Multinational Corporations dan Pengelolaan Kawasan Ekonomi Khusus Galang Batang

Mahasiswa Universitas Padjajaran
Multinational Corporations dan Pengelolaan Kawasan Ekonomi Khusus Galang Batang 22/08/2021 80 view Ekonomi kek.go.id

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) merupakan langkah yang diciptakan oleh pemerintah dalam rangka untuk memberikan kontribusi optimal dalam mewujudkan nawacita sebagai agenda prioritas nasional Indonesia dan juga perwujudan percepatan pertumbuhan ekonomi nasional. Salah satu kawasan di Indonesia yang terdapat KEK ialah Batam, Bintan, dan Karimun (BBK) yang merupakan kerangka kerjasama dari Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Singapura.

Sesuai dengan sasaran, dengan dibentuknya KEK ini, di mana KEK bertujuan untuk memperluas lapangan pekerjaan, optimalisasi kegiatan industri ekspor dan impor, pengembangan daerah untuk pemerataan pembangunan nasional serta untuk meningkatkan penanaman modal demi berkembangannya ekonomi nasional.

Keterlibatan Multinational Corporations (MNC’s) sebagai pihak ketiga tentu akan membantu pengembangan kawasan ini. MNC’s nantinya akan hadir sebagai aktor yang akan menanamkan modal secara langsung atau biasa disebut sebagai Foreign Direct Investment (FDI), dan juga nantinya hadir untuk memperluas lapangan pekerjaan dan pengembangan sumber daya manusia di kawasan BBK ini.

Multinational Corporations (MNC's) merupakan salah satu bentuk implementasi globalisasi ekonomi. Dalam penerapannya, korporasi memberlakukan prinsip-prinsip neoliberalisme yang mengurangi peranan pemerintah. Peran MNC’s dapat diwujudkan dalam bentuk kontribusi untuk memajukan ekonomi melalui pola penanaman modal/investasi yang diharapkan mampu menunjang berkembangnya kawasan tersebut. Salah satu perusahaan multinasional (MNCs) yang beroperasi di wilayah KEK-BKK Galang Batang yakni PT Bintan Alumina Indonesia yang merupakan salah satu perusahaan alumina asal China.

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang berada di Pulau Bintan Kepulauan Riau, yang merupakan sentra choke point Selat Malaka. Lokasi KEK Galang Batang mempunyai akses langsung dengan Selat Malaka dan Laut China Selatan. KEK Galang Batang diusulkan oleh badan usaha PT Bintan Alumina Indonesia dan ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2017, dan diresmikan beroperasinya oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Bapak Darmin Nasution pada tanggal 8 Desember 2018.

Dari Laporan Akhir Tahun 2018 Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus Republik Indonesia disebutkan bahwa dalam waktu satu tahun sejak dinyatakan beroperasi bulan Desember 2018 silam, pembangunan fisik di Galang Batang amat terlihat. PT Bintan Alumina Indonesia, selaku BUPP membuktikan komitmennya dengan menggelontorkan dana besar untuk membangun kawasan.

Hingga 2019, KEK Galang Batang telah dilengkapi berbagai fasilitas infrastruktur kawasan meliputi Pelabuhan TUKS dan jalan utama. Dari sisi infrastruktur wilayah, telah tersedia jalan nasional, pelabuhan, dan bandara internasional yang mendukung aksesibilitas KEK Galang Batang. Untuk memenuhi kebutuhan energi pada periode konstruksi, telah ada aliran listrik PLN sebesar 2,16 MW.

Selanjutnya dalam laporan akhir tahun 2020, Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus Republik Indonesia disebutkan bahwa kegiatan utama KEK Galang Batang adalah industri pengolahan bauksit, logistik, dan penyedia infrastruktur kawasan. Dan, sebagai awal kegiatan, KEK ini tengah mengejar pembangunan infrastruktur kawasan dan fasilitas pengolahan bauksit yang rencananya akan berproduksi di triwulan I tahun 2021. Refinery Alumina tahap pertama ini akan berkapasitas satu juta ton. Nilai investasi di Galang Batang mencapai lima belas triliun rupiah, dan diperkirakan investasinya akan mencapai Rp36,25 triliun di tahun 2024.

Galang Batang telah dilengkapi berbagai fasilitas utama. Mulai dari pelabuhan laut hingga jalan utama. Untuk kebutuhan energi pada periode konstruksi, aliran listrik PLN sebesar 2,16 MVA sudah mengalir lancar. Saat ini, tengah dalam penyelesaian pembangunan power plant berkapasitas 6 x 25 MW untuk keperluan kawasan pada tahap awal. Selain itu, pengelola juga tengah mempersiapkan tampungan air sumber air baku dan jaringan pipa distribusinya.

Dampak KEK Galang Batang terhadap perekonomian hingga saat ini pun sudah cukup baik dan harus terus ditingkatkan. Realisasi investasi sampai dengan September 2020 adalah sebesar Rp11 triliun. Sementara realisasi penyerapan tenaga kerja dalam tahap pembangunan sebesar 3.500 orang.

Diketahui bahwa sejak 2 Juli 2021, PT. BAI melakukan ekspor perdana dengan mengirimkan Smelter Grade Alumina (SGA) sebanyak 70 ribu ton senilai USD 21 juta. Kapal berangkat dari pelabuhan yang telah dibangun oleh PT. BAI di dalam kawasan KEK Galang Batang. Bubuk alumina yang diekspor ke Malaysia itu merupakan bagian dari target ekspor tahun pertama sebesar satu juta ton dengan nilai ekspor USD 300 juta.

Selain menyerap banyak tenaga kerja, manfaat lainnya yang diberikan KEK Galang Batang adalah adanya keterlibatan beberapa penyedia jasa konstruksi lokal (knowledge transfer) dalam pengembangan KEK Galang Batang. Termasuk pengiriman sejumlah tenaga kerja lulusan perguruan tinggi nasional untuk menjalani pelatihan proses industri pengolahan bauksit dan sarana pendukung di Tiongkok, dan saat ini sudah bekerja dan ikut melatih tenaga kerja lokal di dalam rangkaian kegiatan usaha PT BAI. Selain itu pertumbuhan kegiatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mendukung kebutuhan pekerja juga tumbuh di sekitar KEK Galang Batang.

Sebagai perusahaan Multinational Corporation yang beroperasi di Indonesia, khususnya di Galang Batang Bintan, maka PT Bintan Alumina Indonesia (BAI) secara kelembagaan selain menjalin kerjasama dengan pemerintah, juga harus ikut andil berperan dalam memajukan Kabupaten Bintan. Terdapat ada dua peran utama dari PT Bintan Alumina Indonesia antara lain yakni peran penyerapan tenaga kerja dan peran menekan impor produk alumina di Indonesia.

Hingga akhir tahun 2020, sebanyak 4.531 pekerja telah terserap dalam masa pembangunan fasilitas produksi pengolahan bauksit serta prasarana dan sarana pendukung lainnya. Jumlah tenaga kerja terserap diharapkan akan terus bertambah di waktu-waktu yang akan datang. Upaya penyerapan tenaga kerja akan dilakukan melalui penyusunan nota kesepahaman antara pemerintah Kabupaten Bintan dan PT Bintan Alumina Indonesia yang akan memberikan kesempatan warga Bintan untuk dapat bekerja di kegiatan usaha yang ada di dalam KEK Galang Batang.

Hingga akhir tahun 2021, nilai investasi diperkirakan akan meningkat menjadi Rp17 triliun. PT BAI saat ini sedang melakukan pembangunan refinery alumina plant kedua. Sehingga, nantinya kapasitas produksi menjadi dua juta ton per tahun. KEK Galang Batang akan terus dikembangkan dengan membangun tambahan unit power plant dan electrolytic alumunium plant hingga tahun 2027.

Investasi dari PT. BAI memberikan dampak bagi perekonomian nasional, di antaranya menurunkan impor produk alumina karena sudah bisa diproduksi di dalam negeri. Kontribusi peningkatan nilai ekspor yang diperkirakan sebesar Rp4,5 triliun melalui ekspor smelting grade alumina. Proyeksi jumlah tenaga kerja pada saat produksi adalah sebesar 7.000 orang pada akhir tahun 2021.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya