Minyak Goreng dan Fenomena Panic Buying

Fungsional Statistisi BPS Provinsi Riau
Minyak Goreng dan Fenomena Panic Buying 28/01/2022 377 view Ekonomi kaltimprov.go.id

Dalam beberapa bulan belakangan ini minyak goreng menjadi komoditas yang sedang naik pamor. Naik turunnya harga komoditas ini menjadi sorotan banyak pihak. Pada awal Januari lalu, masyarakat dikejutkan dengan naiknya harga minyak goreng yang mencapai 40 persen.

Tingginya harga minyak goreng tersebut merupakan efek nyata dari naiknya harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar internasional. Bahkan dalam dua bulan terakhir, komoditas ini memberikan andil yang cukup besar terhadap inflasi.

Predikat sebagai produsen minyak sawit nomor satu di dunia sudah disandang oleh Indonesia sejak tahun 2006. Index Mundi mencatat produksi sawit Indonesia pada tahun 2019 mencapai lebih dari 40 juta ton dengan pertumbuhan rata-rata 3,61 persen per tahun. Angka ini terbilang cukup fantastis jika dibandingkan dengan capaian produksi dari negara produsen minyak sawit lainnya.

Meningkatnya harga Crude Palm Oil (CPO) di pasar dunia tentunya menjadi dilema tersendiri bagi Pemerintah Indonesia. Ibarat dua sisi mata uang, satu sisi kenaikan harga tersebut memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan petani sawit Indonesia. Namun, pada sisi yang berbeda, kenaikan harga yang tidak terkendali akan memicu inflasi dan ketidakstabilan ekonomi yang pada akhirnya memberikan dampak negatif terhadap kondisi sosial-ekonomi masyarakat.

Tidak bisa dimungkiri jika minyak goreng merupakan salah satu komoditas pangan yang penting bagi masyarakat Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan tingginya konsumsi minyak goreng setiap tahunnya.

Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) oleh BPS pada Maret 2021 menunjukkan tingkat partisipasi konsumsi minyak goreng mencapai 89,21 persen. Dapat dikatakan bahwa hampir semua rumah tangga mengonsumsi minyak goreng dalam mengolah makanan untuk kebutuhan sehari-hari. Hasil Susenas Maret 2021 juga mencatat rata-rata konsumsi minyak goreng dalam satu bulan sebesar 1,08 liter perkapita.

Jika diperkirakan penduduk Indonesia pada tahun 2021 sebanyak 272,25 juta jiwa, maka konsumsi minyak goreng diperkirakan mencapai 294,03 juta liter setiap bulannya. Ini merupakan angka minimal karena belum memperhitungkan konsumsi minyak goreng sebagai bahan baku utama pada industri makanan maupun untuk kegiatan usaha pada sektor penyediaan makan minum.

Penantian akan turunnya harga minyak goreng terwujud sudah. Pertengahan Januari lalu, tepatnya tanggal 19 Januari 2022, pemerintah menetapkan kebijakan minyak goreng satu harga dengan harga yang relatif terjangkau. Melalui kementrian perdagangan, ditetapkan harga minyak goreng sebesar Rp 14.000 per liter.

Kebijakan satu harga minyak goreng ini diberlakukan karena pemerintah memberikan subsidi atas harga keekonomian dari produsen dan harga di pasaran. Upaya pemerintah untuk mengendalikan lonjakan harga minyak goreng ini ternyata menimbulkan efek samping yakni timbulnya fenomena panic buying.

Masyarakat secara berbondong-bondong tanpa dikomando memborong minyak goreng di berbagai minimarket. Di beberapa media diberitakan bahwa sejak diberlakukannya kebijakan satu harga, stok minyak goreng di banyak gerai minimarket ludes terjual hanya dalam hitungan jam.

Sebenarnya fenomena panic buying sejak awal sudah diperkirakan akan terjadi. Karenanya, sejak kebijakan satu harga minyak goreng diberlakukan, pemerintah telah mewanti-wanti agar masyarakat tidak panic buying dan membeli minyak goreng sesuai kebutuhan saja, karena pemerintah sendiri telah menjamin pasokan dan stok minyak goreng aman dan cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat.

Selain itu, pemerintah juga telah mengeluarkan peraturan pembatasan pembelian minyak goreng maksimal dua liter per konsumen. Aturan ini diharapkan dapat mengantisipasi adanya aksi borong dan penimbunan serta menjadi sebuah solusi untuk mengatasi fenomena panic buying tersebut. Pada kenyataannya, meski berbagai upaya telah dilakukan, tetap saja fenomena sosial ini terjadi.

Istilah panic buying sendiri sudah tidak asing di telinga kita. Sejak wabah Covid-19 melanda negeri ini, fenomena panic buying juga terjadi.

Sikap panic buying sesungguhnya menjadi indikasi telah terkikisnya rasa empati dalam diri. Rasa mementingkan diri sendiri yang sangat mendominasi sehingga tidak peduli lagi dengan kepentingan orang lain.

Parahnya lagi, sikap panic buying ini menular seperti halnya virus. Jika seseorang khawatir akan kehabisan suatu barang, orang lain di sekitarnya yang melihat juga akan menjadi panik, yang selanjutnya akan memunculkan sekelompok orang yang spontan panik bersama-sama. Karenanya, mari kita hentikan sikap panic buying mulai dari diri sendiri dan mulai saat ini.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya