Felix Nesi, Luwu Utara dan Orang-orang Yang Mengacuhkan Riset

Alumni Bahasa dan Sastra Inggris, UIN Alauddin Makassar
Felix Nesi, Luwu Utara dan Orang-orang Yang Mengacuhkan Riset 20/08/2020 995 view Lainnya pixabay.com

“Terima kasih Romo Kepala. Terima kasih Romo A. Terima kasih semua pastor di keuskupan Atambua dan di manapun juga di dunia ini. Malam ini saya akan menginap di kantor polisi. Kita sama-sama pendosa, tak ada yang paling benar. Tapi jika kalian, institusi Gereja, sangat sangat lambat (atau hampir tidak pernah?) dalam mengurus pastor yang bermasalah, tetapi sangat cepat dalam mempolisikan orang-orang yang marah, maka kita akan selalu bertemu”.

Sekilas penutup tulisan dari Felix Nesi pada laman Facebooknya (04 Juli 2020) saat dirinya diperiksa dan ditahan di kantor polisi setelah melakukan tindakan memecahkan kaca jendela dengan helm INKnya dan menghamburkan kursi pastoran. Terhadap apa yang dilakukan Felix, spontan mendapat respon dari pelbagai pihak. Armin Bell dalam tulisannya yang dimuat di www.bacapetra.co membagi menjadi tiga bagian atau belahan, mulai dari yang mendukung Felix, yang tidak mendukung Felix hingga yang merasa Felix memperjuangkan sesuatu yang benar tetapi tidak suka caranya.

Sebuah hipotesis lahir, selain tipikal yang tidak mendukung Felix yang tampil dominan. Yang paling dominan adalah tipikal yang setuju terhadap apa yang diperjuangkan Felik akan tetapi tidak menyukai cara yang ditempuh. Secara tersirat, tipikal demikian tentunya berdalih, “mengapa Felix tidak menyelesaikan masalah tersebut secara baik-baik dengan orang-orang di pastoran tanpa harus melakukan tindakan barbar?”

Felix yang Berjuang

Terhadap apa yang dituliskan Felix dalam novelnya merupakan buah dari penelusuran (riset) yang ia dalami sekaligus perhatiannya pada fenomena atau masalah sosial di sekelilingnya yang jarang (bahkan tidak pernah) muncul ke permukaan. Felix dalam berkarya tidak terlepas dari apa yang dibahasakan Okky Madasari dalam buku non fiksi perdananya “Genealogi Sastra Indonesia: Kapitalisme, Islam dan Sastra Perlawanan” bahwa kecintaannya terhadap sastra dan kekagumannya terhadap ilmu sosial merupakan perkara yang mengantarnya ke dalam dunia sastra dan masyarakat. Karya sastra sebagaimana tujuannya adalah merekam peristiwa yang terjadi dalam realitas sosial meskipun novel sebagai salah satu jenis karya sastra condong ke ranah fiksi akan tetapi alur fiksi yang baik adalah tidak melampiaskan kebenaran.

Felix dalam “Orang-Orang Oetimu” sedikit atau banyaknya telah berhasil memadukan dunia riset dan karya sastra. Mengenai polemik yang membuat Felix harus bertindak marah pada pastoran hingga akhirnya dipolisikan, selain yang ia tuliskan dalam postingannya di Facebook, ia juga telah menuliskan masalah tersebut dalam novelnya secara tersirat melalui tokoh Maria, Elisabeth, Agnes, Ira dan Yani.

“Di suatu Desember yang mendung, seorang kawannya, Elisabeth, mencoba menggugurkan kandungannya, mengalami pendarahan dan hampir mati. Sambil menangis Elisabeth bercerita, ia aktif di organisasi orang muda Katolik dan telah lama ditiduri oleh pendamping mereka, seorang romo yang berusia tiga puluhan. Romo itu telah membiayai kuliahnya, memberinya sebuah kartu kredit yang bisa ia pakai bersama adik-adiknya, dan ia tidak kuasa menolak ketika dihampiri. Romo itu berjanji untuk meninggalkan imamat dan menikahinya, tetapi ketika ia mengabarkan kehamilannya, sang romo bilang itu bukan anaknya, dan menuduh ia telah tidur dengan banyak laki-laki. Ia telah mencoba menceritakan itu kepada seorang romo lain, tetapi romo lain itu meminta ia untuk berhenti memfitnah dan datang lagi dengan bukti, sebab orang yang ia bicarakan itu adalah romo pendamping orang muda Katolik yang kesalehannya terkenal sampai ke pulau-pulau”.

“Agar Elisabeth tidak semakin mengutuk dirinya dan merasa sebagai perempuan paling celaka di dunia, beberapa perempuan menceritakan afair yang pernah mereka lakukan dengan pastor. Agnes pernah bertukar rayu dengan Romo Agus; Ira sering menjawab telepon mesum dari Romo Rafael; Romo Binus pernah megap-megap sesudah meminta Yani berjongkok di selangkangannya dan beberapa cerita mesum para romo yang tidak pantas untuk dituliskan”.

“Namun perempuan-perempuan itu tidak bunting dan tidak perlu melakukan aborsi, dan Elisabeth tetap merasa sebagai perempuan paling celaka. Cerita-cerita itu tidak berpengaruh apa-apa kepadanya. Justru yang terpengaruh oleh cerita-cerita itu adalah Maria. Maria menangis berhari-hari dan berhenti percaya kepada Gereja. Ia enggan menginjakkan lagi kakinya di gereja, sebab setiap kali pastor itu sedang mengangkat piala dan mengucap syukur, ia melihat pastor itu sedang megap-megap kenikmatan; melihat Elisabeth yang pucat pasi, Yani yang berjongkok, dan cerita-cerita lainnya.......”. (Hal. 153-155)

Pada kutipan-kutipan di atas, kita bisa saja menjadikan hal demikian sebagai dasar bahwa kisah tersebut dalam “Orang-Orang Oetimu” berangkat dari cerita nyata dan mungkin saja pastoran yang dihampiri oleh Felix dan memecahkan kaca jendelanya adalah permodelannya sekaligus cerita seorang bapak yang diwawancarai oleh Felix saat menggarap novelnya yang disebutkan dalam postingannya di Facebook.

Novel “Orang-Orang Oetimu” terbit pada September 2019 dan Felix ditahan pada Juli 2020 atau bahkan jauh hari sebelum novel tersebut diterbitkan, peristiwa yang tidak senonoh tersebut telah terjadi di pastoran. Akan tetapi, tidak ada bentuk tindak lanjut yang serius dari pihak pastoran atau bahkan pemerintah setempat padahal Felix telah lama mempermasalahkan hal demikian dan bahkan ia menuliskan beberapa hasilnya tentang tindakan di pastoran dalam novelnya. Namun itikad baik tak kunjung hadir baik dari pihak pastoran maupun pemerintah setempat, mungkinkah orang-orang tersebut tidak percaya dengan hasil riset atau memang pura-pura tidak pecaya demi menjaga citra pastoran, institusi agama?

‘Pelita’ untuk Luwu Utara

Selain kisah Felix dan gambaran orang-orang yang diasumsikan tidak mempercayai hasil riset di atas, ada pula kisah yang tidak kalah pentingnya untuk diulas sekaligus sebuah contoh lain tentang orang-orang yang juga dinilai tidak percaya terhadap riset, yakni bencana banjir bandang di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan pada 13 Juli 2020 yang menelan banyak korban jiwa.

Pusat Studi Kebencanaan Universitas Hasanuddin (Unhas) sejak tahun 2017 telah memprediksi banjir bandang di Luwu Utara dan pada tahun 2019, hasil penelitian tersebut diterbitkan dalam Journal of Physics. Penelitian tersebut ditulis oleh Prof. Adi Maulana, Guru Besar Teknik Geologi Unhas dengan judul “Geological Constraints for Disaster Mitigation Model in South Sulawesi”. Melalui hasil penelusurannya, ia juga menuturkan bahwa potensi banjir di Luwu Utara diperparah oleh aktivitas pembukaan lahan untuk perkebunan dan pemukiman yang tidak terkontrol sehingga menyebabkan terjadinya proses erosi yang sangat signifikan.

Gerbang kewaspadaan terkait peristiwa tersebut telah dibuka sejak tahun 2017 melalui hasil penelitian akan tetapi pihak yang bertanggung jawab untuk mengambil langkah preventif dalam hal ini pemerintah setempat justru abai. Dilansir dari Bbc.com, pihak pemerintah setempat membantah hasil penelitian dan menampik tudingan pemerhati lingkungan tentang pembabatan hutan, perluasan kawasan pertambangan dan pembukaan lahan baru di hulu sungai dengan penegasan bahwa banjir bandang yang terjadi di Luwu Utara adalah murni bencana.

Pada segi ini, tentu kita berada pada posisi dilematis tentang kebenaran apakah banjir bandang yang terjadi di Luwu Utara terjadi karena degradasi lingkungan seperti yang digambarkan oleh hasil penelitian atau karena peristiwa tersebut murni bencana. Sedari awal kita ketahui bahwa baik bencana alam, non alam maupun sosial tidak terjadi dengan sendirinya melainkan tidak terlepas dari campur tangan manusia.

Antara kisah Felix dan peristiwa banjir bandang di Luwu Utara, kita tidak bisa menafikan bahwa satu hal yang dapat kita simpulkan atau sekedar mengasumsikan adalah masih ada barisan orang-orang yang tidak mempercayai akan fakta yang ditemukan melalui proses kajian ilmiah berbasis ilmu pengetahuan seperti penelitian sosial. Dua peristiwa di atas juga memberikan pelajaran besar kepada kita, polemik kemanusiaan mampu terjawab oleh kinerja riset. Menggalakkan prosedural riset dalam mengungkap fakta atas setiap masalah yang terjadi di permukaan merupakan bentuk kewajiban yang harus dilakoni oleh pihak-pihak yang memiliki pengaruh penting di sebuah negara, termasuk Indonesia.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya