Kegenitan Intelektual Mahasiswa Baru

Pembelajar
Kegenitan Intelektual Mahasiswa Baru 15/04/2022 95 view Budaya kudo.co.id

Apa yang anda rasakan tatkala mendapat “mainan” baru? Senang, bahagia, atau menderita? Tergantung bagaimana anda memperlakukan mainan tersebut tentunya. Kalau mainan itu asyik tentu akan membuat kita senang tapi kalau sebaliknya maka akan membuat kita menderita. Kok bisa menderita? Pada kasus ini, mainanlah yang mempermainan kita, bukan kita yang mengendalikannya. Seperti gadget pintar yang saat ini mengambil alih kehidupan banyak orang. Tanpa disadari casting-nya menjadi terbalik. Kita menjadi budak teknologi. Situasi keadaan yang mempermainkan si aktor (manusia). Akibatnya konsentrasi kita menjadi terdistraksi oleh hadirnya smartphone tersebut.

Kalau anda mencermati kata mainan di atas, kata mainan sengaja saya kasih tanda petik karena manusia sendiri adalah subjek yang pasti berposisi mengendalikan. Semua benda apa pun yang ada di genggaman manusia berposisi seperti “mainan”. Biasanya kalau dapat mainan baru pikiran dan tindakan tersita seluruhnya untuk hal tersebut. Dibela-belain seharian sampai lupa makan hanya untuk mengulik hal baru tersebut. Mainan-mainan yang lama pun sudah tidak sempat dipikirkan lagi. Kata ahli psikologi itulah yang dinamakan dengan euphoria, perasaan senang meluap-luap karena keterikatan rasa dengan hal baru. Hal ini sesuai fitrah manusia yang menginginkan suatu kebaruan proses. Tapi jangan kaget, karena hidup manusia itu dinamis maka hal baru yang saat ini kita senangi suatu saat nanti juga akan digantikan dengan hal baru yang lain yang akan menyita perhatian kita lagi. Yang lama akan digantikan yang baru. Dan siklus tersebut berulang terus-menerus.

Mungkin itulah yang dinamakan sensasi menikmati pada kali pertama. Makan bakso itu enak pas mangkok pertama, begitu mangkok kedua dan seterusnya rasa bakso menjadi tidak enak lagi. Minum es dawet itu seger, tapi kalau lima gelas disuruh habiskan langsung ya eneg juga. Minum kopi itu enak pas di cangkir pertama, setelah cangkir selanjutnya rasa enaknya berkurang. Demikianlah, sesuatu menjadi enak itu karena kadar atau porsi yang pas juga dilakukan pada momentum yang tepat. Psikologi itu juga yang terjadi tatkala seseorang menjadi mahasiswa baru. Perasaan bangga menjadi bagian dari agent of change. Pikiran dipenuhi dengan rangsangan-rangsangan rencana masa depan: mau buat klub diskusi sains, mau buat penelitian yang berkualitas, mau menulis di media ternama, mau menggunakan sebagian besar waktu untuk mencari ilmu lewat berbagai macam literatur. Pertanyaan selanjutnya, berapa persen dari rencana tersebut yang kalian kerjakan adik-adikku? Coba terus terang saja adik-adik saya mahasiswa baru, bukankah hal-hal itu hanya harapan kosong yang tak pernah kalian realisasikan? Ataupun kalau terealisasikan paling hanya sedikit.

Sensasi memegang “mainan baru” memang asyik dan menciptakan euphoria bagi mahasiwa kita. Tapi belajar di kampus bukan hanya tentang teori dan prestasi akademis. Lingkungan baru itu juga tanpa disadari akan mendidik dan merubah mentalmu. Belajar matematika bukanlah untuk menjadi insinyur. Tapi supaya melatih berpikir logis, yaitu teratur. Itu saja kalau dapat. Pokoknya dicari manfaatnya. Jika tidak pintar dalam bidang akademis ya pintar bidang organisasi, seni atau olah raga.

Pada akhirnya meskipun banyak dari rencana-rencana tersebut yang tidak terlaksana. Ya, paling tidak sudah pernah dibayangkan. Sensasi seperti itu memang alamiah, sama seperti euporia dapat mainan baru. Tapi nanti setelah berjalannya waktu akan mulai terbuka matanya. Kenyataan hidup ini lebih susah daripada yang diinginkan. Ya to? Atau kata Albert Camus, hidup ini penuh dengan absurditas. Ada hal-hal yang kita rencanakan ternyata berjalan di luar jalur yang seharusnya. Entah karena kurang kuat dan disiplin dalam mewujudkannya atau karena memang ada faktor lain. Faktor lain itu bisa kita sebut dengan kehendak Tuhan. Faktisitas hidup juga memberikan pengaruh yang berbeda-beda bagi subjek pelakunya. Ada yang karena kehidupan yang berat menjadikan mentalnya tangguh, ada juga yang membuatnya menyerah dan berpasrah tangan tanpa usaha apapun.

Kalau kita amati perasaan kenes menjadi mahasiswa baru ini juga mempengaruhi aktivitas-aktivitas yang lain, misalnya saat kumpul-kumpul dengan orang lain, doi doyan sekali kutip-kutip pernyataan tokoh-tokoh besar. Padahal yang diajak ngomong gak paham, lha wong tidak sekolah. Saya menyaksikan memang ada semacam kegenitan intelektual yang dilakukan mahasiswa-mahasiswa baru kita itu. Mereka kurang bisa membawa diri dalam masyarakat. Dalam contoh di atas si mahasiswa tidak paham koordinat pergaulan. Kalau ngomong, ngobrol dengan orang awam gunakanlah bahasa yang sederhana, cespleng, mudah dipahami. Jangan pakai bahasa yang tinggi. Jika kamu gunakan bahasa yang terlalu tinggi, kamu akan kikuk sendiri, dan nanti rekan bicaramu juga akan mengejekmu. Halah anake wong tani ae kok nggaya?

Kita memang lebih suka bergaya dengan cara yang permukaan saja. Asal ada kata-kata, atau istilah yang intelektuil maka kita merasa sudah menjadi pendekar kebudayaan. Padahal yang terpenting bukanlah pada adanya kata yang ngintelek atau bukan, tapi jalinan makna, kelogisan antar kata, kalimat, dan paragraph-- jika itu dalam sebuah tulisan, misalnya. Atau untuk konteks pergaulan harus paham siapa lawan bicara dan tingkat kecerdasannya.

Dengan lingkungan yang baru (kampus) tentu memberikan status sosial sebagai kaum terpelajar yang terkesan mentereng dengan embel-embel mahasiswa. Oleh sebab itu para mahasiswa ingin menunjukkan diri lewat atribusi kampus. Bahasa-bahasa yang ngintelek, istilah-istilah dalam Bahasa Inggris.

Lewat kecenderungan menggunakan bahasa para akademisi atau ilmuwan-ilmuwan yang sophisticated. Makanya mereka lebih suka pakai kata-kata yang sok intellect alih-alih bahasa yang sederhana. Misalnya : lebih memilih kata “signifikansi” daripada berpengaruh, lebih memilih kata “destinasi” daripada tempat/tujuan, lebih memilih “diversifikasi” daripada penganekaragaman. Untunglah sampai saat ini ungkapan kata-kata itu belum sampai tahap vickynisasi, seperti konspirasi kemakmuran, kristalisasi keringat, ketertarikan absolute, pencahayaan rindu, dan lain-lain. Atau dalam bentuk kelatahan seperti: cocokologi, kagetologi, semapotologi dan sebagainya.

Tapi memang harus diakui, penggunaan kata tersebut jika dialihbahasakan akan kehilangan nuansa maknanya. Mungkin karena keterbatasan kata dalam Bahasa Indonesia yang belum memiliki perbendaharan kata yang sedemikian rupa mewakili makna kata tersebut. Jadi memang kita harus berkompromi untuk menggunakan kata-kata serapan. Bahkan kata yang sama tapi diucapkan dengan nada dan nuansa yang berbeda maka efeknya juga akan berbeda. Itulah yang dinamakan dengan kompleksitas komunikasi.

Seorang mahasiswa sedang melakukan KKN di sebuah desa. Ia merasa telah melakukan proyek pemberdayaan masyarakat. Masyarakat harusnya berterima kasih atas suksesnya program si mahasiswa. Ini juga satu jenis snobisme. Merasa bangga dengan apa yang telah diperbuat. Bahkan ia menyembah hasil pekerjaannya sendiri. Padahal tidak ada dia KKN di sana juga masyarakat tetap OK-OK saja. Masyarakat sudah berdisiplin diri dengan kesadaran masing-masing. Justru si mahasiswalah yang seharusnya berterima kasih kepada warga karena telah diberi kesempatan untuk try out hidup bermasyarakat. Jadi saran saya buat adik-adik mahasiswa. Jangan terlalu lama melayang-layang di angkasa, segera turun dan pijaklah bumi kesadaranmu.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya