Harapan Fitri dari Seorang Non-Muslim

Widyaiswara BKKBN NTT
Harapan Fitri dari Seorang Non-Muslim 23/05/2020 1346 view Agama images.app.goo.gl

Assalamualaikum, wr wb.

Al awal, saya mengucapkan selamat Idul Fitri bagi semua yang merayakannya.

Salam kenal, saya adalah seorang Katolik, yang berdomisili di Kota Soe, Kabupaten TTS, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Semua tentu tahu bahwa Provinsi NTT, termasuk salah satu Provinsi dengan indeks kota toleran terbaik. Ada banyak survei dan metode pengumpulan data yang sudah dilakukan berbagai lembaga survei untuk mengukur indeks kerukunan antar umat beragama, termasuk dari Kementrian Agama (Kemenag). Adalah suatu kebanggan bagi kami di NTT karena ternyata, hidup berdampingan dalam keragaman agama, bukanlah hal buruk yang patut dikecami, melainkan justru itulah kekayaan yang kami gunakan sebagai modal dalam bekerja sama dan saling membantu.

Di persimpangan jalan menuju rumah saya, terdapat beberapa warung (kios) milik orang suku bugis muslim yang sudah tinggal sangat lama. Mereka hidup berdampingan bersama kami, dan kehadiran mereka sangat membantu kami masyarakat kecil. Melalui kehadiran kios mereka, minimal langkah kami sudah diperpendek untuk sekadar berbelanja memenuhi kebutuhan hidup harian. Sebagai tetangga, kami sangat terbantu, sebab kalau hanya membeli sebungkus masako/ajinomoto dan sebatang rokok atau sebungkus kopi tugu buaya, kami tidak perlu jauh-jauh mencarinya. Selain itu, ketika ada hajatan/acara, baik itu acara keagamaan, maupun acara profan, kami selalu bekerja sama, mengundang dan diundang, dan saling membantu sebisanya.

Hal unik lain yang ada di daerah kami adalah jumlah pasangan suami-istri yang berbeda agama pun terbilang cukup banyak. Kehidupan mereka baik-baik saja. Kendati kadang terdapat cekcok dalam hidup berrumah tangga, tetapi justru dari cekcok itu mereka menjadi lebih cocok. Aneh bin ajaib memang. Tapi itulah fakta. Saya kira hal-hal kecil inilah yang musti menjadi teladan bagi kita dalam memaknai Idul Fitri. Memang di tengah pandemi ini, kita tidak bisa berbuat banyak, selain mengikuti protokol kesehatan. Akan tetapi, semangat gotong royong, saling menghargai dan menghormati sesama saudara di sekitar, adalah hal urgen yang tidak boleh dikesampingkan.

Saya sangat bersyukur Karena bisa tinggal dan dibesarkan di lingkungan yang beragam, baik suku maupun agama. Keragaman itulah yang justru menjadikan kami semakin kaya dan erat persatuan kekeluargaannya. Saat ini, kita sudah/sedang memasuki masa kemenangan. Sebagai seorang Katolik, sudah sepatutlah saya juga turut merasakan sukacita dan merayakan kemenangan bersama saudara saya yang beragama Islam. Besar harapan saya sebagai seorang non-muslim, kiranya kehadiran saya dapat membuat teman-teman muslim menjadi lebih baik dalam keislamannya, dan juga kehadiran mereka dapat menjadikan saya lebih baik dalam kekatolikan saya.

Toleransi haruslah dimaknai secara lebih luas. Saya tahu, bahwa terkadang ada rasa canggung bahkan ‘kurang nyaman’ kalau kita berada di tengah sesama yang berbeda, baik agama maupun suku dan budaya. Ini adalah hal yang lumrah, sebab toleransi pada dasarnya memiliki makna yang kompleks.

Senada dengan Jony Eko Yulianto, seorang psikolog sosial yang fokus pada masalah intoleransi, saya melihat bahwa banyak masyarakat awam yang menganggap toleransi hanya sekedar masalah menghargai perbedaan yang dimiliki oleh kelompok lain (Kompas.com, 19-12-2018). Padahal, kalau kita membaca riset dari Maykel Verkuyten dan Kumar Yogeeswaran (2017) dalam Personality and Social Psychology Review, sedikitnya terdapat tiga komponen toleransi menurut kajian Psikologi, yakni objection, acceptance, dan rejection.

Dalam aspek objection, peran afeksi kitalah yang sangat penting dalam memahami kelompok lain. Artinya, rasa senang, atau tidak suka atau tidak puas dengan apa yang kelompok lain lakukan. Di lain kata, objection adalah toleransi pada level sikap.

Aspek acceptance atau penerimaan merupakan reaksi psikologis kita dalam mempertimbangkan keberadaan kelompok lain. Semisal, ketika kita berada ditengah kelompok yang berbeda keyakinan, tentu pikiran kita akan menilai, apakah saya layak atau tidak, apakah yang saya kehendaki ini sesuai dengan kehendak kelompok lain atau tidak. Singkatnya, aspek ini aktif pada tataran atau level psikologis seseorang.

Sedangkan, untuk aspek rejection, di dalamnya berisi perilaku kita dalam menanggapi berbagai pandangan yang ada. Sekalipun berbeda perspektif, kita bisa bertindak sesuai niat kita, apakah mau inklusif atau eksklusif, tergantung kita sendiri. Atau bisa dibilang, rejection merupakan toleransi pada level perilaku

Terlepas dari konsep teoritis-psikologis di atas, saya kira kita semua patut memiliki kesadaran yang sama bahwa hidup di tengah keberagaman adalah suatu keistimiewaan yang harus diterima, suatu kekayaan yang harus dirawat, dan suatu anugerah yang harus disyukuri. Pada dasarnya, kita terlahir ke dalam dunia yang penuh keragaman. Itu merupakan suatu keniscayaan yang tidak bisa ditampik. Adanya kita dalam keragaman, merupakan keunikan yang mengagumkan. Terimalah itu semua sebagai anugerah dari Sang Pencipta, supaya dari mereka yang berbeda itulah kita bisa belajar bersatu.

Hendaknya kita menjadikan dasar dari segala aktivitas dalam hidup bersosial dengan semangat cinta kasih. Sekalipun kita berbeda dalam suku, agama, rasa, bahasa, dan golongan, tetapi ingatlah bahwa kita semua satu dalam ‘KEMANUSIAAN’. Janganlah menjadikan perbedaan sebagai tembok pemisah, tetapi jadikanlah itu sebagai tali pengikat persaudaraan di bulan penuh berkah ini, agar niat, puasa dan doa kita berkenan di hadirat Sang Pencipta.

Berakhirnya bulan Ramadhan tentu umat Islam kini menyambut hari kemenangannya, yaitu 1 Syawal 1441 H, yang jatuh tepat pada hari Minggu, 24 Mei 2020. Namun Idul Fitri kali ini terasa berbeda karena pandemi virus Corona yang belum usai. Banyak orang yang tidak dapat pulang kampung dan mudik untuk bertemu sanak keluarga mereka. Kendati demikian, kiranya melalui media sosial, kita bisa saling menyapa dan berbagi sekalipun dalam dunia maya. Bersyukurlah selalu karena internet (medsos) sudah menfasilitasi kerinduan kita yang belum tuntas.

Ketahuilah, bahwa harta paling berharga adalah sabar. Teman paling setia adalah amal. Ibadah paling indah adalah ikhlas. Identitas paling tinggi adalah iman. Pekerjaan paling berat adalah memaafkan. Meskipun tak bisa berjumpa dalam raga yang nyata, tapi paling tidak kita masih bersua lewat rasa yang disediakan dunia maya. Idul Fitri adalah hari kemenangan. Kemenangan melawan segala godaan dan kesulitan yang dihadapi. Semoga pandemi ini cepat berlalu, agar kita bisa segera bertemu, dan berbagi segala cerita masa lalu. Meski wajah tak dapat saling berjumpa, semoga coretan kecil ini dapat menjadi jembatan di hari penuh kemenangan. Terakhir, Selamat merayakan Idul Fitri 1441 H, mohon maaf lahir dan batin.

Salve!

 

 

 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya