Public Discourse: Sengkarut Kasus Kekerasan Seksual

Admin The Columnist
Public Discourse: Sengkarut Kasus Kekerasan Seksual 23/06/2020 747 view Public Discourse Pixabay.com

Dunia remaja yang penuh warna-warni mendadak kelabu bagi OR, 16 tahun. Dengan sadisnya remaja tersebut digilir oleh delapan orang, termasuk pacarnya. Tidak hanya merenggut mahkota paling berharga miliknya, perilaku bejat tersebut juga mencerabut psikis OR hingga menemui ajalnya.

Kasus kekerasan seksual, baik yang semisal dialami OR maupun dengan jenisnya yang lain, terus menerus terjadi. Publik sepakat untuk mengutuk keras aksi kekerasan seksual, namun belum mencapai titik temu mengenai akar permasalahannya.

Sebagian berpendapat kekerasan seksual disebabkan oleh kuatnya akar patriarki di tengah masyarakat. Irfan Bau misalnya, menilai kasus kekerasan seksual terus terjadi karena adanya cara pandang yang menyatakan bahwa perempuan adalah kaum kelas kedua (second class) yang berada di bawah laki-laki.

Tetapi tidak demikian bagi Adzim Mufli Rahman. Walaupun niat dan hasrat pelaku memiliki peranan, tetapi cara berpakaian, wajah dan bentuk tubuh juga turut mendorong orang melakukan kekerasan seksual,

Hal ini diperkuat dengan penelusuran berita di Google. Dengan menggunakan kata kunci “pelaku tergoda pakaian seksi korban” ditemukan berderet kasus kekerasan seksual. Bahkan ketika variabel waktu dipersempit dengan mengatur rentang berita menjadi 1 Januari 2020 – 22 Januari 2020, deretan kasus tersebut masih saja panjang. Artinya, faktor cara berpakaian ini tidak bisa disepelekan.

Kemudian sebagian lainnya menganggap kekerasan seksual langgeng terjadi karena hukum yang tidak memihak kepada korban. M. Nur Faizi berpendapat bahwa selama ini hukum selalu memenangkan mereka yang kaya dan berkuasa. Karena itu korban menjadi sungkan melaporkan kasusnya ke polisi. Sudahlah belum tentu menang, stigma masyarakat sudah pasti dirasakan.

Lalu bagaimana pendapat kamu? Faktor apa sebenarnya yang lebih menggerakkan orang untuk melakukan kekerasan seksual? Silahkan tulis pendapatmu pada kolom komentar di bawah ini.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya