Ketika Milenial Memasuki Dunia Kerja

Admin The Columnist
Ketika Milenial Memasuki Dunia Kerja 14/02/2020 1376 view Catatan Redaksi Daily Mail

Setiap pekan, di hari Jumat, The Columnist menyajikan tulisan dari meja redaksi dengan mengangkat isu publik yang tengah berkembang dan patut diperbincangkan.

Kali ini, catatan redaksi ditulis oleh Bung Fajar Rudin, mengangkat isu hangat mengenai tes CPNS yang tengah berlangsung saat ini. Disampaikan secara ringan, namun membawa pesan penting khususnya bagi para milenial. 

Selamat Membaca!


Saya tergelitik membaca berita tentang peserta tes CPNS yang ketahuan membawa jimat. Di era Revolusi Industri yang katanya telah masuk babak keempat ini, rupanya masih tersemat ruang bagi klenik. Menariknya, para pelakunya bukan golongan gen X apalagi boomers, melainkan milenial.

Di tiap musim seleksi CPNS memang selalu ada kisah menarik. Selain kisah para pembawa jimat, beberapa kisah yang juga muncul dalam gelaran seleksi CPNS diantaranya adalah kisah peserta yang melahirkan, kisah peserta yang baru saja operasi, hingga kisah pengantin yang meninggalkan resepsi pernikahan demi ikut tes.

Bagi mahasiswa psikologi, musim seleksi kerja seperti ini biasanya akan dibanjiri pertanyaan yang terus berulang: bagaimana cara menghadapi psikotes dan wawancara? 

Sebagai salah satu penentu kelulusan para peserta, memang wajar jika pertanyaan itu terus diajukan. Tetapi menjadi tidak wajar jika pada akhirnya peserta mencari jalan pintas dengan meminta ‘jawaban yang benar’. Artinya ada konsep yang belum dipahami dari munculnya psikotes dan wawancara itu.

 Begini, fungsi utama pelibatan psikologi dalam seleksi kerja adalah agar dapat menempatkan pekerja di tempat yang tepat. The right man in the right place. Tujuannya mulia, demi kemaslahatan pekerja dan perusahaan/lembaga. 

Ketepatan dalam penempatan pekerja akan membuat kedua belah pihak untung. Pekerja bahagia dengan pekerjaannya, perusahaan juga gembira karena produktivitas karyawannya. Sebaliknya, ketidaktepatan posisi biasanya akan berdampak pada stres kerja. Pekerjanya rugi karena sering ‘makan hati’, perusahaan juga merugi karena stres membuat karyawannya kontraproduktif.

Akan tetapi tujuan mulia tersebut sayangnya kerap dianggap sebagai ganjalan. Karena itu perlu dilakukan upaya untuk menyingkirkan ganjalan tersebut. Maka tak heran jika buku panduan menghadapi psikotes dan wawancara menjadi salah satu buku yang paling laris di pasaran. 

Padahal tiap jawaban yang diajarkan buku panduan bukan cerminan karakter pembacanya, tapi penyusunnya. Maka tiap jawaban yang dicopy-paste sebenarnya tidak lain adalah usaha membohongi diri sendiri. Barangkali jawaban tersebut mengantarkan pembaca ke pekerjaan, tapi belum tentu mengantarkan mereka ke kebahagiaan. 

Jalan pintas mempelajari jawaban psikotes dan wawancara bisa terjadi karena dua sebab. Pertama, karena lelah terlalu sering ditolak kerja. Padahal penolakan tersebut bukan melulu karena kualitas diri yang rendah, tapi bisa jadi karena kesalahan memilih pekerjaan. 

Saya ambil contoh, kalau kamu introvert, sebaiknya jangan memilih pekerjaan yang mengharuskan dirimu untuk selalu berhadapan dengan banyak orang seperti agen pemasaran. Karaktermu tidak sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan. Kalaupun kamu berhasil lulus seleksi, kamu akan menemui deretan stres saat bekerja nanti. 

Sebaliknya, orang ekstrovert jangan mendaftar pekerjaan yang butuh keheningan dan konsentrasi yang tinggi. Maka sebelum mendaftar, penting sekali untuk benar-benar memahami diri. Bahkan pemahaman diri ini semestinya sudah tuntas sebelum memilih jurusan kuliah. 

Masalahnya, untuk perkara ini pun kita gagal. Survei Indonesia Career Center Network (ICCN) tahun 2017 melaporkan bahwa sebanyak 87% mahasiswa Indonesia mengakui bahwa jurusan yang diambil tidak sesuai dengan minatnya. Efeknya, 71,7% pekerja memiliki profesi yang tidak sesuai dengan pendidikannya (Republika.co.id, 7/2/2019). 

Ketidaktepatan memilih pekerjaan sebenarnya bukan melulu karena ketidaktahuan. Bisa jadi mereka sebenarnya tahu bahwa pekerjaan itu tidak cocok buat mereka, tapi karena pekerjaan itu terlihat keren, akhirnya mereka mendaftar juga. Hal ini sekaligus menjadi sebab kedua orang mempelajari jalan pintas psikotes. 

Padahal tiap individu memiliki keunikannya masing-masing. Dan semua itu istimewa. Sebagaimana elang istimewa di udara dan singa paripurna di darat. Jika kamu singa, jangan hanya karena terbang sedang viral, lalu kamu belajar terbang agar bisa seperti elang. Padahal kekuatanmu ada di kaki. Caramu mencari makan adalah dengan berburu mengejar mangsa. 

Jika konsep ini sudah dipahami, maka seharusnya tidak ada lagi pertanyaan: bagaimana cara yang benar dalam menjawab psikotes dan wawancara. Karena tiap individu telah memiliki jawabannya masing-masing, sehingga tidak perlu ‘mencontek’ jawaban orang lain yang malah mengurangi kadar otentisitas kita.  

Sebagai penutup, saya ingin menyitir kalimat dari Buya Hamka yang seringkali dijadikan quote di media sosial: Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya