Hari Raya Idul Fitri dan Momen Emas Elit Politik Indonesia

Mahasiswa
Hari Raya Idul Fitri dan Momen Emas Elit Politik Indonesia 13/05/2022 16 view Politik commons.wikimedia.org

Membicarakan perihal politik di dalam alam sadar kehidupan masyarakat Indonesia saat ini sepertinya semakin menempatkan politik sebagai sesuatu hal yang cenderung sensitif. Terlebih lagi, bersamaan dengan semakin majunya perkembangan teknologi yang mana dalam sepersekian detik masyarakat digital native saat ini dapat mengetahui segala hal yang terjadi di dunia, dalam konteks apapun itu, khususnya politik. Padahal apabila kita posisikan kembali sebagaimana fitrahnya, politik secara sederhana dapat kita posisikan sebagai alat, yakni alat untuk mencapai sebuah keputusan dan kebijakan, utamanya dalam konteks kehidupan bernegara.

Konsep politik menurut Harold D. Laswell sendiri yakni sebagai “Siapa, mendapat apa, kapan dan bagaimana” (Budiardjo, 2007). Maka, jika kita taruh kembali pengertian politik secara ideal di dalam konteks kehidupan bernegara, maka politik merupakan sebuah metode untuk mencapai sebuah kemashlahatan bersama.

Berbicara tentang politik dalam iklim masyarakat Indonesia, tentunya kita tidak bisa lepaskan dari iklim politik populisme. Politik Populis adalah sebuah strategi politik yang sarat akan retorika yang dikaitkan dengan budaya dan corak khas wilayah setempat (Urbinati 2019). Strategi ini pada umumnya digunakan para elit politik untuk menghindari prasangka-prasangka negatif dan membumikan citranya di masyarakat supaya tidak terkesan ekslusif. Politik populis yang dikaitkan dengan kultur budaya setempat juga sering bersinggungan dengan nilai-nilai yang ada di wilayah tersebut. Semisal, ketika kita uraikan bagaimana iklim politik populis di Indonesia, tentu kita tidak bisa melepaskannya dari ideologi Pancasila sebagai nilai dasar kita dalam berbangsa dan bernegara. Pancasila yang selalu mengedepankan inklusifitas dan kesetaraan memang pada dasarnya adalah salah satu aspek yang harus selalu dikedepankan dalam kehidupan berpolitik masyarakat Indonesia.

Di Indonesia sendiri, terdapat berbagai macam contoh politik populisme yang dilakukan oleh elit politik. Hal ini dapat kita dapat amati dari beberapa hal seperti slogan partai politik, gaya kampanye calon elit politik dan berbagai visi-misi yang ditawarkan kepada masyarakat dengan ciri khas yang seakan berpihak pada rakyat, semisal slogan “Partaine Wong Cilik”, milik salah satu partai besar di Indonesia.

Seiring berjalan dengan ideologi Pancasila yang sudah tertanam di alam bawah sadar masyarakat Indonesia dengan gaya politik populis, maka gaya politik ini seakan sudah menjadi sebuah kerangka berfikir dan ukuran bagi masyarakat Indonesia dalam menentukan pilihannya.

Menguraikan masalah gaya politik populis menjadi memenarik untuk kita pahami bagaimana dinamika politik populisme ini dapat tumbuh subur pada momen-momen tertentu, seperti momentum lebaran yang hingga kini masih kita rasakan.

Ramadhan dan Idul Fitri sebagai Momentum Emas

Ramadhan dan hari Lebaran di Indonesia telah menjadi momen dengan euforia luar biasa bagi masyarakat Indonesia. Hal ini tidak bisa kita pisahkan dari jumlah umat muslim yang menjadi mayoritas total penduduk Indonesia. Terhitung hingga pada tahun 2021, data statistik menujukan bahwa penduduk Indonesia yang menganut agama Islam mencapai 86,9 persen atau setara dengan 237, 53 juta jiwa (Bayu 2022). Namun, tidak dapat dipungkiri juga bahwasannya antusiasme bulan Ramadhan di Indonesia tidak hanya dinikmati oleh penduduknya yang beragama Islam tapi juga masyarakat non-muslim pun turut merasakannya, seperti yang dapat kita lihat melalui fenomena toleransi yang tinggi hingga gotong-royong kebaikan melalui kegiatan filantropi di bulan Ramadhan seperti berbagi makanan dan sembako yang tidak jarang kita temui.

Gambaran momentum Ramadhan, khususnya pada Hari Raya Idul Fitri tidak hanya mendapat sorotan besar dari sisi kehidupan sosial saja. Akan tetapi, dari dimensi kehidupan politik kedua momen tersebut dapat kita bilang sebagai momentum emas bagi para elit politik di Indonesia. Jikalau kita runut kembali sedari awal, kedua momen tersebut dimanfaatkan dengan sangat baik oleh para elit politik di Indonesia.

Menilik kembali di awal hingga pertengahan Ramadhan kemarin, beberapa elit politik Indonesia mendapati kesempatan sebagai khatib sholat tarawih di masjid milik salah satu kampus terkemuka di Yogyakarta. Beberapa elit politik yang mendapati kesempatan antara lain Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat), Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah) hingga Anies Baswedan (Gubernur DKI Jakarta). Kehadiran para elit tersebut tentu mendapat respon yang bervariasi dari umat muslim hingga khalayak publik dari berbagai macam kalangan. Tentu secara sederhana, hal ini menjadi panggung awal bagi para elit politik untuk meningkatkan elektabilitasnya khususnya dari kalangan umat muslim.

Berlanjut menjelang perayaan hari raya, beberapa elit politik secara individu maupun kelembagaan (partai) berlomba-lomba menyajikan sajian pelayanan terbaik bagi masyarakat muslim Indonesia. Ini dapat kita amati dari beberapa upaya elit politik untuk menarik simpati umat muslim melalui penyediaan fasilitas lebaran seperti mudik. Beberapa elit politik secara simbolik nampak membuka momen yang disebut-sebut sebagai momen sakral bagi masyarakat muslim Indonesia seperti yang dilakukan oleh Erick Thohir melalui kehadirannya di pembukaan mudik bersama BUMN. Sedangkan, Anies Baswedan selaku Gubernur DKI Jakarta pun tidak ketinggalan. Ia turut menyemarakkan momen tersebut dengan membuka kegiatan mudik gratis bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Bahkan, tepat di hari lebaran, ia mengizinkan bangunan Jakarta International Stadium (JIS) yang menjadi salah satu janji kampanyenya menjadi tempat penyelenggaraan sholat Ied.

Secara kelembagaan, salah satu partai politik yaitu Partai Keadilan Sejahtera (PKS) turut berlomba untuk menyajikan pelayanan terbaiknya dengan penyediaan 11 posko mudik di wilayah Sumatera Barat. Seolah tidak mau ketinggalan juga, orang nomor 1 Indonesia yakni Presiden Jokowi juga memanfaatkan momen ini dengan sangat baik yaitu dengan kegiatan berbagi sembako dan Tunjangan Hari Raya (THR) di sekitar Istana Yogyakarta, pada 30 April silam.

Semoga Bukan Sekedar Momentum

Melihat fenomena di atas, momen Lebaran dalam sudut pandang kehidupan politik di Indonesia telah menjadi momentum emas, khususnya bagi elit-elit politik. Mereka dengan sangat baik dapat memanfaatkan momen tersebut meskipun sejatinya kontestasi politik yang sesungguhnya masih terlampau lama, 2024 nanti. Fenomena tersebut seolah menampilkan bahwa para elit politik ini terlalu kesusu.

Melihat hal tersebut, kita sebagai masyarakat Indonesia yang terdidik sudah saatnya dapat memandang hal demikian seobjektif mungkin. Sudah saatnya kita memandang bahwa apa yang dilakukan para elit tersebut bukan semata-mata ukuran yang ideal bagi kita dalam menentukan pilihan politik ke depan. Namun, hal demikian setidaknya dapat kita ukur sekaligus kita cermati, apakah segala sajian yang dilakukan elit politik tadi seperti pencapaian, pelayanan hingga citra dapat bertahan hingga pada saat mereka menjabat nanti? Karena kinerja seorang wakil yang dipilih rakyat pada dasarnya harus disajikan secara berkesinambungan, bukan hanya dalam momen tertentu saja. Terlebih lagi hal demikian ditujukan untuk meningkatkan elektabilitas.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya