Dunia Akademik yang Berundang-undang dan Beretik

Penulis, Peneliti, Dosen UNIDHA dan Mahasiswa PDIH UNAND
Dunia Akademik yang Berundang-undang dan Beretik 16/01/2024 312 view Pendidikan Kompas.com

" Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan." - Tan Malaka.

Dunia akademik adalah dunia yang penuh dengan tantangan dan persaingan. Para akademisi dituntut untuk menghasilkan karya-karya yang inovatif dan berkualitas, serta untuk bersaing dengan akademisi lain dari seluruh dunia. Dalam kondisi seperti ini, wajar jika muncul berbagai macam tantangan dan hambatan yang dapat menghambat kemajuan dunia akademik.

Salah satu musuh nyata dalam dunia akademik adalah persepsi publik. Persepsi publik terhadap dunia akademik seringkali negatif, menganggap bahwa dunia akademik adalah dunia yang eksklusif dan elitis. Persepsi ini dapat menghambat minat masyarakat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Selain itu, persepsi ini juga dapat membuat para akademisi menjadi enggan untuk berbagi ilmu dengan masyarakat luas.

Musuh nyata lain dalam dunia akademik adalah konflik kepentingan. Konflik kepentingan dapat terjadi dalam berbagai bentuk, seperti konflik antara kepentingan akademisi dengan kepentingan lembaga tempat mereka bekerja, atau konflik antara kepentingan akademisi dengan kepentingan pribadi mereka. Konflik kepentingan dapat menghambat objektivitas penelitian dan pengajaran, dan dapat merusak reputasi dunia akademik.

Selain itu, musuh nyata lainnya dalam dunia akademik adalah kompetisi yang tidak sehat. Persaingan dalam dunia akademik adalah hal yang wajar, namun persaingan yang tidak sehat dapat mengarah pada perilaku-perilaku yang tidak terpuji, seperti plagiarisme, kecurangan, dan pencitraan diri yang berlebihan. Persaingan yang tidak sehat dapat merusak iklim akademik yang sehat dan kondusif untuk belajar dan berkarya.

Selain ketiga musuh nyata tersebut, masih banyak musuh-musuh lain yang dapat menghambat kemajuan dunia akademik. Musuh-musuh tersebut dapat berasal dari dalam maupun dari luar dunia akademik. Oleh karena itu, penting bagi para akademisi untuk menyadari adanya musuh-musuh tersebut dan mengambil langkah-langkah untuk mengatasinya.

"Mengapa dunia ini begini penuh juga manusia busuk? Hanya karena mau hidup lebih sejahtera dari yang lain? Apakah kesejahteraan hidup sama dengan kebusukan buat orang lain? Alangkah sia-sia pendidikan orang tua kalau demikian. Alangkah sia-sia pendidikan agama. Alangkah sia-sia guru dan sekolah-sekolah." - Pramoedya Ananta Toer

Langkah yang dapat diambil untuk mengatasi musuh-musuh dalam dunia akademik; meningkatkan kesadaran publik, masyarakat perlu diberikan pemahaman yang lebih baik tentang dunia akademik, sehingga mereka dapat menghargai pentingnya pendidikan dan penelitian; mengembangkan kode etik, kode etik dapat membantu untuk mencegah terjadinya konflik kepentingan dan persaingan yang tidak sehat; menciptakan iklim akademik yang sehat, iklim akademik yang sehat dapat mendorong para akademisi untuk berkarya secara kreatif dan inovatif. Dengan mengatasi musuh-musuh dalam dunia akademik, kita dapat menciptakan dunia akademik yang lebih baik, yang dapat menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Undang-Undang dan Kode Etik

Undang-Undang Dosen dan kode etik dosen merupakan dua hal yang saling berkaitan. Undang-Undang Dosen mengatur kedudukan, tugas, hak, dan kewajiban dosen, sedangkan kode etik dosen merupakan norma-norma yang harus dipatuhi oleh dosen dalam melaksanakan tugas dan profesinya.

Undang-Undang Dosen Nomor 14 Tahun 2005 menyebutkan bahwa dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dosen memiliki hak dan kewajiban yang diatur dalam undang-undang tersebut. Salah satu hak dosen adalah memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial. Dosen juga berhak mendapatkan promosi dan penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja, memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan intelektual, memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensi, akses sumber belajar, informasi, sarana dan prasarana pembelajaran, serta penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, memiliki kebebasan akademik, mimbar akademik, dan otonomi keilmuan, memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan menentukan kelulusan peserta didik, dan memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi profesi/organisasi profesi keilmuan.

Dosen dapat diberhentikan dengan hormat dari jabatan sebagai dosen karena meninggal dunia, mencapai batas usia pensiun, atas permintaan sendiri, tidak dapat melaksanakan tugas secara terus-menerus selama 12 (dua belas) bulan karena sakit jasmani dan/atau rohani, atau berakhirnya perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama antara dosen dan penyelenggara pendidikan.

Kode etik dosen merupakan seperangkat norma-norma yang mengatur perilaku dosen dalam melaksanakan tugas dan profesinya. Kode etik dosen bertujuan untuk menjaga martabat dan integritas profesi dosen, serta untuk meningkatkan mutu pendidikan. Kode etik dosen secara umum mencakup aspek-aspek berikut; aspek profesionalitas, yaitu dosen harus memiliki kompetensi dan profesionalisme dalam melaksanakan tugas dan profesinya.; aspek moralitas, yaitu dosen harus berperilaku sesuai dengan nilai-nilai moral yang berlaku di masyarakat; aspek sosial, yaitu dosen harus berkontribusi dalam pembangunan masyarakat.

Kode etik dosen dirumuskan oleh organisasi profesi dosen, yaitu Majelis Nasional Pendidikan Tinggi (MNPT). Kode etik dosen yang berlaku saat ini adalah Kode Etik Dosen Indonesia yang ditetapkan oleh MNPT pada tahun 2012. Pelanggaran kode etik dosen dapat dikenai sanksi oleh organisasi profesi dosen atau oleh perguruan tinggi tempat dosen bekerja.

Dengan adanya undang-undang dosen dan kode etik dosen, diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Dosen sebagai tenaga profesional dan ilmuwan memiliki peran penting dalam mencerdaskan bangsa. Oleh karena itu, penting bagi dosen untuk memahami dan mematuhi undang-undang dosen dan kode etik dosen. Namun, realitanya masih banyak dosen yang tidak paham apa itu arti kebebasan akademik itu.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya