Makna Tahun Baru: Quo Vadis?

Mahasiswa.
Makna Tahun Baru: Quo Vadis? 31/12/2019 1224 view Lainnya pxhere.com

Persiapan orang-orang dalam rangka menyongsong tahun baru masif terjadi di seluruh pelosok. Aroma kesiapan setiap individu dalam menyambut kedatangan tahun baru kian tajam tercium.

Banyak orang mengidentikkan tahun baru dengan tanggal merah untuk berlibur, silaturahmi, refreshing bersama keluarga, merayakan pesta kembang api pada malam tutup tahun, berpesta sebagai bentuk syukur atas tahun yang sudah berlalu dan memohon rahmat untuk tahun yang akan datang. Dengan demikian, terlihat begitu matang persiapan finansial dan material kebanyakkan orang dalam menyongsong tahun baru.

Kebanyakkan orang lupa bahwa individu terlahir sebagai pribadi yang lengkap secara material maupun spiritual. Kepuasan dan kenikmatan material memang penting, tetapi tidak bisa menggantikan kebutuhan spiritual yang tidak kalah pentingnya. Manusia tidak bisa berjalan dengan tegak jika berjalan dengan satu kaki (pincang), manusia juga tidak dapat mencapai kepenuhan hidup bila kedua bagian penting dalam hidupnya ini tidak dipenuhi.

Menelisik lebih jauh, sesungguhnya dapat ditemukan bahwa kebutuhan material merupakan bagian sekunder yang termanifestasi dari kehidupan spiritual individu. Evidensi kausalitas dari kedua aspek penting tersebut sangat nampak.

Orang lain dapat membaca sejauh mana kehidupan spiritual individu dari apa yang ditampilkan individu secara material. Kematangan individu secara spiritual akan jelas terlihat dari bagaimana individu mengekspresikan dirinya di ruang publik. Oleh karena itu, tahun baru harus dimaknai setiap individu dalam kesadaran yang integral sebagai manusia utuh – spiritual dan material.

Pemaknaan Tahun Baru yang Seharusnya

Pergulatan pemikiran sekaligus pergulatan batin niscaya dialami setiap individu yang masih berziarah di dunia ini. Adalah sebuah kepastian bahwa akan timbul begitu banyak pertanyaan seperti, apa yang harus saya buat untuk memaknai tahun baru? Bagaiamana saya bisa hidup lebih baik di tahun yang akan datang? Seperti apa sepak terjang hidup saya di tahun lalu yang harus saya ubah? Serta masih banyak pertanyaan reflektif lainnya yang dapat timbul dalam diri setiap individu, sebagai akibat dari keseriusan dalam memaknai kedatangan tahun yang baru.

Keinginan untuk sanggup membangun pola hidup baru seharusnya bertunas, berakar dan hidup dalam diri setiap orang. Aspek spiritual merupakan bagian penting yang harus diorientasikan, karena segala bentuk pemaknaan yang mendalam harus datang dari kedalaman diri.

Kedalaman diri setiap individu adalah rumah batinnya sendiri. Memang benar yang dikatakan oleh sebuah quote yang cukup terkenal bahwa “perjalanan yang paling sulit adalah perjalanan ke dalam diri sendiri”. Hal ini disebabkan oleh realitas diri manusia yang tidak terbatas.  

Sifat tidak terbatas ini sering membuat setiap individu mengalami kesulitan dalam memahami dirinya sendiri, sehingga tidak heran bahwa selalu ada fenomena baru dalam hidup manusia. Namun, keadaan demikian tidak menutup kemungkinan peluang berhasilnya individu dalam mewujudkan sesuatu yang diidealkan tersebut.

Menarik bahwa Socrates, seorang filsuf Yunani tersohor yang namanya terkenal hingga saat ini pernah mengatakan bahwa “hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang tidak layak dihidupi”. Pernyataan Socrates tersebut sesungguhnya bertolak dari kesanggupan yang harus dimiliki individu dalam memaknai hidupnya dengan berefleksi.

Socrates menitikberatkan pada usaha dalam mendatangi rumah batin atau usaha mencapai kedalaman diri. Seseorang yang mencapai kedalaman diri dengan memaknai semua pengalamannya melalui refleksi layak menjalani hidupnya, karena ia hidup dalam sebuah kesadaran yang utuh.

Ia tidak hanya hidup dan mengekspresikan diri begitu saja, melainkan senantiasa mengiringi tindakkannya dengan suatu pemaknaan yang mendalam. Kehidupan yang senantiasa dimaknai dan direfleksikan akan terasa lebih nikmat dihidupi, tidak ada kata asal-asalan di dalamnya dan tidak akan terasa membosankan.

Pemaknaan tahun baru akan menjadi lebih lengkap bila orientasi pemaknaan aspek spiritualnya ditingkatkan. Kedalaman mengevaluasi diri, membangun motivasi yang jernih dan menjanjikan akan lebih mudah diperoleh. Hal ini bukan berarti individu harus menghindari hiruk pikuk perayaan tutup tahun dengan segala kemeriahannya secara total, melainkan menuntut individu untuk menjadikannya seimbang.

Melalui tindakkan tersebut juga individu menemukan dasar yang menentukan segala sesuatu yang tampak dari dirinya. Jika pemaknaan mengenai tahun baru yang dangkal terus dihidupi, maka mau dikemanakan kualitas diri setiap individu?

Akhirnya bahwa tindakkan memaknai tahun yang baru harus direfleksikan secara individual, sehingga kejernihan berpikir atas dasar kesanggupan diri sendiri dapat ditemukan. Kembali ke dalam diri merupakan cara paling ampuh untuk menemukan diri dan memaknai tahun yang baru secara efektif dan mendalam.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya