Belajar dari Transparansi Laporan Keuangan Masjid

PNS BKKBN
Belajar dari Transparansi Laporan Keuangan Masjid 01/05/2023 506 view Lainnya kompasiana.com

Ramadan baru saja berakhir. Aktivitas sholat terawih dan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan meramaikan bulan ramadan terasa sudah makin berkurang. Namun demikian ada yang terasa masih membekas di dalam hati dan pikiran penulis mengenai beberapa aktivitas pada malam-malam ketika ramadan berlangsung di beberapa masjid tempat penulis beraktivitas.

Memang benar penulis tidak datang ke masjid tiap malam bahkan bisa dikatakan jarang untuk melaksanakan aktivitas sholat terawih berjamaah di masjid, hanya beberapa waktu saja. Namun demikian di setiap aktivitas menjelang sholat terawih di beberapa masjid yang secara kebetulan penulis ikut menjalani aktivitas sholat terawih tersebut, penulis merasa kagum terhadap laporan transparansi pendapatan keuangan masjid.

Kebiasaan sehabis sholat isya dan sebelum sholat terawih dimulai, maka dilakukan pengumuman terlebih dahulu mengenai siapa yang akan mengisi kultum sebelum sholat terawih, siapa yang akan menjadi imam dan siapa pula yang akan menjadi bilalnya. Namun di sela-sela pengumuman tersebut, biasanya didahului oleh pengumuman mengenai pendapatan keuangan masjid yang diperoleh pada malam sebelumnya, beserta sisa saldo dan pengeluaran uang kas tersebut digunakan untuk apa saja.

Menurut penulis, pengumuman ini dilakukan dengan sangat terbuka, transparansi dan didengar oleh semua jamaah yang hadir. Para pengurus masjid menyebutkan secara rinci sumber pendapatan keuangan masjid dari siapa saja dan juga digunakan untuk apa saja secara jelas dan gamblang. Bahkan di akhir kultum sebelum sholat terawih dimulai, pendapatan infak masjid melalui kotak keliling para jamaah dihitung secara terbuka. Hal ini dilakukan tiap malam, sehingga bisa dipastikan bahwa laporan keuangan masjid ini bersifat transparan, bisa dipertanggungjawabkan dan tidak ada kebocoran ataupun penyelewengan pendapatan yang dimasukan ke kas keuangan masjid.

Aktivitas laporan keuangan masjid yang dilakukan secara terbuka, ternyata bukan hanya dilakukan pada saat ramadan saja. Aktivitas ini ternyata juga dilakukan pada hari Jumat menjelang dilaksanakannya ibadah sholat Jumat dan hampir dilakukan di semua masjid yang pernah penulis mengikuti ibadah sholat jumat di mana penulis tinggal. Laporannya cukup jelas, cukup runut, cukup transparan dan cukup lengkap. Bahkan di beberapa masjid, terpampang laporan keuangan pada white board atau papan pengumuman lain secara berkala. Ini membuktikan bahwa pengelolaan keuangan masjid walaupun sumber pendapatnya tidak seberapa dan dilaporkan secara sederhana, namun bisa dikatakan bahwa laporan keuangan masjid ini bisa dijadikan contoh untuk lembaga lain yang mengelola keuangan untuk melakukan pelaporan pendapatan dan pengeluaran keuangan secara transparan sehingga jauh dari kata penyelewengan, penggelapan anggaran ataupun korupsi.

Kita menyadari bersama bahwasannya saat ini Indonesia sedang giat-giatnya memerangi musuh bersama yang disebut korupsi. Bahkan dapat dipastikan bahwa setiap pergantian rezim baru, kampanye mengenai pemberantasan korupsi hampir menjadi prioritas siapapun kandidat calon pemimpin baru tersebut, baik di tingkat lokal (kabupaten/kota dan provinsi) maupun di tingkat nasional. Namun kita menyadari bahwa penyakit korupsi ini sulit sekali untuk diberantas, hampir setiap waktu selalu ada pemberitaan yang berkaitan dengan korupsi ini.

Bahkan baru-baru ini, penulis dikejutkan oleh sebuah kasus korupsi yang terjadi di kabupaten termuda, di mana penulis tinggal yaitu di Kabupaten Kepualuan Meranti. Menurut berita salah satu pelaku korupsi ini adalah pucuk pimpinan di kabupaten tersebut yaitu bupati. Anehnya lagi, salah satu modus korupsi yang disangkakan adalah mengenai pemotongan anggaran pada dinas atau Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang ada di Kabupaten Kepulauan Meranti. Intinya adalah setiap pencaiaran anggaran pada dinas atau OPD tersebut, maka sang pelaku korupsi meminta jatah atau setoran. Informasinya bahwa kegiatan korupsi dengan modus ini telah dilakukan beberapa tahun belakangan ini.

Pertanyaan yang kemudian menggelitik penulis, bagaimana dinas atau OPD-OPD yang ada di Kabupaten Kepulauan Meranti tersebut, melakukan pelaporan keuangannya setiap tahunnya atau bahkan setiap bulan atau setiap kegiatan yang telah dilaksanakan? Sudahkah transparan, jujur dan sesuai dengan prinsip-prinsip pertanggungjawaban anggaran seperti yang dilakukan oleh para pengelola keuangan masjid? jika ternyata pendapatan dari sumber keuangan negara telah dilakukan pemotongan atau diminta setor terlebih dahulu oleh si pelaku korupsi maka bisa dipastikan besar atau kecil laporan keuangannya tersebut sebagian atau seluruhnya adalah fiktif dan mendustai rakyat.

Untuk itu, di penghujung tulisan ini penulis berpikir bahwa untuk belajar laporan trasparansi keuangan secara terbuka, akuntabel dan bisa dipertanggungjawabkan mungkin para pengelola keuangan negara baik di pemerintah pusat maupun di daerah bisa belajar trasparansi laporan keuangan masjid di mana mereka tinggal. Jadi untuk belajar bagaimana memerangi korupsi salah satunya adalah dengan melakukan studi banding mengenai pelaporan transparansi keuangan masjid di sekitar kita tinggal, tidak perlu melakukan studi banding jauh-jauh ke luar negeri yang menghabiskan banyak anggaran. Bukan demikian kawan?

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya