Eksploitasi Anak Pada Sinetron Suara Hati Istri

PNS BKKBN
Eksploitasi Anak Pada Sinetron Suara Hati Istri 03/06/2021 842 view Lainnya flickr.com

Sinetron yang berjudul Surara Hati Istri yang tayang di Indosiar baru-baru ini sedang mendapat kritik tajam dari pada netizen. Hal ini dikarenakan sinetron Suara Hati Istri memainkan sosok perempuan di bawah umur yang masih berusia 14 tahun sebagai pemerannya. Adalah aktris cilik Lea Ciarachel yang berperan sebagai ‘Zahra’ yang merupakan istri ketiga dalam kisah sinetron tersebut. Sontak saja, kritik terhadap sinetron tersebut datang dari mana saja. Pelibatan anak-anak dalam sinetron Suara Hati Istri tersebut dianggap tidak etis dan tidak pada tempatnya sebab kurang pas dan dianggap melanggar etika serta moral jika seorang anak harus memainkan peran yang layaknya diperankan oleh seorang yang sudah dewasa atau di atas 20 tahunan.

Atas kejadian tersebut Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pun berjanji untuk mengevaluasi sinetron Suara Hati Istri yang melibatkan anak perempuan di bawah umur untuk berperan sebagai istri ketiga. Sesuatu yang dinilai oleh mayarakat luas kurang pas, tidak layak dan juga melanggar etika. Pihak Indosiar pun berjanji akan mengganti pemeran ‘Zahra’ dengan pemain yang lebih dewasa dalam episode-episode berikutnya.

Kita memang sering menjumpai anak-anak dipaksa atau dengan sukarela bekerja pada sektor formal atau informal di dalam masyarakat. Biasanya mereka bekerja didorong oleh faktor ekonomi di dalam keluarga anak tersebut yaitu untuk membantu perekonomian keluarga. Namun yang terjadi pada pemeran ‘Zahra’ dalam sineteron tersebut yang melibatkan anak perempuan di bawah umur untuk bekerja sebagai pemain sinetron sepertinya tidak terkait dengan faktor ekonomi. Namun lebih terkait dengan bakat dan talenta yang dimiliki si anak dalam bermain peran.

Sejatinya melatih anak bekerja secara mandiri terlebih untuk mengembangkan bakat terpendam si anak sejatinya memiliki efek pedagogis yang positif. Tetapi itu semua tentunya harus dilakukan sesuai dengan tugas-tugas perkembangan dan tumbuh kembang anak secara psikologis. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah hal itu tidak boleh membuat anak diekploitasi dari sisi waktu, fisik, sosial ataupun juga psikologis. Artinya meskipun anak dilatih untuk bekerja ataupun mengembangkan bakat dan talentanya namun hal tersebut tidak harus menghilangkan waktu anak-anak untuk belajar di bangku sekolah, bermain bersama dan juga bersosialisasi dengan teman-temannya.

Apa yang terjadi pada pemeran ‘Zahra’ dalam sinetron tersebut tentunya sudah melanggar etika dan moral anak-anak. Anak dalam kasus sineton ‘Zahra’ tidak dalam kapasitas dilatih untuk bekerja atau mengembangkan bakat dan talentanya namun dieksploitasi untuk bekerja demi uang dan popularitas. Ini bisa dipahami karena Zahra menjadi salah satu pemeran utama dalam sinetron tersebut dan memerankan peran yang secara umur belum cukup untuk dia perankan. Seorang anak yang masih berumur 14 tahun memainkan peran sebagai istri ketiga. Sungguh tidak masuk akal. Selain karena umur, perannya sebagai istri ketiga dalam sinetron Suara Hati Istri ini juga dikritik karena dalam adegannya si ‘Zahra’ yang dimainkan oleh anak perempuan yang masih berusia 14 tahun tersebut juga harus beradegan seperti suami-istri. Sungguh sangat disayangkan.

Pelibatan anak dalam cerita senitron yang sejatinya merupakan konsumsi orang dewasa tersebut tentu merugikan si anak itu sendiri. Betapun besar talenta si anak dalam bakat bermain panggung, memainkan peran sebagai isteri ketiga adalah sesuatu yang tak layak, tak etis dan kurang bermoral. Lebih dari itu si anak yang berperan sebagai orang dewasa dalam sinetron ‘Zahra’ bisa jadi mengalami gangguan perkembangan terutama dari sisi psikis, intelektual dan sosialnya karena apa yang ia perankan tidak sesuai dengan tugas-tugas perkembangan di usianya yang masih anak-anak. Harusnya di usia yang masih anak-anak tersebut pemeran dalam sinetron Zahra tersebut masih belajar di bangku sekolah, bermain, bergembira dengan suasana damai bersama anak-anak sebayanya.

Terbongkarnya praktik kurang etis dan tak bermoral dalam sinetron Suara Hati Istri yang melibatkan anak di bawah umur untuk bekerja dan berperan sebagai isteri ketiga juga membuka mata kita semua bahwa praktik pekerja anak bukan saja terjadi di sektor informal seperti anak jalanan atau di dunia pertanian di mana anak-anak terjun membantu orang tuanya bertani menggarap lahan di saawah atau ladang untuk mencukupi kebutuhan hidup karena dorongan faktor ekonomi. Namun juga ternyata pekerja anak sudah masuk ke dunia industri hiburan televisi dengan melibatkan anak bekerja pada peran yang tidak seharusnya ia perankan.

Pelibatan anak dalam sinetron Suara Hati Istri dengan melibatkan anak di bawah umur yang berperan sebagai ‘Zahra’ juga merupakan kontraprodukif terhadap program-program pemerintah terutama dalam upaya penghapusan pernikahan terhadap anak yang hingga saat ini angkanya masih sulit untuk diturunkan. Semoga ke depan tidak ada lagi pelibatan anak-anak untuk bekerja di sektor industri hiburan tanah air yang melanggar hak-hak anak atau pun untuk berperan tidak sesuai dengan tugas-tugas perkembangannya. Kejadian kali ini cukup untuk yang pertama dan terakhir kali.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya