Merenungi Kembali Makna Profesi Guru

Dosen Pendidikan Bahasa Inggris UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Merenungi Kembali Makna Profesi Guru 25/11/2023 213 view Pendidikan commons.wikimedia.org

Setiap tanggal 25 November insan pendidik di seluruh nusantara memperingati Hari Guru Nasional. Upacara hari guru pun digelar di berbagai lembaga pendidikan untuk memperingatinya. Tidak hanya upacara, netizen juga turut meramaikan Hari Guru Nasional melalui media sosial dengan mengungkapkan rasa penghargaan bagi para guru. Terlepas dari itu semua, sesungguhnya peringatan Hari Guru Nasional adalah momentum penting untuk merenungi kembali makna profesi guru.

Guru zaman sekarang tentu berbeda dengan guru zaman dulu. Dulu, guru adalah sosok yang sangat disegani. Guru adalah insan cendekia yang menjadi panutan masyarakat. Segala apa yang dikatakan oleh guru menjadi kebijaksanaan dan tak jarang masyarakat menurut saja kepada guru. Guru adalah profesi yang terpandang dan banyak diimpikan oleh banyak orang.

Guru dalam sejarahnya dikenal sebagai sosok yang sangat mulia karena kesederhanaan, ketulusan dalam mengamalkan ilmu, kesabarannya dalam mendidik, dan segudang jasa-jasa lainnya sebagaimana tercantum dalam lagu hymne guru karya Sartono (1980). Profil guru zaman dulu juga jelas digambarkan oleh Iwan Fals dalam salah satu lagunya yang berjudul Oemar Bakri. Guru dalam lagu itu digambarkan sebagai orang yang telah mengabdi selama 40 tahun dengan penuh kejujuran meskipun berakibat pada penderitaan. Meskipun pegawai negeri, guru sebagaimana digambarkan dalam Oemar Bakri jauh dari kesejahteraan. Gaji yang mereka terima sungguh jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan guru negeri zaman sekarang. Meskipun begitu, guru saat itu masih mengedepankan jiwa pengabdian dalam mendidik.

Tidak sedikit tantangan yang dihadapi oleh guru zaman dahulu. Jangan dikira guru zaman dahulu lepas dari persoalan. Sejak zaman dulu guru telah diperalat oleh rezim pemerintah orde baru. Pada masa orde baru guru sudah ditipu oleh para pejabat pemerintah yang korup. Untuk bisa menjadi guru PNS mereka dibujuk untuk membayar sejumlah uang kepada oknum pejabat pemerintah. Ada memang yang dengan cara seperti itu berhasil menjadi PNS namun tidak sedikit yang kehilangan uang dan nihil menjadi PNS. Yang sudah menjadi PNS juga tidak kalah menderita karena uang yang dipakai untuk menjadi PNS adalah uang pinjaman dari rentenir jadi mereka harus menutup hutang uang pelicin menjadi PNS (Darmaningtyas, 2015).

Di zaman sekarang dengan adanya tunjangan sertifikasi kesejahteraan guru mulai membaik. Sayangnya, kesejahteraan itu justru membuat guru terjebak dalam kehidupan materialisme dan hedonisme. Banyak guru setelah menerima tunjangan sertifikasi lebih suka menghambur-hamburkan uang untuk kemewahan. Mereka tidak membelanjakan untuk keperluan yang bisa meningkatkan kualitas dalam mengajar sehingga tak ayal kualitas dan kompetensinya tidak meningkat sebagaimana laporan bank dunia tahun 2014.

Jiwa pengabdian guru zaman sekarang juga semakin pudar lantaran guru lebih berorientasi pada materi. Segala yang dilakukan guru diperhitungkan dengan imbalan materi. Hilang keikhlasan dalam mengajar dan mendidik anak. Pola pikir yang salah juga semakin berkembang bahwa pengabdian harus diukur dengan setumpuk materi.

Di sisi lain, kesejahteraan guru honorer yang ada di pelosok negeri juga masih menjadi persoalan pelik. Satu sisi guru-guru yang berada di sekolah swasta pinggiran ingin mengabdikan diri (pada awalnya) namun seiring berjalannya waktu guru terkalahkan oleh kebutuhan ekonomi yang semakin menuntut seseorang untuk bisa mendapatkan penghasilan yang lebih. Jika mengandalkan pada sekolah untuk bisa memenuhi kebutuhan tersebut tidaklah mungkin. Guru-guru di desa ada yang digaji dua ratus ribu perbulan. Untuk mengatasi permasalahan kesejahteraan bagi guru swasta di sekolah-sekolah pinggiran tentu jangan terlalu berharap pada pemerintah namun mereka harus lebih berdaya dengan cara lain.

Kini guru harus lebih berdaya. Gaji guru sangat minim jangan dijadikan alasan untuk tidak sungguh-sungguh dalam mendidik anak. Selain menjadi guru ada banyak ladang yang bisa dimanfaatkan oleh guru misalnya dengan berwirausaha, berdagang dan lain-lain. Tidak sedikit kisah sukses guru di desa karena mereka tulus ikhlas disertai keuletan dalam bekerja. Selain menjadi guru mereka juga bertani, profesi guru menjadi profesi sampingan namun meskipun menjadi profesi sampingan mereka tetap sungguh-sungguh dalam mengajar.

Namun, pemerintah harus terus berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan para guru honorer dengan cara yang adil. Program pengangkatan guru honorer menjadi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) harus terus dilanjutkan dengan perbaikan. Misalnya, sekolah swasata yang guru-gurunya berhasil menjadi PPPK harus tetap disuplai guru yang berhasil menjadi PPPK untuk menghindari defisit guru di sekolah swasta. Para guru honorer juga harus terus berjuang untuk mengikuti seleksi PPPK melalui jalur yang sudah dicanangkan oleh pemerintah.

Akhirnya, menjadi guru berarti harus siap ikhlas mengabdi untuk mencerdaskan generasi muda yang akan datang. Persoalan kesejahteraan yang sering mengganjal keikhlasan dan pengabdian seorang guru harus dilawan dengan menjadikan diri guru lebih berdaya dengan cara berkreatifitas dan terus mengembangkan diri untuk menjadi guru yang profesional.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya