Menciptakan Waktu Luang yang Berkualitas

Pembelajar
Menciptakan Waktu Luang yang Berkualitas 03/03/2024 80 view Budaya Cuplikcom

Entah kita mencermati atau tidak, penemuan-penemuan penting sering terjadi di saat-saat sedang santai. Misalnya, dalam dunia fisika: Archimedes yang menemukan rumus berat jenis saat sedang berendam di bak mandi atau Newton yang menemukan gaya gravitasi saat sedang bersantai di bawah pohon apel. Pertanyaannya, mengapa penemuan itu tidak terjadi di saat sedang serius?

Karena sesudah bekerja dengan keras manusia juga butuh untuk beristirahat. Coolling down. Archimedes dan Newton sudah sangat lama memikirkan persoalan itu sehingga tinggal menunggu momentum yang tepat untuk membuat pemikirannya mengkristal. Seperti seorang wanita yang mengandung, harus bersabar sampai 9 bulan baru bisa melahirkan. Dan akhirnya setelah menunggu sekian lama, masalah itu akhirnya terpecahkan.

Dari cerita tersebut, bisa dipahami segala sesuatu memerlukan waktu tanak. Itulah sebabnya kita tidak bisa mempercepat atau memperlambat solusi jika memang belum saatnya ia terkuak. Justru yang harus kita lakukan adalah tetap mempertahankan persoalan itu di kepala sampai akhirnya sedikit demi sedikit ada jalan terang.

Untuk itu diperlukan kegigihan dan kesabaran. Di masa inilah terjadi penyempurnaan ide. Pengolahan dan pematangan ide. Di saat santai otak manusia malah jauh lebih kreatif. Di kala serius, pikiran seperti terkurung dalam batasan yang kita ciptakan sendiri. Akibatnya sering terjadi deadlock. Tapi jangan berpikir untuk langsung meloncat ke tahap akhir (ingin langsung bersantai), semua harus dilewati setahap demi tahap.

Jadi tidaklah aneh jika banyak penemuan-penemuan penting terjadi justru di kala santai karena memang seperti itulah mekanisme prosesnya: ada waktu pengumpulan dan ada waktu pengendapan. Semakin kita bersikeras mengumpulkan informasi, semakin banyak waktu juga yang dibutuhkan untuk memprosesnya.

Waktu Luang Milik Semua Orang

Waktu luang adalah sebuah kemewahan tersendiri yang jarang kita sadari. Karena kita hanya menilai kekayaan dari bentuk material fisiknya. Tanpa kita sadari, betapa nikmat waktu luang juga merupakan nikmat yang sangat berharga. Sama juga seperti hal-hal yang tampaknya “kecil” belaka yang tidak pernah kita syukuri selama ini, seperti nikmat udara bersih yang setiap saat kita gunakan untuk bernafas.

Saya pikir waktu luang bukan hanya untuk golongan kelas atas tapi untuk semua golongan. Memang dalam lapangan, ada kecenderungan yang kuat bahwa golongan berpunya lebih suka merayakan waktu luangnya (misalnya dengan liburan) daripada golongan yang tidak berpunya. Tapi dengan begitu, golongan yang berpunya bukan berarti tidak mampu menikmati waktu luangnya. Kaitan bahagia atau tidak, bukan tergantung dari sesautu yang di luar, tapi bagaimana keadaan pikiran dan hati kita. Bisa saja mereka yang memiliki berbagai macam hal tapi pikirannya sakit dan hatinya tidak bahagia. Sementara ada golongan yang kurang berpunya tapi karena mereka pandai mensyukuri apa yang sudah didapat, malah lebih bahagia.

Saya paham, jika hal kekayaan material itu bisa men-trigger rasa senang atau bahagia, tapi itu semua harus diimbangi dengan sikap syukur dan tepat dalam mengelola keuangannya. Akan percuma saja semua harta benda yang kita miliki jika habis begitu saja untuk hal-hal yang kurang penting.

Bagi golongan yang kurang berpunya sebaiknya dalam waktu luang kalian, gunakanlah untuk melakukan evaluasi. Susun strategi untuk perubahan kehidupanmu. Alangkah lebih sempurna jika kalian juga berhasil mencapai kebebasan finansial.

Namun begitu, sesuai naturnya manusia tidak hanya butuh pada hal-hal material saja, seperti: sandang, pangan, dan papan. Tetapi juga hal-hal non material, seperti misalnya kebutuhan untuk rasa keindahan atau seni. Kesenian berfungsi untuk memperhalus rasa. Untuk memahami dinamika kehidupan ini tidak cukup dengan pikiran tapi juga perasaan. Dengan mendengarkan musik yang pas dengan suasananya kita jadi terbawa ke masa entah kapan, mungkin masa lalu beserta kenangannya. Di kala melihat lukisan atau pertunjukan drama, batin kita menjadi senang. Entah itu sesuatu yang artistik atau merupakan suatu pantulan dari rasa keindahan yang sudah ada dalam diri kita. Itu semua bisa terlaksana berkat waktu luang yang hadir dalam hidup kita.

Hal-hal tadi itu semakin mengasah rasa halus (estetika) pada diri manusia. Dan tampaknya itu sebagai obat mujarab di tengah zaman dengan dinamika persoalan yang berubah dengan cepat. Kita hidup di zaman yang penuh dengan ketidakpastiaan. Oleh sebab itu, di tengah zaman digitalisasi ini banyak pakar yang berbicara tentang waktu luang, lebih tepatnya bagaimana mendayagunakan waktu luang dengan tepat.

Jadi, bisa kita bayangkan, tanpa waktu luang, manusia tak ubahnya seperti mesin. Mesin yang tanpa pernah berhenti saja suatu saat akan rusak apalagi manusia? Setiap hari kita membanting tulang untuk mencari nafkah. Situasi dalam bekerja yang begitu kerasnya sampai kadang-kadang mengikis unsur kemanusiaan dalam diri kita. Kenapa kita membiarkan diri kita seperti robot? Kenapa kita sedemikian tak kenal henti dalam memburu dunia? Untuk kemudian semua harta benda itu kita tinggalkan.

Itulah perlunya kita untuk rehat, menepi sejenak untuk proses recovery. Waktu luang telah banyak membantu manusia menemukan penemuan-penemuan penting dalam sejarah. Teknologi-teknologi canggih tidak akan tercipta tanpa adanya waktu luang dan effort para ilmuwan. Maka jangan bersikap masa bodo dengan membiarkan waktu luang berlalu begitu saja. Gunakanlah untuk evaluasi selain untuk memulihkan energi. Tanpa adanya waktu luang hidup manusia akan berantakan karena tidak punya jarak dari apa yang sedang dijalaninya.

Waktu luang bukan berarti sama sekali libur tidak melakukan apa-apa. Waktu luang adalah saat yang tepat untuk refleksi dan kontemplasi. Lakukan sesuatu yang produktif bahkan di saat libur sekalipun. Itulah konsep dari waktu luang yang berkualitas.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya