Ibnu Sina dan Falsafah Jiwa

Ibnu Sina dan Falsafah Jiwa 10/05/2022 36 view Lainnya potretpendidikan.com

Ibnu Sina dikenal sebagai seorang filsuf muslim dengan berbagai karyanya yang fenomenal. Ia memiliki nama lengkap Abu Ali al-Husein Ibn Abdulah Ibn Sina, dikenal juga sebagai Avicenna di dunia Barat. Lahir di Afsyanah, kota kecil dekat Bukhara, Uzbekistan pada tahun 370 H atau 980 M. Di usia 10 tahun ia telah menghafal Al – Quran. Karena minat pada keilmuan yang tinggi maka tak heran ia pun tertarik membaca tulisan Aristoteles tentang metafisika sebanyak 40 kali karena sulit untuk memahaminya.

Sampai pada suatu sore saat berjalan-jalan dipojok kota ia menemukan seorang pedagang yang menjajakan dagangannya di sebuah kios kecil. Awalnya ia tidak tertarik, namun karena membutuhkan uang bukunya dijual murah yaitu seharga tiga dirham, buku itu pun dibeli Ibnu Sina. Sesampainya di rumah ia bergegas membacanya dan ternyata inilah buku yang bisa melengkapi pemahamannya terhadap buku Metafisika karya Aristoteles. Buku ini berjudul On the Purpose of Metaphisics, karya Al – Farabi yang berisi kritisan atas buku Metafisika Aristoteles.

Tak berhenti di situ, saat usianya genap 16 tahun ia telah mempelajari ilmu kedokteran sekaligus mulai mengobati orang sakit dengan pengetahuannya. Karena keahliannya sebagai seorang dokter, ia dipanggil untuk menyembuhkan seorang raja dari Dinasti Samaniah, Nuh bin Mansur (Nuh II). Berkat keberhasilannya dalam mengobati sang raja ia diberi hadiah berupa akses masuk ke perpustakaan kerajaan. Ia menghabiskan waktunya untuk mempelajari buku-buku yang belum ia ketahui. Berkat hadiah yang ia terima dan giatnya belajar, di usianya ke 18 tahun ia telah menyelesaikan semua bidang ilmu.

Seiring berjalannya waktu munculah orang-orang yang tidak ingin kalah saing dengannya. Hingga pada suatu hari perpustakaan habis terbakar dan Ibnu Sina dituduh sebagai dalang dari semua ini. Diusianya ke 22 tahun ayahnya meninggal dan karena situasi yang memburuk ia pun terpaksa meninggalkan Bukhara. Dalam hidupya Ibnu Sina telah menyumbang sekitar 450 karya dalam berbagai disiplin ilmu seperti filsafat, kedokteran, astronomi, matematika, fisika, metafisika, musik, dan lain lain. Namun saat ini hanya tersisa 240 karya saja. Karyanya yang paling terkenal di bidang kedokteran adalah kitab Al – Qanun Fi At- Ttib, kitab Al – Syifa’ di bidang filsafat, dan kitab fi Aqsami al – ‘Ulumi al – ‘Aqliyyah pada bidang fisika, serta masih banyak lagi. Di bidang kedokteran, kitab Al – Qanun Fi At- Ttib telah menjadi rujukan selama berabad-abad lamanya. Pada tahun 1037 M / 428 H. Ibnu Sina wafat di Hamadan, Iran.

Klasifiksai Jiwa

Menurut Ibnu Sina jiwa merupakan sebuah emanasi (pancaran) dari akal kecerdasan yang aktif. Ibnu Sina membagi jiwa ke dalam tiga hal. Pertama, jiwa tumbuhan yang mampu berkembang biak, makan, dan minum. Kedua, jiwa binatang yang mampu bergerak dan menangkap. Daya gerak seperti berpindah tempat, marah, dan syahwat. Daya tangkap melalui panca indera seperti penciuman, pendengaran, perasa lidah, pengelihatan, perasa tubuh. Ketiga, jiwa manusia yang mampu merenungkan keberadaan dirinya, melakukan kegiatan atau aktivitas berdasar pada pertimbangan rasio.

Ibnu Sina berpandangan bahwa sifat seseorang bergantung dari segi mana ia dominan, jika yang dominan adalah jiwa tumbuhan dan hewan maka ia akan menyerupai binatang, namun jika yang dominan adalah jiwa manusia maka ia akan menyerupai malaikat. Jiwa merupakan gerbang yang dengannya seseorang bisa dibawa ke tempat yang tinggi dan mulia, namun jiwa juga memiliki tempat-tempat kelam yang bisa membawa seseorang ke neraka.

Jiwa manusia merupakan suatu hal tersendiri yang terlepas dengan badan. Teori jiwa Ibnu Sina ini sangat menarik dikomparasikan dengan teori Robert Frager mengenai jiwa. Menurutnya klasifikasi jiwa dibagi menjadi 7 bagian. Diantaranya ada Jiwa mineral, jiwa nabati, jiwa hewani, jiwa pribadi, jiwa insani, jiwa rahasia, dan jiwa maha rahasia.

Jiwa mineral letaknya di tulang belakang bertujuan memberikan dasaran yang kuat, jika tidak seimbang akan berpotensi menjadi sumber kekerasan dan kekacauan. Jiwa nabati (tumbuhan) letaknya di hati, ia membantu kita dalam menjaga kekuatan dan kesehatan tubuh. Jika tidak seimbang maka jiwa nabati akan menjadi sumber kemalasan atau hiperaktif.

Jiwa hewani, letaknya ada di jantung. Jiwa ini erat kaitannya dengan amarah, nafsu birahi, kesenangan, dan kecanduan. Dalam konteks ini jiwa hewani dapat menjadi hal yang positif karena dengannya dorongan berbuat baik atau berhidmat menjadi ada.

Jiwa pribadi, letaknya di otak ia berfungsi sebagai tim kecerdasan yang berkontribusi dalam membantu memahami keadaan lingkungan sekitar dan diri kita sendiri. Jiwa pribadi memiliki ego. Ego yang baik akan mengantarkan pada kepekaan dan tekanan untuk menghargai diri kita, bertanggung jawab, dan menjadi manusia berbudi. Ia juga bisa menjadi peredam guncangan batin. Sementara ego yang negatif akan mengantarkan pada kehancuran disebabkan oleh sifat angkuh, tamak, dan prasangka buruk.

Jiwa insani, letaknya ada di dalam hati spiritual atau qalbu. Jiwa insani memiliki kemampuan belas kasih dan kecerdasan melebihi jiwa nafsani. Jika tidak seimbang maka akan melahirkan sikap belas kasih yang tidak pada tempatnya.

Jiwa rahasia atau sirr, adalah jiwa yang memiliki kesadaran batiniah, kearifan, dan kebebasan penuh. Ia terletak di hati spiritual dalam atau biasa disebut fu’ad. Jiwa ini mengetahui asal dan kembalinya, serta ia memiliki titik poros keseimbangan. Apabila tidak seimbang maka jiwa ini akan cenderung kepada materialisme, yang beranggapan bahwa hal hal yang bersifat materi jauh lebih penting dari pada hal yang bersifat spiritual, begitu pula sebaliknya. Jika kecenderungan ke spiritual sangat fanatik maka bisa menjerumuskan kepada sifat anti dunia dan memisahkan hal yang bersifat spiritual dan material.

Jiwa maha rahasia. Jiwa ini tidak mengenal faktor ketidakseimbangan karena ia merupakan bagian dari Ilahi. Jiwa ini melampaui batasan jiwa dan kemampuan manusia.

Hubungan Jiwa dan Badan

Menurut Ibnu Sina jiwa dan badan bukan merupakan dua substansi yang berbeda, melainkan mereka adalah dua yang berkesinambungan. Jika jiwa tidak ada maka tubuh tidak akan berfungsi, karena jiwa merupakan sumber kehidupan dan pengatur potensi-potensi tubuh. Ibnu Sina sepakat dengan Aristoteles yang mengatakan bahwa jiwa memiliki hubungan erat dengan badan, serta ia adalah bentuk dan substansi.

Namun, ibnu sina tidak sepakat dengan pendapat Aristoteles yang menyatakan bahwa jiwa dan badan memiliki hubungan esensial. Karena apabila badan hancur maka jiwa pun hancur. Ia lebih sepakat dengan pendapat Plato yang mengatakan bahwa jiwa dan badan tidak berhubungan secara esensial, sehingga jiwa bersifat kekal.

Dilanjutkan dengan jiwa yang memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan fisik. Seseorang akan benar-benar sakit saat ia berpikir dirinya sakit, dan seseorang akan sembuh saat dirinya memiliki kemauan yang kuat untuk sembuh. Jiwa yang kuat juga mampu menyakiti dan menyembuhkan jiwa yang lain tanpa sarana. Seperti halnya metode hipnosis dan sugesti. Kebutuhan jiwa integral dalam diri manusia, di mana jiwa tidak akan eksis tanpa badan, dan badan tidak akan bekerja tanpa jiwa.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya