Baliho di Tengah Pandemi

PNS BKKBN
Baliho di Tengah Pandemi 18/08/2021 74 view Politik techno.okezone.com

Baliho yang berisi wajah-wajah tak asing dan berukuran besar kini dengan mudah kita temui. Selayaknya sebuah baliho, terpampang pesan yang beraneka ragam, dari pesan kebhinnekaan hingga pesan yang berkaitan dengan kondisi saat ini yaitu seputar pandemi Covid-19.

Tentu saja, selain pesan yang terpampang di dalam baliho tersebut, juga terdapat sebuah foto atau gambar tokoh nasional sekaligus tokoh politik dari partai tertentu yang juga ikut mejeng dalam sebuah baliho dengan ukuran lumayan besar. Bahkan foto-foto di dalam baliho tersebut seperti dibuat semenarik mungkin. Tentu dengan senyum khasnya masing-masing.

Hadirnya sebuah baliho di kota kami dan kota-kota yang lainnya di negeri ini, barang kali bukan sebuah persoalan jika dipasang pada momen yang tepat. Tetapi pemasangan baliho seperti kondisi pada saat sekarang ini menurut penulis tidak pada saat yang tepat atau kurang tepat. Hal ini dikarenakan rakyat sedang berjuang mati-matian untuk bertahan hidup dari bahaya virus corona yang penyebaran belum seutuhnya bisa dikendalikan.

Meskipun pesan yang ditulis di dalam masing-masing baliho tersebut adalah pesan yang baik, namun sukar dibantah bahwa pemasangan baliho-baliho tersebut adalah semacam kampanye awal untuk mengerek nama-nama tokoh politik yang muncul di dalam baliho tersebut demi kepentingan hajatan politik atau pemilu pada tahun 2024.

Sebenarnya sah-sah saja mereka hendak memasang baliho di mana saja, asal mentaati aturan hukum yang berlaku terkait dengan pemasangan baliho. Untuk hal ini penulis yakin mereka tak menyalahi aturan sedikitpun dalam memasang baliho tersebut. Mereka pasti sudah mendapat ijin, membayar uang sewa atau retribusi sesuai dengan regulasi yang ada.

Di negara demokrasi seperti Indonesia, memang kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat dijunjung tinggi dan dilindungi oleh konstitusi. Jadi dapat dipastikan kalau hanya memasang baliho yang mungkin isinya secara tidak langsung adalah untuk memperkenalkan tokoh politik sebuah partai agar elektabilitasnya meningkat, tentu bukan sebuah persoalan besar.

Persoalan yang mungkin muncul dari pemasangan baliho tersebut menurut penulis adalah dari sisi patut atau tidak patutkah baliho tersebut dipasang ketika rakyat masih berjibaku melawan pandemi corona? Apakah tak sebaiknya ditunda dulu pemasangan baliho-baliho tersebut kemudian kita fokus pada penanganan Covid-19 ini terlebih dahulu?

Sebenarnya rakyat kita sudah cerdas. Tak perlu memasang baliho namun turun langsung ke lapangan dan berkontribusi dalam penanganan corona secara langsung akan membuat rakyat jauh lebih merasa gembira, senang, dan diperhatikan. Rakyat merasa dihampiri ketika para tokoh politik itu menyambangi mereka di saat sulit, ikut merasakan susah getirnya kehilangan pekerjaan, pengurangan pendapatan, dan sebagainya di tengah kondisi pandemi yang belum menentu ini.

Banyak cara sebenarnya untuk meningkatkan elektabilitas dengan jalan yang lebih humanis dan tidak menghambur-hamburkan uang seperti memasang baliho tersebut. Memberikan bantuan sosial pada rakyat yang terkena dampak corona ataupun yang masih menjalani isolasi mandiri secara langsung, menggalakkan vaksinasi, memberi bantuan pada anak-anak yang ditinggalkan orang tuanya selama-lamanya karena telah meninggal dunia akibat dari virus corona ini, dan sederet kegiatan lain yang jauh lebih bermanfaat dan humanis dari sisi kemanusiaan di tengah pandemi ini.

Dengan berkontribusi langsung ke tengah-tengah masyarakat yang sedang berjuang melawan virus corona tentunya hal ini akan berdampak lebih baik pada rekam jejak mereka di kemudian hari yang tersimpan di hati masyarakat dari pada menjual wajah manis nan murah senyum melalui baliho-baliho yang terpampang di tempat-tempat yang strategis. Perang baliho yang sudah mulai nampak di tepi-tepi jalan strategis terutama di beberapa kota besar di tengah pandemi Covid-19 yang belum juga usai menandakan bahwa nafsu berburu kekuasaan untuk ambisi 2024 jauh lebih diutamakan oleh beberapa politikus kita ketimbang memikirkan nasib rakyat yang sedang berjuang untuk menang melawan pandemi corona ini.

Sekali lagi, sah-sah saja memasang baliho sebanyak-banyaknya asalkan tidak melanggar aturan atau regulasi yang berlaku. Namun perlu diingat bahwa hasil survei Charta Politika yang dirilis beberapa hari lalu menyebutkan bahwa baliho tidak berkorelasi positif terhadap elektalabilitas para tokoh politik tersebut. Memang benar, mereka makin dikenal. Namun, hal ini tidak berkontribusi terhadap elektabilitasnya bahkan bisa menjadi boomerang atau bisa jadi berakibat pada persepsi negatif terhadap tokoh tersebut di tengah-tengah masyarakat yang makin melek politik ini.

Dan satu hal lagi yang perlu diingat bahwa pemilu 2024 yang akan datang merupakan pemilu yang sebagian besar pemilihnya adalah generasi muda yang bersumber dari generasi millenial dan pasca millennial yang merupakan pemilih rasional. Mereka akan memilih berdasarkan rekam jejak dan kerja nyata sang calon pemimpin bukan memilih pemimpin yang terpampang di baliho.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya