Eksistensialisme Dalam Sajak Chairil Anwar

Pustakawan di STIG
Eksistensialisme Dalam Sajak Chairil Anwar 23/12/2023 2745 view Lainnya flickr.com

Chairil Anwar dikenal sebagai salah satu penyair yang melahirkan sajak-sajak berdasarkan pengalaman eksistensialnya. Hal ini juga dipengaruhi karena Chairil berkawan dengan berbagai macam manusia, bukan saja dari kalangan seniman dan penulis namun juga dengan politisi, pelacur bahkan penarik becak sekalipun.

Ia ingin menyelami segala seluk beluk kehidupan manusia dan ingin mengalami sendiri macam-macam situasi yang turut menyertainya. Kesadaran akan kefanaan hidup begitu memburu dalam kehidupannya, sehingga sajak-sajak Chairil Anwar berpangkal dari pengalaman-pengalaman eksistensialnya.

Di bawah filsafat eksistensialisme, bernaunglah macam-macam tokoh, misalnya Jean Paul Sartre yang merupakan salah satu dari banyak filsuf eksistensialis. Akan tetapi, Sartre bukan tokoh utama dari aliran ini dan bukan juga tokoh yang paling representatif. Yang diakui sebagai bapak eksistensialisme secara umum ialah seorang pendeta Lutheran yang hidup di Denmark, Søren Aabye Kierkegaard.

Bila dikaitkan dengan filsafat, agaknya sempit jika hasil kinerja Chairil Anwar dipandang hanya dari satu sudut aliran filsafat tertentu, namun justru karena kepribadian seseorang yang terus berkembang dibentur-bentur gejolak hidup maka pola-polanya masih belum terpaku pada satu wujud saja.

Pada dasarnya Chairil Anwar mencoba untuk menggapai nilai-nilai yang paling inti untuk lepas dari penderitaaan hidup. Untuk mencapai hal tersebut, tentu ia akan berada dalam kegamangan antara ada dan ketiadaan atau keabadian dan kefanaan.

Jika melihat kembali sajak Chairil Anwar, ada beberapa karyanya yang berisi nada-nada ekstensialisme, antara lain “Kesabaran”, “Hampa”, “Kawanku dan Aku”, “Sia-Sia”, “Sendiri” dan lain-lain.

Dalam sajaknya yang berjudul “Sia-Sia” kita sungguh dapat merasakan suasana hati yang muram sama seperti saat menonton drama eksistensialisme Huis Clos (No Exit) milik Sartre. Dan pada sajaknya yang berjudul “Kawanku dan Aku” seolah-olah dapat ditemui pula kesamaan emosionilnya dengan dialog yang tertulis pada buku Bonjour Tristesse karangan Francoise Sagan.

Sajaknya yang berjudul “Sendiri” dapat ditafsirkan sebagai penggambaran kehidupan seseorang yang berlangsung di antara ada dan tiada, antara sibuk dan sepi yang telah meninggalkan bekas kosong dan putus asa yang datang menyerbu bahkan pada masa-masa menghadapi gejolak kesepian yang tiada hari menghantui.

Kekaryaan Chairil Anwar tak lepas juga dari pengaruh Hendrik Marsman, sastrawan Belanda yang menulis puisi Groots en meeslepend wil ik leven (Aku akan Hidup Agung, Segalanya Kuseret Bersama). Karya-karya Marsman yang sarat akan emosi, kemurungan, ketakutan terhadap kematian, kesepian yang tragis dan kekosongan memang terjadi secara sungguh-sungguh.

Suasana yang mewarnai sajak-sajak kedua penyair tersebut terlahir dengan perasaan suram, ironis dan menyerah yang bercampur aduk karena mereka telah lebih dulu mengalami hal-hal yang menyedihkan di kehidupan realitanya. Akan tetapi, bukan hanya Marsman yang mempengaruhi namun kehidupan di luar 4 tembok turut memaksa para penyair di generasi seangkatan Chairil Anwar untuk hidup dalam tekanan, gelora, dengan segala carut marutnya dan telah diperlihatkan dalam hasil karya ciptaan mereka. Revolusi, perang gerilya, kehidupan penjara dan kemerdekaan yang kacau, semua bukti tersebut menggambarkan bagaimana Chairil Anwar hidup dengan seluruh kekuatannya dan terjebak dalam suasana ibu kota pada tahun 1945–1949.

Filsafat dan pandangan eksistensialisme di Indonesia baru diketahui sesudah Perang Dunia II atau pada saat kemerdekaan kita selesai, tepatnya sesudah tahun 1949. Namun, faktanya karya-karya Chairil Anwar kerap berisi nada-nada yang mengingatkan kepada pandangan eksistensialisme. Lantas dari mana datangnya ilham yang mempengaruhi karya Chairil Anwar tersebut?

Yang mempengaruhi karya Chairil Anwar salah satunya berasal dari pengalaman autentik dan pengembaraan hidup seorang Chairil Anwar. Chairil Anwar hidup dalam suatu masyarakat yang sedang bergerak menuju modernisasi dan pembangunan. Ia mengalami kegoncangan dari masyarakat lama yang bersifat kolektif dan mau tidak mau meninggalkan pola-pola yang sudah pasti untuk menuju masyarakat modern. Hal ini menuntut tanggung jawab pribadi dari masing-masing individu sebagai syarat mutlak demi mencapai pembangunan yang baik.

Pada waktu itu, penyair hanyalah tamu yang tak digubris kedatangannya maupun kepergianya. Tidak ada juga yang mau mendengar seruannya. Dalam kefanaan hidup, hanya satu yang diminta, ia hanya ingin membuat hidupnya berarti dan abadi dalam kata-kata yang bersayap, yang terus berjuang tak kenal mati. Barangkali di tengah bisikan daun-daun yang dihembus angin, kita mampu menangkap gema suaranya yang pernah berkata : “Aku mau hidup seribu tahun lagi”. Semoga karya-karya Chairil Anwar akan terus abadi hingga beribu-ribu tahun lagi.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya