Catatan Redaksi: Hiburan yang Tidak Menghibur

Admin The Columnist
Catatan Redaksi: Hiburan yang Tidak Menghibur 18/07/2020 570 view Catatan Redaksi Pricebook.co.id

Setiap pekan The Columnist menyajikan tulisan dari meja redaksi dengan mengangkat isu publik yang tengah berkembang dan patut diperbincangkan.

Kali ini catatan redaksi ditulis oleh Bung Fajar Ruddin membahas perihal kecanduan gadget di masyarakat kita. Disampaikan secara ringan, namun membawa pesan penting khususnya bagi para milenial.

Selamat membaca!

Begitu mudah manusia zaman sekarang mengakses hiburan. Dengan usap-usap layar hp saja, kita sudah bisa hadir dalam konser musik musisi kenamaan, menyaksikan film favorit, menonton acara lawak, bahkan merasakan sensasi berburu.

Smartphone dan paket data bukan lagi kebutuhan sekunder, apalagi tersier. Keduanya bahkan lebih penting dari makan. Jika makan hanya dilakukan tiga kali sehari, maka intensitas kita melongok smartphone tak bisa terhitung jari. Apapun dan dimanapun kegiatannya, skrol-skrol layar hp selalu menjadi penyerta. Seperti ada rasa lapar yang tak bermuara.

Hasil riset Hootsuite dan agensi marketing sosial We Are Social yang dirilis akhir Januari lalu mengungkap bahwa Indonesia masuk ke dalam 10 besar negara yang paling lama mengakses internet. Durasi akses internet orang Indonesia selama tahun 2019 rata-rata mencapai 7 jam 59 menit. Angka ini berada di atas angka rata-rata penduduk dunia yang “hanya” 6 jam 43 menit dan bisa jadi jauh meningkat selama pandemi corona.

Sayangnya aktivitas kita berselancar di dunia maya sangat jauh dari kata produktif. Dari nyaris 8 jam yang dihabiskan orang Indonesia untuk mengakses internet, 3 jam 26 menitnya digunakan untuk mengakses media sosial, 1 jam 30 menit untuk steraming musik dan 1 jam 23 menit untuk menggunakan konsol game. Otak kita dibanjiri dengan hiburan.

Kondisi otak yang terbiasa mudah mengakses hiburan membuatnya semakin berat untuk diajak “susah”. Dalam neuroscience, dikenal istilah neuroplasticity, yaitu kemampuan otak untuk mengorganisasikan (mengubah) dirinya sendiri, baik struktur maupun fungsinya.

Perubahan tersebut dipengaruhi oleh rangkaian pengalaman yang kontinu, seperti perilaku, pemikiran, perasaan, emosi, bahkan imajinasi sekalipun. Ketika satu pengalaman itu diulang terus-menerus, maka akan terbentuk jaringan sistem saraf yang unik atas pengalaman tersebut (Gumilar, 2016).

Jika demikian, maka tidak heran kalau ada orang yang kuat bermain game berjam-jam, karena setiap hari otaknya dilatih untuk itu. Ketika seseorang sudah berada pada kondisi seperti ini, otak akan semakin sulit diajak “susah”. Coba saja minta anak yang sudah kecanduan game untuk belajar, jangankan berjam-jam, sepuluh menit pun dia tak tahan.

Dan kondisi ini bukan hanya menyasar para pecandu game, tetapi juga pemburu hiburan dari media sosial, youtube, atau platform lain. Semakin seseorang bergantung pada hiburan dunia maya, semakin sulit dirinya menoleransi kesusahan.

Coba tanyakan pada dirimu, apakah kamu mudah marah, uring-uringan, bahkan kompulsif pada hal-hal sepele, seperti koneksi internet yang lambat saat mengakses media sosial? Jika iya, waspadalah, mungkin kamu sudah termasuk pecandu.

Candu internet, medsos atau game sama tidak baiknya dengan candu obat-obatan terlarang. Bedanya, obat-obatan terlarang lebih cepat merusak otak dibanding candu yang lain. Meski demikian, bukan berarti candu internet dapat disepelekan.

Selain struktur dan fungsi yang bisa berubah karena neuroplasticity, otak orang yang selalu mencari hiburan di internet juga akan dibanjiri oleh dopamin, yang dikenal sebagai hormon kebahagiaan. Dopamin ini membuat kita ingin merasakan pengalaman yang serupa berulang-ulang. Karena itu, ketika kita mendapatkan suatu pengalaman yang menghibur, kita ingin terus-menerus merasakannya.

Maka tidak heran dalam sekali duduk, orang bisa menghabiskan berjam-jam dalam bermain game atau menonton video di youtube. Meski pada awalnya kita hanya ingin menonton satu video singkat, tapi sensasi dopamin membuat kita tidak beranjak hingga video kesekian.

Celakanya, semakin kita menuruti keinginan tersebut, semakin kita sulit lepas darinya. Niat awal menggunakan internet untuk mencari hiburan akan berakhir dengan kondisi mental yang semakin merasa kesepian dan tidak bermakna. Tidak hanya itu, hubungan interpersonal kita dengan orang lain juga akan bermasalah dan suasana hati semakin tidak menentu.

Oleh karena itu, kita perlu membatasi hiburan dengan kadar yang wajar. Kalaupun harus mencari kesenangan, carilah kesenangan yang lebih bermakna dengan usaha yang lebih agar jiwa tidak tersandera dengan hal-hal yang artifisial.

Apalagi di situasi pandemi corona seperti sekarang ini. Pilihan aktivitas yang semakin terbatas membuat manusia semakin mudah tergiring untuk lari ke dunia maya. Semoga niat baik untuk menghindari virus yang menyerang fisik tidak membuat kita abai dari virus yang menyerang psikis.  

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya