Kekerasan dan Hasrat Akumulasi Kapital

Pegiat Literasi
Kekerasan dan Hasrat Akumulasi Kapital 29/04/2021 117 view Ekonomi fnksda.or.id

Manifestasi kesucian di bulan Ramadan rasanya dicemari oleh peristiwa pelik di desa Wadas, Jawa tengah. Bagaimana tidak, di bulan suci yang semestinya dirayakan dengan penuh kasih, berempati pada kaum mustadh’afin, menjaga lingkungan, dan membangun relasi intens dengan Tuhan enggan direalisasikan. Alih-alih berperang melawan hawa nafsu, tindakan manusia cenderung dikendalikan oleh hasrat akumulasi. Padahal Islam secara tegas menghendaki umat manusia untuk membentengi hawa nafsu di bulan Ramadan. Hasrat perlu dikurangi (reduction of desire). Namun, perintah demikian enggan diamalkan oleh mahkluk ekonomi.

Ilmu ekonomi klasik memandang sikap rakus manusia sebagai suatu yang normal dan alamiah. Dianggap rasional bila kerakusan ditunaikan. Bahkan dinilai menguntungkan bagi individu dan masyarakat secara universal. Bentuk nyata dari kerakusan adalah pemenuhan hasrat untuk mengakumulasi keuntungan atau akumulasi kapital. Tentunya anggapan demikian perlu ditelaah relevansinya. Sebab, ilmu ekonomi yang dianggap rasional dan alamiah justru menata masyarakat dengan penuh luka dan penderitaan.

Mahkluk ekonomi kerap menyalurkan hasrat yang mengancam kehidupan kolektif umat manusia. Sekadar pemenuhan kebutuhan materil tetapi menyulut konflik tak berkesudahan. Seperti dilansir oleh kelompok advokasi Wadas Melawan, peristiwa pilu di desa Wadas menampakkan arena pertunjukan watak serakah manusia ekonomi (homo economicus).

Tindakan represifitas aparat terhadap masyarakat yang mempertahankan ruang hidup dari rampasan kekuasaan merupakan tindakan yang tidak dapat ditolerir. Baik lingkup sosial maupun agama. Lagi-lagi tindakan itu adalah akar dari sistem kapitalisme.

Perampasan ruang hidup, eksploitasi sumber daya alam dan manusia, perbudakan, rasisme dan seksisme merupakan keniscayaan dalam paradigma ekonomi yang menormalkan sikap rakus nan serakah. Kendati implikasi dari teori tersebut ditampik oleh para ekonom klasik. Namun degradasi kehidupan manusia akibat sistem ekonomi yang berkiblat pada laissez fire tak dapat dielakkan.

Kapitalisme dan Kekerasan


Salah satu pustaka yang bertajuk “Kekerasan dan Kapitalisme” yang ditulis oleh Jamil Salmi memuat pengantar bernas dari Susan George. Dalam pengantar singkatnya, George begitu jernih menunjukkan watak orisinil dari kapitalisme. Baginya, akumulasi kapital berbanding lurus dengan akumulasi kekerasan. Tentunya perspektif itu bukanlah angan-angan dan ahistoris. Sebab sistem kapitalisme sejak awal, proses, hingga eksisnya kerap menawarkan jalan kekerasan. Di manapun dan kapanpun operasional ekonomi kapitalis berjalin kelindan dengan kekerasan. Peristiwa di Wadas adalah konkretnya.

Tindakan represifitas aparat di desa Wadas berlangsung bukan tanpa sebab, tetapi bentuk aktual dari kapitalisme. Artinya, untuk memungkinkan akumulasi kapital berlangsung, yang mesti disterilkan lebih dulu adalah ruang untuk beroperasi. Maka perampasan ruang, peminggiran masyarakat dan kekerasan adalah amalia yang perlu ditunaikan. Implikasinya , masyarakat dimodifikasi menjadi miskin tanpa harta (proletar) di satu sisi dan segelintir berlimpah harta (borjuis) di sisi lain. Ketimpangan kian berjarak.

Karl Marx telah lama memastikan arah gerak kapitalisme yang rakus komodifikasi. Jejak perjalanan kapitalisme diawali dengan memisahkan produsen langsung (petani/masyarakat adat) dengan sarana produksinya (tanah garapan/ruang hidup). Konsep itu dinamai akumulasi primitif. Aktualisasi akumulasi primitif berjalan secara bengis. Aneka Instrumen dikerahkan untuk memuluskan akumulasi kapital. Perangkat hukum, aparat keamanan dan preman membentengi kepentingan kapitalis. Sekali lagi, dalil George Susan benar “akumulasi kapital berbanding lurus dengan akumulasi kekerasan”.

Homo Islamicus Menentang Kapitalisme

Kapitalisme bukanlah sistem yang alamiah, melainkan diciptakan oleh manusia yang rakus. Tumbuh kembangnya beriringan dengan dalil mewujudkan rasionalitas ekonomi. Bagi kalangan borjuis, hasrat akumulasi adalah watak alamiah yang melekat dalam diri setiap insan manusia.

Akumulasi kapital adalah tindakan yang normal. Kemiskinan adalah biang kemalasan dan kekayaan merupakan buah kerja keras. Persepsi itu mengurung hati kaum borjuis dalam melihat realitas sosial. Bahwa kemiskinan, kemelaratan, penderitaan dan kerusakan lingkungan adalah polarisasi sistem produksi ekonomi kapitalis. Marx menggambarkan itu.

Pun dalam Islam secara tegas menentang eksploitasi berlebihan terhadap alam dan manusia. Intinya prinsip hablumminallah, hablumminal alam dan hamblumminannas penting diiplementasikan. Maka di bulan suci ini adalah momentum yang tepat untuk mempertegas keberislaman kita dengan menentang sistem yang menindas.

Tangga ketakwaan kita mesti ditingkatkan. Pola laku yang dirasuki watak homo economicus hendak dilepaskan. Umat mesti beralih menjadi homo islamicus, yang memandang sesama manusia dan alam dengan penuh kasih. Kesataran umat manusia adalah keniscayaan. Nuansa egaliter tanpa eksploitasi harus ditegakkan. Misi demikian dapat terwujud bila hasrat akumulasi dikurangi. Tentunya dengan sistem ekonomi yang mendukung sebagai antitesis dari kapitalisme. Yakni sistem ekonomi yang mengarah pada cita-cita sosialisme islam.


 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya