Sukses Menjadi Petani Milenial

Sukses Menjadi Petani Milenial 23/04/2022 69 view Ekonomi koleksi pribadi

Fenomena petani milenial terus digaungkan, dengan harapan dapat menumbuhkembangkan minat kaum milenial terhadap dunia pertanian. Tidak selalu berpandangan bahwa pertanian itu terbelakang, kotor, basah dan miskin. Dunia pertanian juga menjanjikan dalam kehidupan era industtri 4.0 sekarang.

Sangatlah tepat kiranya Kick Andy Show 16 April 2022 bertempat di Aula Kampus IPB Bogor menyajikan tema menarik “Jadi Petani itu Keren”. Bertepatan dengan wisuda petani milinial Jawa Barat angkatan 2021 sebanyak 1.249 wisudawan. Menghadirkan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan beberapa lulusan petani milenial.

Menurut Kang Emil, panggilan Ridwan Kamil, saat ini sebagian besar petani di Jawa Barat merupakan petani generasi berumur di atas 40 tahun. Banyak lahan kosong (meski lahan kosong tersebut kebanyakan dikuasai/miliki perusahaan) yang dibiarkan tidak bermanfaat. Penduduk mudanya lebih senang bekerja di perkotaan.

Petani milenial menurut Kang Emil dicirikan dengan pemanfaatan teknologi dalam proses bisnisnya, kemudian berumur di bawah 40 tahun.

Cerita Sang Petani Milenial

Beberapa petani milenial dihadirkan di atas panggung bersama gubernur, mereka merupakan bagian petani milienial yang diwisuda. Pertama, Irfan Rahadian, lulusan S1 Pertanian Universitas Padjajaran, Double Deegre IPB dan perguruan tinggi di Jerman. Irfan merupakan petani kopi dengan luas lahan kebun 3 hektar, luas lahan yang dikuasai awalnya adalah 0,25 hektar merupakan pemberian orang tua. Setelah mengundurkan diri dari dosen pertanian UNPAD tahun 2018, Irfan mengusahakan kopi dan kedai kopi, serta mendirikan kelompok tani usaha kopi. Kelompok tani ini difungsikan sebagai media atau wadah dalam pendampingan bagi petani kopi di sekitarnya. Irfan membagi ilmunya kepada para petani, sesuai keahliannya sebagai dosen pertanian. Kelompok tani tersebut juga berfungsi sebagai off traker (penjamin pembelian atau penyalur) produk kopi yang dihasilkan petani, sehingga hasil panen petani kopi dapat terserap dengan baik dan menguntungkan petani serta terjangkau pembeli.

Lahan pertanian di wilayah tersebut pada awalnya terkendala oleh ketersediaan air, pasca digalakannya perkebunan kopi lambat laun kendala ketersediaan air relatif teratasi. Sebagai konsekuensi proses alami tumbuhnya kopi yang baru berproduksi setelah tanaman berumur sekitar 3 tahun, menjadi tantangan tersendiri bagi petani kopi. Untuk kendala tersebut Irfan dan petani kopi lain menerapkan pola tanam tumpangsari. Saat kopi masih pendek, kopi akan tumpangsari dengan sayuran seperti asparagus, dan jika sudah mulai meninggi maka petani menanam tanaman hortikultura lainnya seperti jahe. Saat ini penghasilan Irfan dengan lahan 3 hektar tersebut mencapai 100 jutaan per bulan.

Petani milenial berikutnya adalah Yuilanti (neng Yuli), lulusan D3 Manajemen Komunikasi dan pernah mengabdi sebagai honorer di Kecamatan Cililin. Menceritakan bahwa sekitar 36 hektar luas tanaman aren ada di sekitar tempat tinggalnya Kabupaten Bandung Barat. Lokasi Kecamatan Cililin yang menurutnya jauh dari rumah, menyebabkan waktu habis untuk perjalanan dan duduk di kantor kecamatan. Neng Yuli merasa perlu waktu untuk eksplorasi diri, dengan potensi buah aren yang tinggi tersebut menginspirasi Neng Yuli untuk menjadikan tanaman aren sebagai objek eksplorasi dirinya, mencari pendapatan dan menciptakan lapangan kerja.

Neng yuli membuka usaha produksi Gula Aren Semut, dengan membentuk kelompok usaha tani pula. Neng Yuli membeli hasil buah aren petani dengan menerapkan sistem “bagi hasil”, sekitar 5 persen dari hasil penjualan gula aren kembali kepada petani. Saat pandemi Neng Yuli penghasilan yang diterima mencapai 10 jutaan tiap minggunya, angka ini lebih rendah jika dibandingkan saat pandemi belum merajalela. Saat sebelum pandemi penghasilan Neng Yuli bisa mencapai 25 jutaan per minggunya.

Untuk mencapai kesuksesan sangat mungkin menghadapi kendala dan masalah, tahun 2019 Neng Yuli mengalami kerugian hampir 80 juta sebagai akibat petani memilih menjual buah aren kepada tengkulak. Dengan selisih harga yang sedikit lebih tinggi, para tengkulak membeli aren dari petani. meski tengkulak hanya sesaat dan kelompok tani berkelanjutan, namun saat itu petani lebih memilih tengkulak. Namun hal tersebut tidak menyurutkan tekad Neng Yuli untuk terus bergelut dengan buah aren, peran pemerintah daerah menjadi salah satu faktor yang mendukung tekadnya, sehingga terus berlanjut usahanya hingga sekarang dan menguntungkan masyarakat sekitarnya.

Selanjutnya Ujang Margana menjadi petani milenial, Ujang merupakan lulusan S1 Administrasi Negara salah satu perguruan tinggi di Bandung. Ujang saat ini berumur 28 tahun tinggal di Cimenyan Kabupaten Bandung, mengelola usaha pertanian bawang merah dan hortikultura lain seperti kentang. Dalam pengelolaan usahanya Ujang membentuk Kelompok Tani Tricipta, dengan luasan yang dikuasai oleh kelompok tani sekitar 35 hektar Bawang Merah. Sedangkan untuk kentangnya, Ujang sudah menjalin kemitraan dengan Indofood sebagai off traker.

Internet of Teknologi (IOT) sudah diterapkan oleh Ujang dan kelompoknya dalam proses budidaya bawang merah dan hortikultura lainnya. Teknologi tersebut dapat memberikan informasi bagaimana kondisi nutrisi tanaman, kondisi suhu, kecepatan angin dan indikator lainnya. Terjamin nutrisi dan termonitornya kondisi lainnya sangat mungkin menjadikan kualitas bawang merah Cimenyan terjaga. Proses penyiraman tanaman juga memanfaatkan teknologi berbasis android. Pemanfaatan teknologi ini merupakan hasil dari pembinaan oleh pemerintah daerah yang terintegrasi dalam program Desa Digital

Dengan luasan 35 hektar, Ujang dan petani bawang merah lainnya mampu menghasilkan 25 ton bawang merah. Kebutuhan bawang merah mengalami kenaikan saat pandemi dibanding sebelumnya. Sebelum pandemi penghasilan minimal Kelompok Tani Tricipta mencapai 1,5 Milyar rupiah. Saat ini penghasilan petani bawang merah Kelompok Tani Tricipta berada pada angka 30 jutaan per bulan. Selain bermitra dengan Indofood, Kelompok Tricipta juga sudah bekerja sama dengan provider media online, lewat media online tersebut mereka mempromosikan produk pertanian kelompoknya.

Yang Bisa Ditiru

Dari penyampaian informasi beberapa wisudawan petani milenialdapat dipelajari beberapa hal. Sebuah usaha pasti akan bertemu dengan masalah dan kendala saat pelaksanaannya. Salah satunya adalah tahapan pasca panennya, “mau dijual ke mana?” seperti Bengkulu, Jawa Barat juga menghadapi masalah tersebut. Diungkapkan oleh Kang Emil kendala tersebut dijawab dengan memunculkannya off taker. Pemerintah daerah mengumpulkan pihak-pihak yang mungkin bisa menjadi pembeli/penyalur produksi pertanian.

Kendala lainnya masih di tahap pasca panen adalah promosi, rendahnya kemampuan promosi dari diri petani sangat mungkin menjadi pemicu terjualnya produk pertanian tidak maksimal. Untuk itu perlu kesediaannya kepala daerah memanfaatkan medsos pribadi miliknya sebagai media promosi. Medsos Kang Emil dengan 15 juta followersnya sangat potensi untuk media promosi, sehingga setelah produk pertanian di”luncurkan” dalam medsos pribadi Kang Emil, keesaokan harinya “kerepotan” memenuhinya. Hal tersebut sangat mungkin diterapkan di Provinsi Bengkulu, medsos pribadi para pimpinan/kepala daerah dimanfaatkan untuk promosi produk pertanian petani Bengkulu.

Penerapan teknologi yang diterapkan oleh petani milenia Jawa Barat sangat mungkin dapat diterapkan pula di Bumi Rafflesia. Pembinaan pemanfaat teknologi dapat terintegrasi dengan program pemerintah daerah lain yang mungkin. Seperti program desa digital dapat diintegrasikan dengan pembinaan, karena sama-sama memanfaatkan teknlogi.

Regulasi dari pemerintah daerah harus mampu menyesuaikan yang dibutuhkan oleh petani. pada waktu yang sama, sangat mungkin petani memerlukan kebutuhan yang berbeda. Saat permodalan yang dibutuhkan bisa dilakukan regulasi bersama lembaga keuangan daerah (BUMD). Pemenuhan kebutuhan benih dan pupuk harus tepat waktu dan tepat tempat. Dengan kata lain regulasi yang dilahirkan oleh pemerintah daerah harus bersifat adaptif. Regulasi yang mampu menyesuaikan kondisi petani dalam penerapannya.

Dengan regulasi yang adaptif, teknologi tepat guna dan responsifnya para pimpinan daerah dalam promosi produk pertanian diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan kemampuan daerah dalam menjaga ketahanan pangannya.

Keberhasilan petani milenial akan membangkitkan sektor pertanian dalam perekonomian. Serta dapat menjadi daya tarik bagi penduduk milenial lainnya. Petani milenial, tinggal di desa, rejeki kota dan bisnis mendunia.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya