Melihat Masa Depan Bangsa Melalui Debat Capres Jilid Pertama

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
Melihat Masa Depan Bangsa Melalui Debat Capres Jilid Pertama 16/12/2023 198 view Politik Google

Dalam suatu kontestasi politik, ajang debat di atas mimbar menjadi salah satu momentum yang dinantikan oleh khalayak masyarakat. Panggung tersebut selalu menjadi sorotan utama bagi para pemilih dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia. Melalui kesempatan itu, masyarakat bisa menilai secara komprehensif bagaimana gagasan, cita-cita serta upaya yang ditawarkan oleh setiap calon pemimpin bangsa, sehingga setiap masyarakat memiliki tolok ukur dan kriterianya tersendiri ketika akan menggunakan hak suaranya.

Dewasa ini, Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia telah usai menyelenggarakan debat Calon Presiden 2024 dengan mengangkat tema besar "Hukum & Hak Asasi Manusia" yang meliputi pembahasan mengenai pemberantasan korupsi, pemerintahan, penguatan demokrasi serta peninngkatan layanan publik dan kerukunan warga dengan total durasi selama 150 menit dan dibagi ke dalam 6 segmen. Dalam ajang debat tersebut, ke tiga calon presiden sama sama menyampaikan visi-misi serta gagasan yang berkaitan dengan tema.

Dimulai dari Anies Baswedan sebagai Calon Presiden Nomor urut 01, secara garis besar ia menyinggung mengenai aturan hukum yang bengkok sesuai dengan keinginan rezim. Ia mengingatkan Indonesia adalah negara hukum. Anies berkata, negara harus diatur oleh hukum bukan penguasa, sehingga marwah pemerintah sebagai pemimpin bangsa tidak buruk di mata masyarakat. Mantan gubernur DKI Jakarta itu juga menyebut ada salah satu generasi milenial yang menjadi calon wakil presiden, sementara banyak milenial termajinalkan.

Kemudian diiikuti dengan Prabowo Subianto sebagai Calon Presiden Nomor urut 02, ia mengungkapkan bahwasannya hukum & HAM, perbaikan pelayanan pemerintahan, pemberantasan korupsi, perlindungan terhadap semua kelompok di masyarakat sebagai sesuatu yang penting. Prabowo menyatakan, selama ini pemerintah memang mendapati kesulitan dalam mengatasi permasalahan penegakan hukum dan mengungkap tabir mengenai problematika HAM serta pemerataan terutama di wilayah Papua. Akan tetapi, Prabowo meyakini rumyamnya masalah tersebut akan segera teratasi, karena itu menjadi tujuan utama Pasangan Calon Nomor urut 02.

Dan berujung pada pemaparan gagasan oleh Ganjar Pranowo sebagai Calon Presiden Nomor urut 03. Dalam kesempatan itu, Ganjar Pranowo dengan penuh keyakinan menyatakan siap memperbaiki seluruh fasilitas publik mulai dari kesehatan hingga pendidikan serta memasifkan penegakan hukum atas pelanggaran-pelanggaran yang sering terjadi terutama mengenai tindak pidana korupsi.

Tak hanya itu, Ganjar Pranowo sebagai mantan Gubernur Jawa Tengah juga menekankan pentingnya etika dalam menjalankan negara. Sebagai prolog, Calon Presiden Nomor urut 03 sempat memaparkan hasil blusukannya bersama Mahfud MD di Sabang dan Marauke. Dari hasil blusukan tersebut, ia merumuskan tujuannya ke dalam 3 bagian antara lain pemerataan akses kesehatan, perluasan akses pekerjaan dan pendidikan serta insentif guru, pemberantasan korupsi skala besar.

Tentunya, setiap capres memiliki orientasi tersendiri ketika diberikan kesempatan untuk menahkodai bangsa ini selama lima tahun ke depan. Perbedaan pandangan dan gagasan antar capres pun menjadi hal yang lumrah, karena mereka memiliki rumusan dan formulasi yang tidak bisa disamakan.

Akan tetapi, meskipun ragam gagasan tersebut tidak bisa disatupadukan, satu hal yang tidak boleh dilupakan oleh para capres ialah gagasan merupakan identitas utama dalam pertarungan politik, secara tidak langsung mereka dituntut untuk menjadi sempurna di hadapan masyarakat.

Gaya bahasa, cara beretorika, nilai-niali yang terkandung dalam program kerja hingga efektivitas ketika gagasan tersebut diimplementasikan merupakan aspek yang sangat fundamental dan sangat berpengaruh terhadap penilaian masyarakat. Masyarakat akan sangat sukar dalam menilai, apabila gagasan yang disampaikan di layar kaca cenderung bertele-tele dan monoton. Karena tidak dapat dipungkiri, pesta demokrasi 2024 mendatang diikuti oleh berbagai macam pemilih dari berbagai latar belakang, tidak hanya diikuti oleh segelintir elemen seperti para akademisi dan golongan masyarakat borjuis saja.

Secara kasat mata, penilaian terhadap gagasan para capres dapat ditinjau dari makna yang terkandung di dalamnya dan sejauh mana masyarakat dapat memahaminya. Akan terkesan sia-sia apabila gagasan tersebut sebenarnya memiliki nilai yang sangat baik dan makna yang mulia tetapi masyarakat gagal untuk mencerna, apalagi jika masyarakat salah mengartikan gagasan yang ditawarkan oleh para capres.

Meskipun hanya berdurasi 150 menit, penampilan para capres di panggung debat merupakan manifetasi kepemimpinan mereka dalam merakit masa depan bangsa.

Selain menuntut para capres untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, masyarakat sendiri pun juga dituntut untuk tidak apatis dalam menyambut kontestasi politik mendatang. Kepedulian masyarakat untuk turut andil mengawasi dan memperhatikan jalannya pesta demokrasi merupakan salah satu upaya untuk menyelamatkan masa depan bangsa.

Dengan itu, masyarakat akhirnya benar-benar mampu menentukan pilihan berdasarkan apa yang mereka saksikan, dengarkan dan rasakan dari ke tiga capres yang sedang berlaga. Sehingga masyarakat dengan para capres mampu menciptakan elaborasi dan mewujudkan harmonisasi dalam pelaksanaan pilpres 2024.

Harapannya, masyarakat dapat benar-benar memilih calon presiden berdasarkan keyakinan dan intuisi mereka, tidak terintervensi apalagi terpaksa. Karena pilihan masyarakat kepada tiga calon presiden tersebut menjadi sangat esensial. Gagasan yang disampaikan dalam debat capres jilid pertama menjadi pintu pembuka bagi masyarakat untuk mentukan siapa yang terbaik dan layak untuk mempin bangsa ini.

Oleh karenanya, masyarakat harus menggunakan hak suara dengan sebaik-baiknya dan mengedepankan objektivitas dalam merasionalisasikan pilihannya, tidak bertumpu pada sesuatu yang bersifat tendensius dan subjektif, karena pilpres 2024 merupakan ajang penentu masa depan bangsa.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya