Critical Thinking: Menangkal Terorisme Dengan Keragu-Raguan

Pekerja Seni
Critical Thinking: Menangkal Terorisme Dengan Keragu-Raguan 05/04/2021 68 view Opini Mingguan suarakita.org

Lagi. Indonesia dihantam bencana. Ini lebih mengerikan dari wabah penyakit menular macam Covid-19: bencana intoleransi. Minggu, 28 Maret 2021, sebuah bom meledak di pintu gerbang Gereja Hati Yesus Yang Maha Kudus (Gereja Katedral) Makassar, Sulawesi Selatan. Pelakunya sepasang pengantin yang baru tujuh bulan menikah, L dan YSF. Tidak ada korban meninggal. Sementara dua puluh orang dinyatakan terluka.

Tiga hari berselang, Rabu, 31 Maret 2021, seorang perempuan menerobos masuk ke Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri). Dikatakan polisi, ia menodongkan senjata kepada petugas tak lama sebelum terjadi baku tembak. Ia dilumpuhkan timah panas dan tewas di tempat.

Belakangan diketahui, perempuan penyerang Mabes Polri itu, Zakiah Aini, masih berusia 25 tahun. Rabu malam, Kapolri Jenderal Polisi (Kapolri) Listyo Sigit Prabowo mengatakan bahwa pelaku adalah lone wolf. Ia bertindak sendirian tanpa kawanan. Masih menurut Kapolri, ia adalah simpatisan ISIS dengan bukti unggahannya media sosial.

Mengurai terorisme tidak semudah membalik telapak tangan. Meski Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tak henti melakukan deradikalisasi, polisi terus melakukan penangkapan jaringan teroris di Tanah Air, dan pemerintah gencar menyampaikan bahaya ideologi ini, tapi para teroris dan organisasinya seperti tak kehabisan akal merekrut orang-orang untuk turut serta bersama mereka.

Deputi VII BIN, Wawan Hari Purwanto, menyebut bahwa kini para teroris itu telah mengembangkan rekrutmen via internet atau daring. Mereka memecah diri ke dalam kelompok kecil atau individu yang tersebar di berbagai wilayah dan terhubung “di udara”. Keberadaannya sulit dilacak sebab interntet tak ubahnya bak hutan rimba. Apalagi dengan teknologi peretas yang memungkinkan mereka membuat akun dengan identitas palsu. Termasuk alamat IP. Dengan kecanggihan teknologi zaman kini, tidak begitu sulit berkamuflase dengan alamat IP palsu.

Tapi, itu semua metode. Bukan akar yang mendasar dari terorisme. Agama juga bukan akar terorisme. Tapi, bahwa sebagian besar pelaku teror di tanah air mendasarkan tindakannya pada ajaran agama adalah fakta. Saya kurang sepakat dengan pendapat yang mengatakan untuk tidak mengaitkan terorisme dengan agama.

Terorisme berkaitan dengan agama sebab mereka mendasarkan diri pada hal itu. Bukan ajaran agamanya yang keliru, melainkan pemahaman orang terhadap ajaran tersebut. Jika ajarannya yang salah, maka tentu semua umat agama tersebut melakukan hal serupa dengan yang dilakukan teroris-teroris itu.

Agama bukan akar terorisme. Akar terdalam dari terorisme adalah pikiran. Dengan pikirannya, manusia memahami ajaran agama. Ketika akarnya busuk, kecil kemungkinan akan tumbuh batang, daun, apalagi buah yang sehat lagi menyehatkan. Ketika pikirannya kerdil, picik, dan sempit, maka pemahamannya akan hal apa pun, termasuk agama, akan juga begitu.

Anjuran agama untuk berkasih sayang sesama umat manusia akan dipahaminya secara kerdil hanya kasih sayang sesama umat yang seidelogi dengannya. Demikian ajaran lainnya, akan ditafsirkannya berdasarkan akar yang busuk sehingga buahnya pun tak akan jauh dari itu.

Akar yang busuk itu tidak terjadi ujug-ujug. Keluarga, pendidikan, lingkungan, ekonomi, dan banyak hal lain dapat menjadi faktor penyebab pikiran seseorang menjadi kerdil, picik, dan sempit. Kendati demikian, hal tersebut dapat dicegah, dihindari, atau bahkan ditangkal.

Benteng terbaik untuk menjaga pikiran adalah pikiran itu sendiri. Senjata utamanya adalah critical thinking atau ‘berpikir kritis’. Menilik dari usia pelaku serangan Mabes Polri dan bom Gereja Katedral Makassar yang masih digolongkan generasi milenial, besar kemungkinan mereka adalah “korban cuci otak”. Critical thinking mereka kritis.

Generasi Milenial yang Galau

Tidak ada batasan baku mengenai rentang usia generasi milenial. Namun, sejumlah pakar menggolongkan mereka yang lahir di akhir 80-an hingga akhir 90-an sebagai generasi milenial. Separuh dari hidup generasi ini, yaitu masa kecilnya, “masih tradisional” sementara separuh yang lain, yaitu usia dewasa, “telah moderen”. Tidak seperti generasi z yang umumnya sejak kecil akrab dengan teknologi, dunia masa kecil generasi milenial boleh dibilang cukup berbeda dengan masa kini.

Hal ini seharusnya menguntungkan. Generasi milenial tidak terlampau asing dengan akar budaya masa lalunya di satu sisi. Tidak juga terlalu kaget menghadapi kedahsyatan era globalisasi-mondial di sisi lain. Namun, sisi lainnya, bila tak sanggup beradapasi dengan zaman berbekal critical thinking, generasi ini akan terombang-ambing dalam badai percepatan perkembangan dunia.

Pepatah Sunda mengatakan, "ka handap teu akaran, ka luhur teu sirungan" yang artinya "ke bawah tak berakar, ke atas tak bertunas". Di satu sisi tak punya pijakan, di sisi lain tak punya pegangan. Dalam kondisi tak menentu semacam ini, mudah bagi teroris untuk menyusupkan ideologi mautnya. Pasalnya, mereka menawarkan sesuatu yang jelas, sederhana, cepat, dan pasti.

Berbekal (sebagian) ayat suci yang ditafsir dengan kerdil, picik, dan sempit, dengan mantap mereka meyakini tujuan hidup: menjemput ridho Tuhan dengan “jalan pedang”. Teroris adalah orang-orang tak sabaran yang inginnya cepat dan instan. Untuk menjemput ridho Tuhan pun mereka ambil jalan pintas: martir. Cara untuk mencapai tujuan pun sudah terpetakan dengan jelas dan terang benderang: menyerang “musuh Tuhan”.

Ketimbang yang benar, orang yang "ka handap teu akaran, ka luhur teu sirungan" lebih suka yang pasti. Meski yang pasti itu ternyata ilusi. Sesuatu yang pasti lebih menenangkan hati dari pada yang benar. Terkadang, yang benar, atau sebut saja kebenaran, tersaji dalam banyak pilihan. Dan hal ini tak jarang membingungkan.

Di zaman ketika informasi melimpah ruah seperti hari ini, “varian-varian kebenaran” dengan mudah tersaji via layar gawai. Dan semua kebenaran itu—sayangnya—menawarkan kepastian. Salah satu kunci agar tidak bingung dan akhirnya malah kesasar, adalah tetap berpikir kritis dengan meragukan segala informasi. Jika Descartes memiliki moto “aku berpikir maka aku ada”, maka generasi milenial hendaknya sedikit memodifikasi itu menjadi “aku ragu maka aku yakin”.

Ragukan segala sesuatu. Bahkan ajaran agama. Tapi jangan berhenti pada ragu. Ragu hanya bahan bakar untuk terus mencari tahu. Di mana ujungnya? Di titik ketika agama tidak bertabrakan dengan cinta kasih dan kemanusiaan. Agama apa pun, ajaran mendasarnya adalah cinta kasih dan menjunjung tinggi kemanusiaan.

Tuhan menciptakan manusia dengan cinta kasih-Nya. Oleh karena itu, bagi manusia yang percaya Tuhan (dengan nama apa pun Ia disebut), tidak ada alasan untuk tidak mencintai sesamanya sebab manusia adalah “buah” cinta kasih Tuhan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya