Catatan Redaksi: Karantina Setengah Hati?

Admin The Columnist
Catatan Redaksi: Karantina Setengah Hati? 08/08/2020 639 view Catatan Redaksi The Columnist

Setiap pekan The Columnist menyajikan tulisan dari meja redaksi dengan mengangkat isu publik yang tengah berkembang dan patut diperbincangkan.

Kali ini catatan redaksi ditulis oleh Bung Fajar Ruddin mengenai pengalamannya dalam melakukan protokal karantina di Wisma Atlet. Disampaikan secara  ringan, namun membawa pesan penting khususnya bagi para milenial.

Selamat membaca!

Sekitar dua minggu lalu, tepatnya tanggal 26 Juli 2020, saya tiba di Indonesia melalui penerbangan repatriasi. Pesawat yang saya tumpangi mendarat di bandara Soekarno Hatta pukul 19.00 WIB.

Sebagai WNI yang baru saja kembali dari luar negeri, saya diwajibkan mengikuti karantina di Wisma Atlet, Jakarta selama tiga hari untuk memastikan bahwa saya terbebas dari virus corona.

Proses pendataan dan pemeriksaan kesehatan awal sudah dimulai sejak kami tiba di bandara. Saat itu kami sudah diminta untuk mengisi berbagai macam formulir dan dicek suhu tubuh oleh petugas. Setelah proses tersebut selesai dan bagasi telah kami ambil, pukul 22.30 WIB kami diarahkan menuju bis DAMRI untuk seterusnya dibawa ke wisma.

Sebelum memulai perjalanan, ada arahan dari aparat terkait prosedur karantina yang akan kami jalani, sambil aparat tersebut juga menjajakan kartu sim berisi paket internet 5 GB dengan harga Rp 100.000. Lumayan mahal, tapi ini cukup membantu para penumpang yang tidak punya kartu sim Indonesia.

Ketika aparat sudah turun dan bis sudah jalan, gantian kernet yang menjajakan kartu sim. Selain kartu sim, kernet juga menjual air minum dan meminta tip kepada para penumpang. Tentu tip ini tidak wajib, tapi sebagai orang Timur, kita tau bagaimana segannya jika tidak memberi.

Kami tiba di Wisma Atlet sekitar pukul 23.30 WIB. Walaupun sudah tiba, tapi kami belum bisa langsung masuk wisma. Ada jejeran bis yang sudah mengantri di depan kami. Melihat kondisi itu, kernet dengan sigap berkata, ‘’Bapak/Ibu, kita harus mengantri untuk masuk wisma. Diperkirakan jam tiga dini hari Bapak/Ibu baru bisa masuk. Di luar ada tukang nasi goreng dan bakso. Bagi Bapak/Ibu yang ingin makan, bisa pesan lewat saya karena Bapak/Ibu tidak boleh turun dari bis.”

Dengan waktu tunggu selama itu dan karena didera lapar, sebagian besar dari kami akhirnya memesan makanan lewat Si Kernet. Harga untuk satu porsi bakso Rp 15 ribu, sedangkan nasi goreng dihargai Rp 20 ribu. Harganya lumayan terjangkau, apalagi buat perut yang sedang kelaparan.

Setelah menunggu sekian lama, pukul 03.00 WIB kami baru bisa turun dari bis. Proses pengarahan dan pendataan kurang lebih memakan waktu satu jam sehingga kami baru benar-benar masuk kamar pukul empat subuh.

Kalau ditotal, lamanya waktu sejak pesawat mendarat sampai kami masuk kamar adalah sembilan jam. Tentu sangat melelahkan, apalagi penerbangan kami hari itu juga menghabiskan waktu 12 jam. Kondisi ini tentu tidak baik bagi kesehatan. Lelahnya jiwa dan raga akan membuat seseorang lebih rentan sakit.

Hari-hari Karantina

Satu kamar di wisma bisa diisi antara dua atau tiga orang (tergantung jumlah kasur). Teman satu kamar boleh kita pilih sendiri. Tetapi jika kita tidak punya teman, maka kita akan ditempatkan secara acak bersama penumpang lain.

Perlu diketahui bahwa semua fasilitas di wisma diberikan secara gratis, termasuk makan tiga kali sehari. Namun saat proses pendataan di wisma, petugas memberi tau bahwa kami tidak mendapatkan makan pagi karena kami baru tiba di wisma saat subuh. Meskipun demikian, petugas bilang bahwa kami masih bisa membeli makanan di pedagang yang berjualan di luar pagar wisma.

Karena kelaparan, saya dan dua teman kamar saya pun turun (kami tinggal di lantai 21) untuk membeli sarapan. Hal yang mengherankan adalah, di lingkungan wisma sudah banyak para penghuni yang berkerumun. Ada yang sedang makan pagi, merokok, olahraga, atau sekadar kongko-kongko.

Pembatasan fisik kurang begitu diperhatikan. Suasananya kurang lebih mirip dengan car free day (CFD). Padahal kami semua sedang menjalani karantina dan belum tau apakah semuanya negatif atau tidak. Kalau karantinanya seperti ini, bukan tidak mungkin orang yang negatif malah jadi positif.

Para penghuni wisma sebenarnya tidak bisa keluar masuk sembarangan karena ada aparat yang berjaga. Untuk keluar, mereka harus izin kepada aparat. Tetapi yang saya lihat proses izin keluar itu memang cenderung gampang sehingga banyak orang yang keluar.

Selain makan, layanan yang juga kami dapatkan secara gratis adalah tes swab. Tes dilaksanakan di hari pertama kedatangan kami. Semua petugas tes menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap. Beda dengan petugas di bagian lain yang umumnya hanya memakai masker dan sarung tangan. Mungkin karena tes swab memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi.

Banyak orang bilang prosedur tes swab menyakitkan dan yang saya rasakan memang demikian, walaupun tidak semengerikan cerita orang-orang. Prosedurnya, alat tes swab berbentuk seperti cotton bud panjang dimasukkan ke dalam lubang hidung hingga mencapai bagian belakang hidung. Lalu petugas akan menyapu dan memutar alat swab itu selama beberapa detik.

Hasil tes baru bisa diketahui paling cepat dua hari. Selagi menunggu hasilnya, kami diminta untuk berdiam diri di kamar. Proses menunggu itu menurut saya menjadi salah satu teror mental bagi kami. Pasalnya, tiap hari selalu ada pengumuman evakuasi bagi penghuni yang positif. “Kepada para penghuni wisma, harap tidak keluar kamar karena akan ada evakuasi” bunyi pengumuman tersebut.

Tiap kali ada pengumuman itu, kami khawatir jangan-jangan pintu kamar kami yang diketok. Dalam bayangan saya, akan lebih menenteramkan jika petugas langsung saja menghampiri kamar penghuni yang positif itu, tanpa harus mengumumkannya melalui pengeras suara. Entah apa alasannya petugas mengumumkannya lewat pengeras suara.

Setelah tiga hari, hasil tes keluar. Saya dan dua teman kamar semuanya negatif. Kami boleh pulang ke rumah masing-masing. Sebelum pulang, kami harus melapor lagi ke aparat. Tidak hanya identitas kami yang dicatat, tapi juga supir yang menjemput kami. Alasannya untuk keamanan karena katanya ada penghuni wisma yang pernah diturunkan di tengah jalan oleh supir.

Secara umum, saya mengapresiasi kepedulian pemerintah kepada warganya dengan melaksanakan program karantina ini. Saya juga mengapresiasi kerja keras petugas di wisma atlet selama proses karantina. Namun, hal-hal yang menjadi catatan dalam tulisan ini sekiranya dapat diperhatikan, khususnya terkait kerumunan penghuni wisma di luar. Dengan begitu, harapannya program karantina ini tidak terkesan dijalankan dengan setengah hati.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya