu Politik Undip
Korupsi dan Pertumbuhan Ekonomi 18/12/2022 107 view Politik Flickr

“It’s Economy, Stupid!” -Bill Clinton

Statement Clinton tersebut dikeluarkan pada saat kampanye pemilihan presiden di Amerika Serikat tahun 1992 melawan George Bush. Statement tersebut juga mengantarkan Bill Clinton memenangi pemilihan presiden.

Ekonomi merupakan sumber dari segala permasalahan. Ibarat sebuah bangunan, ekonomi merupakan pondasi awal, bila pondasinya kuat, bangunan tidak akan mudah dihancurkan. Permasalahan ekonomi juga menyebabkan konflik, menurut John Burton konflik terjadi karena basic human needs atau kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi, semakin sulit manusia memenuhi kebutuhan dasarnya, semakin besar pula kemungkinan terjadi konflik, baik itu konflik horizontal maupun konflik vertikal.

Kebutuhan dasar erat kaitannya dengan ekonomi, kebutuhan dasar bisa terpenuhi jika perekonomian stabil. Walaupun kebutuhan dasar tidak melulu soal yang tersedia secara sosial dan ekonomi, tapi juga kebutuhan dasar bisa bersumber dari lingkungan alam. Dalam beberapa kasus, tidak sedikit negara yang kaya akan sumber daya alam, mengeksploitasi alamnya demi kestabilan ekonomi. Memang agak dilematis bagi negara berkembang yang berjuang untuk pertumbuhan ekonomi, karena pada faktanya sulit untuk menyeimbangkan antara lingkungan (environmental) dan pertumbuhan ekonomi (economics growth). Seperti halnya, salah satu faktor pertumbuhan ekonomi suatu negara bisa berjalan baik jika negara tersebut fokus kepada industri, tapi kondisi lingkungan juga ikut rusak bila terlalu banyak industri-industri berat, dan menjadi masalah apabila masyarakat yang tinggal di sekitar area industri tidak merasakan dampak pertumbuhan ekonomi, justru mereka hanya merasakan dampak pencemaran lingkungan yang diakibatkan limbah industri, dan kondisi tersebut bisa menjadi pemicu konflik.

Menurut penulis, sebelum kita berbicara geopolitics, pengembangan sumber daya manusia agar bisa bersaing di era globalisasi, etika lingkungan, atau bahkan industry 4.0, hal paling fundamental yang harus diselesaikan adalah permasalahan kesenjangan ekonomi. Permasalahan ekonomi atau kemiskinan bisa menjadi pemberat untuk berbagai permasalahan lainnya, karena ekonomi bersinggungan langsung dengan kebutuhan dasar manusia seperti sandang, pangan, dan papan.

Mungkin yang menjadi pertanyaan kita semua, termasuk penulis. Bagaimana cara agar perekonomian negara stabil? Dan gap kesenjangan ekonomi di suatu negara bisa mengecil atau bahkan dihilangkan?

Sebelum kesana, penulis ingin menjelaskan sedikit teori pertumbuhan ekonomi menurut Rostow, ada lima tahap pertumbuhan ekonomi; pertama, tahap masyarakat tradisional (traditional society), pada tahap ini ditandai dengan cara produksi dan cara hidup masyarakat masih primitf, dan dipengaruhi oleh nilai-nilai tradisional. Kedua, tahap prasyarat lepas landas (precondition to take off), tahap di mana masyarakat mulai mempersiapkan diri untuk mencapai pertumbuhan ekonomi secara pesat, biasanya ditandai dengan perubahan kebiasaan masyarakat tradisional, menjadi masyarakat yang menggunakan ilmu pengetahuan untuk berinovasi dengan tujuan meminimalisir biaya produksi. Ketiga, tahap lepas landas (take off), tahap di mana adanya kemajuan pesat dalam inovasi, terbukanya pasar-pasar baru, dan terjadinya resolusi politik. Keempat, tahap menuju kedewasaan (drive to maturity), di mana masyarakat menggunakan teknologi modern pada setiap sektor produksi secara efektif. Kelima, tahap konsumsi tinggi (age of high mass consumption), pada tahap ini masyarakat telah berkembang secara mandiri, dan mulai fokus ke masalah-masalah yang terkait dengan kesejahteraan, bukan lagi ke masalah-masalah produksi.

Berkaca pada teori Rostow tersebut, untuk mencapai tahap terakhir pertumbuhan ekonomi, sangat dibutuhkan penyelenggara negara yang berintegritas sebagai stimulus roda perekonomian negara agar berjalan lancar. Agar tidak mudah disusupi “konglomerat hitam” pada saat membuat kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan golongan tertentu. Menurut penulis, kolaborasi antara birokrat dan konglomerat hitam adalah salah satu penyebab perekonomian stagnan. Ketika praktik-praktik KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) diberantas, secara tidak langsung perekonomian juga berjalan baik.

Banyak literatur yang menjelaskan bahwa korupsi berdampak buruk pada pertumbuhan ekonomi. Citra negara rusak di mata dunia yang mengakibatkan investor tidak ingin berivenstasi ke negara tersebut. Dampak buruk lainnya dari perekonomian negara yang tidak baik misalnya harga barang yang menjadi mahal, rakyat sulit mengakses pendidikan dan layanan kesehatan dan banyak lagi efek domino yang ditimbulkan jika perekonomian suatu negara tidak berjalan baik. Maka dari itu untuk menjawab pertanyaan di atas tadi, salah satu cara agar pertumbuhan ekonomi berjalan lancar yaitu memberantas KKN agar kualitas kelembagaan negara meningkat, dan perekonomian pada suatu negara bisa berjalan dengan baik.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya