Curhat Soal Kasus Novel ke Nasruddin Hokyah

Esais
Curhat Soal Kasus Novel ke Nasruddin Hokyah 15/06/2020 1001 view Opini Mingguan kpk.go.id

“Ah, itu hal biasa.”

Nasruddin Hokyah tersenyum kecil seraya mengucapnya. Respons ini muncul tatkala saya menanyakan pendapatnya soal kabar terbaru penegakan hukum di Indonesia yang bikin banyak orang – dan mungkin juga kawanan berang-berang – merasa berang.

Kabar yang saya maksud adalah perkembangan kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan menggunakan air keras. Jaksa Penuntut Umum, Fedrik Adhar, ternyata hanya menuntut kurungan satu tahun terhadap dua polisi yang sekaligus berstatus sebagai terdakwa, Rahmat Kadir dan Ronny Bugis, Kamis (11/6/20).

Dengan alasan tidak terbuktinya dakwaan primer – karena terdakwa inginnya memberi pelajaran dengan menyiram cairan asam sulfat ke badan Novel tetapi malah meleset mengenai wajah – plus keduanya sudah mengakui perbuatannya dan kooperatif dalam persidangan, tuntutan tersebut dirasa jaksa sudah setara dengan cacat permanennya mata kiri penyidik senior KPK itu.

Oh iya satu pertimbangan lagi. Tindakan Rahmat dan Ronny mendapat keringanan dari jaksa karena keduanya telah menunjukkan loyalitasnya dengan mengabdi sebagai anggota Polri selama 10 tahun.

“Wah, mantap! Sedekade saja sudah bisa berbuat seberani itu. Jarang banget lho ada polisi seberprestasi ini,” Nasruddin lalu menopang dagunya.

“Kira-kira ketika mereka mengabdi ke institusinya 20 atau 30 tahun lagi, bakal bikin apa ya? Pasti bakal jauh lebih keren dari ini deh! Yakin!”

Daripada membuang waktu dan energi untuk mengkurasi pendapat para pakar hukum, aktivis, dan selebgram Tanah Air berkomentar seperti di media-media lain – karena bisa dipastikan mayoritasnya akan sinis terhadap penegakan hukum yang pincang ini, saya memang sengaja memilih untuk melakukan wawancara khayali dengan tokoh imajiner bernama Nasruddin Hokyah untuk tulisan TheColumnist ini.

Lagian, saya juga tidak tahu mau menyalurkan amarah dan kekecewaan terhadap ketidakadilan di negeri ini seperti apa lagi.

Oh iya, Nasruddin Hokyah ini konon masih punya hubungan jauh dengan Nasruddin Hoja, tokoh yang lucu nan cerdik di hikayat-hikayat yang berkembang di budaya Arab. Jauhnya sih jauh banget, kira-kira sejauh mimpi kita yang mengidam-idamkan penegakan hukum yang adil di Indonesia lah ya.

Namun, si Hokyah ini versi culasnya Hoja. Kepada saya, ia membagikan pengalamannya kala menjabat sebagai perangkat penegak hukum, yakni hakim. Secangkir kopi yang ia seruput sedikit demi sedikit kala itu mengantar saya ke masa nostalgianya.

Alkisah, ia pernah menangani kasus seseorang yang memperkarakan seekor anjing yang mengencingi sebuah tembok. “Saat itu, saya berhadapan dengan kasus bagaimana cara menyucikan tembok yang najis itu. Ya saya jawab saja, ‘Runtuhkan tembok itu! Lalu bangunlah. Runtuhkan lagi, lalu bangunlah lagi. Pokoknya lakukan sampai tujuh kali seperti halnya tata cara menghilangkan najis anjing di tubuh kita!’”

Sewaktu Nasruddin bilang begitu, muka rakyat jelata itu tampak kebingungan. Nasruddin yang sedang duduk nyaman di kursi empuknya sempat mengira orang tersebut tidak punya biaya untuk melakukan “penyucian” itu.

“Eh ternyata, dia baru bilang kalau tembok yang dikencingi anjing itu adalah tembok di rumah saya sendiri. Ya kalau begitu beda kasus, lah! Masa tembok saya disamakan dengan tembok warga biasa? Akhirnya saya bilang, ‘Oh kalau tembok bangunan saya, hukumnya cukup dibasuh dengan air sedikit saja. Sudah cukup kok itu!’”

Muka orang itu, lanjut Nasruddin, tampak lega dan puas. Dia sendiri juga merasa senang karena masih bisa menetapkan hukum yang sesuai dengan kepentingannya sendiri, bukannya berdasarkan pada keadilan.

“Ya namanya juga mumpung punya kuasa, mas,” ujarnya minta dimaklumi. Saya manggut-manggut sambil serius mentranskrip perkataannya. Untuk tulisan ini.

Tapi ternyata, itu bukan cerita paling mengejutkan yang Nasruddin Hokyah pernah lakukan. “Saya punya cerita lagi yang lebih heboh, mas. Belum saya ceritakan ke siapa-siapa ini. Spesial buat mas dan pembaca The Columnist.”

Saya membetulkan posisi duduk saya dan mulai menatapnya dengan antusias. Kopi Nasruddin tinggal sedikit, tapi cukup untuk memberinya semangat berkisah lagi.

“Pernah ada pejabat yang ngawur: mengkorupsi dana rakyat, dan, sialnya, ketahuan warga. Karena masyarakat sudah skeptis terhadap penegakan hukum di negeri kami, akhirnya pejabat itu dikejar dan mau dihakimi sendiri oleh warga.”

Karena panik, pejabat itu mencoba menyelamatkan dirinya semaksimal mungkin. Apa pun dia lakukan. Pertama, ada seorang warga yang berupaya menangkapnya. Namun, si pejabat langsung membogem orang tersebut sampai gigi-giginya tanggal.

Warga makin marah, si pejabat terus kabur. Kali ini ia berlari memasuki sebuah gang kecil yang kebetulan ada seorang wanita yang sedang hamil tua sedang berjalan dengan sangat hati-hati di depannya. Karena tidak bisa mengontrol lajunya, si pejabat menabrak wanita tersebut. Wanita malang itu terjatuh dan mengalami keguguran seketika.

Melihat itu, emosi warga kian tersulut. Si pejabat pun makin kalut. Ia kemudian masuk ke rumah seorang penjagal hewan. Di sana, ia merebut sebuah golok, mengayun-ayunkannya, lalu memotong ekor sapi kesayangan dan termahal tukang jagal yang ada di sana – dengan harapan warga mulai mengendorkan kegigihannya. Trik itu berhasil memberi kesempatan si pejabat nyeleweng itu untuk menghadap Nasruddin Hokyah, sang hakim daerah setempat.

Setelah pejabat itu diamankan dan warga diminta tenang, Nasruddin membuka pengadilannya. Namun karena ia kenal dekat dengan pejabat itu, Nasruddin malah berpihak dan ingin menyelamatkannya.

“Saya panggil saja warga yang giginya rompal. ‘Kamu, silakan balas pukul pejabat ini. Dengan syarat, gigi yang tanggal harus sama dengan gigi-gigi milikmu yang sudah tanggal dan dengan sekali pukul saja. Tapi jika pembalasanmu tidak sesuai dengan syarat ini, kamu yang akan saya hukum seberat-beratnya. Kalau mau damai, kamu juga harus bayar denda!’” ujarnya.

Warga bergigi rompal itu keder dan memilih menerima hukuman denda saja.

Kini Nasruddin mengalihkan pandangannya ke wanita yang mengalami keguguran. “Tahu enggak kalau ini salahmu sendiri? Kenapa kamu waktu itu lewat di gang sempit itu? Terus kamu sudah tahu hamil kok mau-maunya tinggal di daerah kumuh dan tidak layak begitu? Ya sudah, hukumannya nanti pejabat itu yang akan memberimu janin baru! Kalau kamu menolak, kamu saya denda”

Wanita malang tersebut terpaksa menolak dan membayar denda.

Kini giliran tukang jagal yang disorot. Nasruddin pun mulai membuka mulutnya. “Tukang jagal yang saya banggakan. Sapi tercintamu sekarang tidak punya buntut lagi. Dia cacat. Maka biar imbang, kepalanya harus dipotong sekalian, terus kita masak dan makan ramai-ramai di sini secara cuma-cuma. Kalau tidak mau, kamu bayar denda!”

Seperti yang sudah-sudah, tukang jagal itu menyerah supaya tidak menanggung kerugian yang berlebihan. Si pejabat korup bebas. Nasruddin Hokyah lalu tersenyum bangga seraya berpesan pada saya, “Kan kata Tuhan, kita harus saling membantu. Dia kan teman saya, apa salahnya tho kalau saya bantu? Wong kami sesama tokoh elit, bukan warga biasa.”

Saya mengangguk. Senang juga karena wawancara ini saya rasa sudah cukup untuk dikirimkan ke redaksi TheColumnist. Setelah berterima kasih, saya pun izin pamit meninggalkan Nasruddin Hokyah sendirian dengan kopinya yang telah habis dan kenangannya tentang bangsanya yang kini telah hancur karena penegakan hukumnya amburadul.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya