Wajah Manusia Era Digital

Akademisi Psikologi
Wajah Manusia Era Digital 11/05/2020 1660 view Budaya pixabay.com

Ketika abnormalitas demi abnormalitas silih berganti menjejali media belakangan ini, saya jadi bertanya-tanya; akan seperti apa wajah peradaban manusia 10-20 tahun ke depan?

Saya sedang membicarakan youtuber yang belakangan menjadi sasaran sumpah serapah netizen setanah air. Itu lho, yang sedang viral karena nge-prank transpuan dengan kardus berisi batu dan sampah. Ah, saya yakin anda pasti tau.

Sebenarnya bukan kali ini saja para penghamba adsense melakukan hal konyol (rasanya kata “konyol” terlalu sopan). Sebelumnya ada juga youtuber yang menawarkan imbalan 10 juta bagi orang yang mau membatalkan puasanya. Atau pembuat konten yang doyan menghina agama. Tetapi kekonyolan dari para youtuber memang paling sering dilakukan dengan konsep prank.

Dulu saya sempat berpikir prank adalah hal biasa, wajar sebagai sebuah bumbu dalam ikatan pertemanan atau persaudaraan. Saya pun sebagai kakak dulu sering iseng ke adik-adik saya. Maka saya bisa memaklumi jika ada youtuber yang melakukan kejahilan semisal.

Tetapi rupanya prank di youtube terus berevolusi. Bukan lagi kejahilan yang memunculkan romantika ketika dikenang, prank youtuber semakin kemari justru semakin sering menimbulkan kontroversi. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk menggenjot penonton (viewer) dan menarik pelanggan (subscriber) dari sensasi yang mereka buat.

Dan tidak perlu heran kalau para pembuat konten seperti itu memiliki pelanggan setia. Manusia memang akan dikumpulkan dengan yang serupa dengannya, kata Cialdini dalam Influence: Science and Practice.

Tetapi semakin menjamurnya video konyol di youtube mengindikasikan ada yang tidak beres dengan kesehatan mental anak muda zaman sekarang. Saya sebut anak muda karena memang faktanya mayoritas pelakunya berada dalam rentang usia milenial hingga Gen Z. Ketidakberesan itu terjadi karena ada nilai-nilai kemanusiaan yang sengaja dibungkam demi menuruti algoritma platform.

Nilai-nilai moral, empati, tenggang rasa dan sopan santun yang membuat manusia ditinggikan derajatnya di antara makhluk lain lenyap ditelan algoritma. Akibatnya, manusia seperti robot yang pola perilakunya telah terprogram sesuai keinginan vendor. Maka jangan berharap mereka bersedih jika algoritma hanya memerintahkan mereka tertawa atas semua kejadian.

Ah, saya jadi teringat film “I, Robot” yang menampilkan Will Smith sebagai pemeran utamanya. Dikisahkan dalam film tersebut bahwa robot dengan artificial intelligence yang semula diciptakan untuk membantu manusia pada akhirnya malah berbalik melawannya. Saya rasa bentuk penjajahan robot kepada manusia (dalam skala kecil) telah dimulai dengan fenomena youtuber konyol ini.

Normalitas yang Semakin Abnormal

Terlepas dari perilaku youtuber yang kerap membuat konten kontroversial, rasanya semakin hari orang semakin gemar membuat video blog (vlog) untuk diunggah di platform digital. Hal-hal privat seperti aktivitas keluarga kini sudah bebas menjadi konsumsi publik.

Sebagai misal, di Youtube kita mudah sekali menemukan konten bedah rumah. Biasanya pemilik rumah tidak segan menampilkan segala sudut rumahnya, bahkan ke ruangan yang paling privat sekalipun seperti kamar tidur. Padahal dulu ini termasuk hal yang tabu. Saya yakin tiap budaya memiliki ketabuan semisal.

Dalam budaya Betawi misalnya, rumah memiliki tiga lapis “pengamanan” bagi orang asing. Lapis-lapis itu diterapkan berdasarkan kedekatan antara tuan rumah dengan tamu yang berkunjung. Lapis pertama adalah teras di depan rumah. Bagian ini biasanya digunakan untuk menerima segala jenis tamu.

Kemudian lapis kedua adalah bagian dalam rumah. Kebanyakan orang menyebut bagian ini sebagai ruang keluarga. Ruangan ini diperuntukkan bagi tamu yang sudah sangat akrab atau untuk urusan yang sangat penting, seperti acara lamaran misalnya.

Adapun lapis terakhir adalah bagian belakang yang sering difungsikan sebagai dapur atau tempat makan. Tamu yang sudah diajak kemari memiliki kedekatan yang sudah seperti keluarga. Bukan karena perkara makan dan minumnya – karena dimanapun tempat menyambut tamu, akan ada suguhan yang dihidangkan – tetapi lebih pada perkara kedekatan dan trust antara tuan rumah dengan tamu. In-group dengan out-group.

Akan tetapi hari ini lapisan-lapisan tersebut sudah terbongkar. Tuan rumah sendiri yang menjadi relawan pembongkarnya. Massifnya penetrasi internet dalam kehidupan manusia membuat sekat-sekat antara yang privat dan publik menjadi kabur.

Bagi generasi 80 – 90an awal (Gen Y), fenomena ini mempertontonkan dengan gamblang bagaimana transformasi abnormalitas menjadi normalitas. Jika menggunakan teori kurva normal, kita dapat mengamati hal-hal yang sebelumnya ada di kiri kurva telah mendesak masuk ke bagian tengahnya. Sehingga wujud normalitas kini telah berganti rupa.

Maka saya bisa memahami jika Gen Z tidak merasa ada yang keliru dalam acara umbar privasi atau aib di Youtube maupun media lainnya karena mereka tidak melalui masa-masa abnormalitas itu. Justru protes kita terhadap konten tersebut bagi mereka adalah keabnormalan. Kita akan dianggap kaku, kolot, kuno.

Tesis ini ingin saya bawa juga pada kasus konten prank kontroversi seperti yang disinggung di awal tulisan. Seiring semakin banyaknya konten kontroversi di dunia maya, saya rasa akan sangat mungkin konten-konten tersebut juga akan menjadi normalitas baru 10-20 tahun ke depan. Kalau hal itu benar-benar terjadi, maka pilihan kita mungkin cuma dua; beradaptasi mengikuti normalitas baru, atau menjadi abnormal di tengah komunitas.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya