Stres Digital Manifestasi Sindrom Media Sosial Di Kalangan Remaja

Mahasiswa Sanata Dharma
Stres Digital Manifestasi Sindrom Media Sosial Di Kalangan Remaja 11/05/2022 23 view Pendidikan neldatianna.blogspot.com

Di era modern yang serba cepat ini, timbul aneka persoalan dan patologi entah yang berhubungan dengan keadaan jasmani maupun psikologis. Tanpa kita sadari terutama dengan mekanisme dunia digital yang hampir menyentuh setiap sektor kehidupan kita, selalu ada efek samping yang turut menyertainya. Berbagai macam persoalan baik yang menyangkut realitas praktis maupun realitas digital menimbulkan paradoks terhadap kesehatan kita, terutama kesehatan mental.

Salah satu penyakit mental yang kerap terjadi adalah stress. Dilansir dari situs Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) mendefinisikan stress sebagai reaksi seseorang baik secara fisik maupun emosional (mental/psikis) apa bila ada perubahan dari lingkungan yang mengharuskan seseorang menyesuaikan diri.

Stres pada hakikatnya adalah reaksi alamiah dalam kehidupan sebagai manifestasi terhadap realitas ataupun persoalan/pengalaman yang dialami seseorang, tetapi apabila berat dan berlangsung lama dapat merusak kesehatan. Reaksi setiap orang terhadap stress diwujudkan dengan cara yang berbeda-beda. Meskipun stres dapat membantu menjadi lebih waspada dan antisipasi ketika dibutuhkan, namun dapat juga menyebabkan gangguan emosional dan fisik.

Berangkat dari realitas saat ini, yang mana hampir seluruh aktivitas manusia bersentuhan langsung dengan penggunaan teknologi seperti gawai dan aneka perangkat lunak berbasis daring tanpa disadari terkadang membuat kita mudah stress.

Ketika melihat halaman profil seseorang yang kita kenal ataupun tidak, menyimak time line dan bookmark link yang membingungkan, serta scroll beragam video di media sosial maupun aplikasi tertentu terkadang membuat kita tidak nyaman, terutama jika pekerjaan kita berhubungan dengan dunia coding atau pemrograman tentu akan semakin merusak mood dan mental kita jika dilakukan secara berlebihan.

Media Sosial : Curse atau Bless?

Tak bisa menafikan media sosial bak pedang bermata dua, jika dimanfaatkan sesuai koridor penggunaanya akan memberikan dampak positif bagi usernya, sebaliknya jika disalahgunakan tentu akan menusuk sang pengguna pedangnya, semua bergantung seberapa sadar seseorang memahami literasi manfaatnya. Hal tersebut juga berkaitan dengan penyakit stress yang saat ini merebak di kalangan remaja hingga orang dewasa.

Dikutip dari survei 2018 Pew Research Center platform media sosial paling populer di kalangan remaja adalah YouTube digunakan oleh 85 persen remaja, Instagram sebanyak 72 persen dan SnapChat sebanyak 69 persen. Sementara itu, menurut laporan 2018 yang dikeluarkan oleh GlobalWebIndex, orang berusia 16–24 tahun menghabiskan rata-rata tiga jam menggunakan media sosial setiap hari.

Kemudian Penelitian yang dilaporkan dalam jurnal JAMA Psychiatry menemukan bahwa remaja yang menggunakan media sosial lebih dari tiga jam per hari berisiko tinggi terhadap masalah kesehatan mental terutama masalah internalisasi alias citra diri.

Media sosial hakikatnya berkontribusi signifikan pada anak-anak dan remaja, secara tidak langsung media sosial mengajarkan keterampilan sosial, memperkokoh relasi serta sebagai wahana bermain secara digital. Namun, penggunaan platform media sosial yang dilakukan secara berlebihan tentu akan berdampak negatif, terutama pada kesehatan mental dan kesejahteraan pengguna muda.

Dilansir dari situs halodoc menyebutkan bahwa di media sosial remaja juga mengalami perlakuan buruk. Survei Pew Research Center tahun 2018 tentang remaja Amerika Serikat (AS), menunjukkan bahwa satu dari enam remaja telah mengalami setidaknya satu dari enam bentuk perilaku penganiayaan online mulai dari panggilan nama (42 persen), menyebarkan rumor palsu (32 persen), menerima gambar eksplisit yang tidak diminta (25 persen) dan mendapatkan ancaman fisik (16 persen).

Hal yang lebih membahayakan adalah ketika situasi semacam ini dipahami sebagai suatu kewajaran atau hal yang lumrah terjadi oleh remaja ketika membangun relasi di media sosial, terutama jika dibarengi dengan minimnya literasi dan pemahaman kontekstual terhadap dampak buruk dari penggunaan media sosial secara berlebihan.

Alasan lain mengapa sosial media bisa menimbulkan gangguan mental terutama stress karena sosial media yang dikelola orang-orang yang mudah merasa tidak nyaman. Hal itu didukung juga kemudahan oleh beberapa fitur sosial media yang memungkinkan kita untuk menandai seseorang pada suatu foto tanpa persetujuan.

Jika aktivitas tersebut dilakukan tanpa persetujuan hal ini sangat sulit diungkapkan oleh orang tersebut. Akhirnya karena terus menumpuk rasa tidak nyaman dan mengalami depresi serta harus melewati proses pemulihan dalam pengelolaan kehidupan sosialnya.

Ketersediaan akses platform media sosial dan layananan informasi yang tak hanya datang dari para jurnalis, memungkinkan semua orang dapat berbagi informasi satu sama lain. Konsekuensi buruk yang mungkin timbul dari realitas semacam ini adalah kaburnya esensi dan substansi dari informasi. Orang terutama kaum muda tidak lagi memperhatikan kualifikasi informasi yang mungkin saya sudah disetel oleh oknum-oknum tertentu untuk menimbulkan semacam kecemasan. Hal ini akan berdampak buruk bagi kaum muda dan remaja terutama yang minim literasi sehingga gangguan mental khususnya stress dapat terjadi.

Kiat-Kiat Mengurangi Stress

Gangguan mental pada galibnya tidak saja disebabkan oleh persoalan yang timbul dalam realitas sosial di dunia nyata, tetapi realitas virtual melalui bingkisan berbagai macam platform media sosial juga dapat mengakibatkan gangguan mental terutama stress di kalangan remaja dan kaum muda.

Tsunami informasi dan kebebasan akses beraneka platform media sosial di satu sisi membuka cakrawala berpikir dan tumbuhnya literasi terhadap nilai-nilai pedagogik. Namun persoalannya adalah tak semua platform di media sosial menyediakan informasi yang selayaknya dapat dikonsumsi untuk kepentingan literasi dan pedagogik, melainkan timbulnya gangguan mental khususnya stress terutama di kalangan remaja dan kaum muda yang rentan didikte oleh arus informasi yang beraneka ragam.

Oleh karena itu, sebagai generasi muda perlu adanya langkah solutif yang mampu membuat kita terlepas dari stress digital di media sosial. Remaja dapat mulai dari dirinya sendiri untuk membenahi diri agar tidak terus berlama-lama scroll lini masa seperti Facebook, Twitter atau Instagram yang memang asyik. Namun Jika berlebihan bisa bikin kecanduan.

Agar kita tidak terus-terusan terpapar konten negatif yang malah membuat stres, maka membatasi diri untuk mengakses media sosial juga dapat meminimalisir hal tersebut. Makin hari makin banyak saja berita kejahatan atau isu-isu politik yang bikin gerah.

Dikutip dari CNN, Susanne Babbel, seorang psikoterapis khusus pemulihan trauma memaparkan bahwa otak manusia yang terus menerus “dirasuki” hal-hal buruk dan traumatis tanpa henti (dalam hal ini konten-konten sosial media yang negatif) dapat memperlambat kerjanya untuk mengatasi stres.

Pada akhirnya, mengakses konten-konten negatif terlalu sering dapat menyebabkan kita terus merasa stres sehingga tanpa sadar memunculkan respon kecemasan dan takut tak beralasan yang terlalu berlebihan (paranoid).

Tak hanya dari remaja itu sendiri, kontribusi dari pihak lain seperti orang tua dan institusi pendidikan juga perlu digalakkan lagi, seperti pembatasan akses bagi remaja terhadap media sosial terutaa terhadap konten-konten negatif.

Sudah selayaknya semua pihak baik dari remaja, orang tua, pemerintah hingga lembaga perlindungan konten terhadap anak berpartisipasi dalam mengatasi hal ini. Mengingat gangguan mental terutama stress akibat konten-konten media sosial yang buruk dapat merusak mental dari remaja bersangkutan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya