Keriuhan Kapitalisme yang Tertahankan

Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Diponegoro
Keriuhan Kapitalisme yang Tertahankan 04/04/2021 45 view Politik Transisi.org

“Kalo keluar rumah pake masker ya”, “Jangan kumpul-kumpul dulu!”, “Persediaan handsanitizer udah mau habis, nanti beli sekalian ya”. Kalimat-kalimat pendek tersebut hari-hari ini nampaknya sering terucap dari banyak orang. Hal ini senada dengan terus bertambahnya kasus Covid-19 dari hari ke hari. Sabtu (11/4/2020) sekitar 40 hari setelah Covid-19 masuk ke Indonesia (Kompas, 11 April 2020), virus ini telah mampu menyebar ke seluruh provinsi di Indonesia (Tirto.id, 11 April 2020).

Jika masalah kaum proletar adalah ketidakadilan dari negara yang cenderung memihak kaum borjuis, maka andai kata Covid-19 ini kita analogikan menjadi negara, maka ia cenderung menjadi negara yang adil bagi semua rakyatnya. Mengapa demikian? Karena ia akrab dengan “si kaya” juga “si miskin”. Ia tidak anti terhadap “si kaya” dan gemar terhadap “si miskin”, tanpa terkecuali. Tidak seperti virus-virus yang hanya akrab kepada “si miskin” seperti kebodohan, gizi buruk, atau lingkungan kumuh yang gaungnya tidak pernah terdengar menyentuh “si kaya”. Covid-19 ini justru bersifat universal dan berlaku bagi siapa saja yang jelas tidak memandang status sosial.

Barangkali jika kita lebih cekatan di awal—sebelum Covid-19 masuk ke Indonesia—mungkin kulminasinya tidak setinggi sekarang. Namun itu semua hanya pengandaian kita. Kabar buruknya kita tak memiliki mesin waktu untuk kembali ke masa lampau.

Salah satu faktor yang mempengaruhi kecepatan penyebaran Covid-19 adalah mobilitas manusia. Virus ini sangat mudah berpindah dari satu tubuh ke tubuh lain. Hal ini didukung dengan tingginya mobilitas manusia. Mobilitas manusia memang banyak berhubungan dengan motif ekonomi. Untuk mencari profit misalnya, atau sekedar untuk mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari. Mobilitas itulah yang mempercepat sebaran Covid-19.

Di era modern, mobilitas manusia sangat tinggi. Hal ini disebabkan oleh instrumen pendukung mobilitas yang juga sangat memadai. Kita hanya butuh beberapa jam untuk pindah antar negara. Tidak perlu lagi memakan waktu berhari-hari seperti zaman bahela. Kini batas-batas ruang dan waktu sudah terkikis oleh globalisasi—bahkan batas ekonomi juga sudah ikut terkikis.

Globalisasi mendorong suatu hal dapat terinfiltrasi ke dalam suatu negara lain secara cepat. Itulah konsekuensi logis ketika batas ruang dan waktu bukan lagi menjadi hambatan yang berarti. Jika kita melihat hegemoni kapitalisme yang telah menginfiltrasi hampir ke semua negara di dunia, jelas bahwa globalisasi turut andil dalam memperluas pengaruh kapitalisme.

Kapitalisme yang teramplifikasi oleh globalisasi mengakibatkan ketergantungan satu negara dengan negara lain. Banyak bermunculannya MNC (Multi National Corporation) yang bergerak pada industri manufaktur menunjukkan bahwa kapitalisme berimplikasi besar terhadap ketergantungan. Terutama ketergantungan negara berkembang kepada negara maju.

Kalau kita melihat kecenderungan kapitalisme, umumnya kapitalisme ini beroperasi pada negara industri yang mapan, dan akhirnya menghasilkan ekspansi regional di negara lain. Tujuannya adalah meneruskan sirkuit kapital transnasional. Akan sulit bagi sebuah negara untuk mengatakan tidak pada kapitalisme. Sebab kapitalisme telah menjadi “tuan” dan negara menghambakan diri untuk selalu menuruti hasratnya.

Kapitalisme yang dipompa globalisasi hari ini sangat kuat kita rasakan. Contoh yang kita temukan sehari-hari adalah munculnya barang-barang impor dari luar negeri yang sebetulnya barang import tersebut terlihat sederhana. Terkadang itu semua menganggu pikiran kita hingga muncul pertanyaan “barang sepele saja diimpor”.

Inilah realita yang terjadi sekarang. Spirit yang dibangun oleh kapitalisme memang membuat bobrok kreatifitas masyarakat. Kita cenderung menjadi konsumen, dan terus menjadi konsumen. Kita sebenarnya sudah tidak berdaya ketika terus menerus mengikuti nafsu konsumtif. Dan lebih buruknya kita tak menyadari jika kita telah dikendalikan oleh kapitalisme untuk terus menerus menuruti hasratnya yang konsumtif itu.

Kapitalisme begitu cepat mencapai kulminasinya ketika berjabat tangan dengan globalisasi. Sulit untuk menjinakkannya atau bahkan mematikannya. Tidak ada yang dapat memastikan kapitalisme ini hilang. Namun keriuhan kapitalisme hari ini—setidaknya untuk 3 bulan mulai dari awal tahun 2020—nampaknya sepi senyap dan tak terdengar gaungnya. Bukan karena ideologi saingannya atau gerakan anti kapitalisme, melainkan karena sebuah pandemi global yang sedikit menahan keriuhan kapitalisme. Kapitalisme hari ini terhambat, dan bahkan sedikit tersendat alurnya. Hal ini dapat terlihat dari kebijakan yang dibuat tiap negara untuk membatasi penerbangan, turis asing, ekspor, dan impor.

Akhirnya kita boleh sedikit bernafas lega karena kapitalisme belakangan ini setidaknya berjalan melambat. Bahkan negara-negara kapitalis mapan, seperti Amerika dan Inggris juga ikut berperang melawan pandemi ini. Jika boleh mengambil sisi positif atas dampak Covid-19 ini, maka kita boleh bersyukur. Setidaknya kaum borjuis mengalami kemacetan dalam hal peningkatan akumulasi kapitalnya. Lebih jauh lagi lingkungan juga ikut terselamatkan untuk beberapa bulan ini.

Kapitalisme telah menjadi nilai universal yang disebarluaskan dan diinfiltrasikan ke dalam tiap-tiap negara melalui globalisasi. Kapitalisme menjadi liar ketika mereka bertautan dengan para pemilik modal dan kaum borjuis. Karena orientasi mereka hanya akumulasi kapital tanpa tanggung jawab atas apapun dan siapapun. Semua dihantam demi ekspansi geografis transnasional.

Gegap gempita kapitalisme tak terbendung, bahkan oleh ideologi saingannya. Andrew Heywood dalam bukunya “Ideologi Politik” menyatakan bahwa ideologi saingan dari kapitalisme di awal abad 21 hanya sebentuk gerakan anti kapitalisme, bukan lagi menyajikan kerangka teoritis yang komprehensif. Jika ada hal yang mampu setidaknya menghambat kapitalisme, maka bolehlah kita letakkan Covid-19 di tempat yang sama derajatnya atau sama keriuhannya dengan kapitalisme. Sebab Covid-19 mampu membendung keriuhan kapitalisme setidaknya utnuk beberapa waktu.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya