Indonesia dan Resesi di Tengah Pandemi

Direktur Eksekutif Nirwana Institute
Indonesia dan Resesi di Tengah Pandemi 24/11/2020 1161 view Ekonomi okezone.com

Belakangan ramai dibahas oleh para ekonom bahwa Indonesia telah memasuki jurang resesi. Gempuran Covid-19 membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada neraca negatif selama dua kuartal berturut-turut. Pada kuartal kedua 2020, Indonesia telah mengalami pertumbuhan negatif dari 2,97% pada kuartal pertama dan terkontraksi menjadi -5,32% pada kuartal kedua 2020 ini. Meskipun di kuartal ketiga kontraksinya tidak separah sebelumnya, pertumbuhannya masih berada di neraca negatif yakni sebesar -3,49%. Hal ini tentunya belum bisa menyelamatkan Indonesia dari jurang resesi akibat pandemi global.

Namun bukan hanya Indonesia saja yang mengalami resesi, banyak negara-negara maju juga mengalaminya, seperti Singapura, Jerman, Perancis, hingga Amerika Serikat. Bahkan berdasar data Trading Economic Singapura mengalami kontraksi hingga -13,3% di kuartal kedua dan sudah mengalami pertumbuhan negatif sejak di kuartal pertama 2020. Di Jerman pun sejak kuartal pertama juga sudah mengalami kontraksi sebesar -2,1% dan kemudian di kuartal kedua mengalami kontraksi lagi hingga -11,3%.

Demikian juga Perancis pun sejak kuartal pertama telah mengalami kontraksi dari 0,8% menjadi -5,7% di kuartal pertama 2020 dan semakin parah di kuartal kedua karena mengalami kontraksi hingga -18,9%. Meskipun juga berada di jurang resesi, Amerika serikat tidak terlalu parah jika dibandingkan dengan ketiga negara sebelumnya, ekonomi Amerika mengalami kontraksi -9% di kuartal kedua, namun berhasil mengangkat perekonomiannya menjadi -2,9%.

Kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah untuk menekan angka persebaran Covid-19 mengakibatkan kontraksi ekonomi di semua negara, baik negara maju maupun berkembang. Pasalnya pembatasan aktivitas sosial besar-besaran di berbagai negara menyebabkan penurunan pertumbuhan ekonomi karena perlambatan aktivitas ekonomi selama Covid-19, seperti yang sedang dialami oleh Indonesia, Singapura, Jerman, Perancis dan Amerika saat ini.

Berbicara mengenai resesi sebenarnya lebih berbahaya jika dibandingkan dengan krisis, jika krisis terjadi karena penurunan beberapa indikator ekonomi seperti misalnya krisis finansial yang mengakibatkan penurunan nilai tukar rupiah hingga kinerja perbankan. Resesi berdampak berdampak lebih luas dan besar karena mempengaruhi seluruh sektor ekonomi baik sektor finansial maupun sektor riil, karena menyebabkan penurunan daya beli masyarakat hingga meningkatkan angka pengangguran.

Hari ini bukan hanya sektor finansial dan kinerja perbankan saja yang terkena dampak, namun sektor riil seperti UMKM terkena imbas. Lesunya sektor UMKM diakibatkan oleh sepinya pembeli karena penerapan pembatasan aktifitas sosial dan ekonomi untuk menekan persebaran Covid-19. Sebagian besar pelaku UMKM terpukul oleh Covid-19 hingga banyak yang gulung tikar dan merumahkan para pegawainya. Sehingga kondisi ini akan menjadi lingkaran setan karena memberikan dampak kepada naiknya angka pengangguran dan terjebak pada kondisi gagal bayar utang kepada sektor perbankan.

Bangkit dari Jurang Resesi

Untuk dapat menyelamatkan Indonesia dari jurang resesi maka secara sederhana kita kembali pada teori GDP, dimana GDP merupakan sebuah potret produktifitas ekonomi dari sebuah negara yang mana produktifitas tersebut dilihat dari empat aspek, yakni: konsumsi masyarakat, belanja negara, investasi di sektor riil dan produktifitas ekspor. Dimana pemerintah harus bekerja keras untuk meningkatkan keempat aspek tersebut agar pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal VI pulih.

Banyak ramalan para ekonom jika di kuartal IV nanti ekonomi Indonesia masih mengalami kontraksi, meskipun tidak sedalam kuartal sebelumnya. Ekonom INDEF Bhima Yudhistira misalkan, melalui cnbcindonesia.com 17 November 2020 lalu memprediksikan perekonomian Indonesia akan terkoreksi di kisaran -1,5% hingga -3%. Sejalan dengan Bhima, Ekonom Bank Permata, Josua Pardede lebih optimis jika kontraksi di kuartal IV akan terjadi di kisaran -1% hingga 2%.

Begitupun ekonom UI Ninasapti Triaswati menilai memang sangat berat untuk kembali ke positif di kuartal IV, namun Ia optimis bahwa pada kuartal IV ekonomi Indonesia akan terkoreksi pada kisaran 0% hingga 1% Namun terlepas dari itu semua, dapat kita potret di kuartal IV para ekonom optimis bahwa ekonomi Indonesia akan berangsur pulih meskipun masih berada pada neraca negatif.

Pemulihan ekonomi melalui paket-paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan oleh pemerintah juga sangat diperlukan oleh masyarakat saat ini. Paket kebijakan yang digulirkan oleh pemerintah melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) harus benar-benar dikawal agar segera menciptakan stabilitas sosial, ekonomi dan keuangan. Stimulus-stimulus pendanaan kepada BUMN dan UMKM untuk penundaan pembayaran kredit, penjaminan modal kerja serta restrukturisasi kepada pelaku usaha yang terdampak Covid-19 saat ini sangat diperlukan untuk menguatkan kembali geliat ekonomi Indonesia.

Perlahan namun pasti kita harus optimis bahwa pemerintah dapat menyelamatkan Indonesia dari jurang resesi saat pandemi ini. Dimana diluar peningkatan keempat aspek variable GDP tersebut yakni konsumsi masyarakat, belanja negara, investasi di sektor riil dan produktifitas ekspor. Pemerintah harus berupaya meningkatkan produktifitas masyarakat melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional yang diimplementasikan melalui paket-paket stimulus. Dimana para pelaku UMKM harus didorong untuk tetap berproduksi dan masyarakat didorong pula meningkatkan konsumsinya. Dengan begitu perlahan namun pasti pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2021 akan berada pada neraca positif kembali.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya