Al Kindi: Muslim yang Menyelaraskan Agama dan Filsafat

Mahasiswa
Al Kindi: Muslim yang Menyelaraskan Agama dan Filsafat 30/04/2022 71 view Agama azsayings.com

Al Kindus atau yang akrab dikenal Al Kindi ialah seorang filosof arab pertama yang berusaha menyelaraskan agama dan filsafat. Lahir di Kufah atau sekarang yang dikenal dengan nama Iraq pada masa khaifah Harun al Rasyid, Al Kindi mengikuti dan kerap mengomentari teori-teori Aritoteles sebagai gurunya namun tidak berguru kepada Aristoteles. Dalam upaya menyelaraskan agama dan filsafat, tentu tidak mudah dalam praktiknya. Mengapa ? Pada saat itu Al Kindi kesulitan dalam menyampaikan gagasan-gagasan filosofis ke dalam bahasa arab didukung lagi istilah-istilah teknik untuk menyampaikan ide-ide abstrak masih tergolong lemah. Dan pada masa itu juga, seorang filosof dianggap sebagai makhluk yang menyebarkan kekufuran. Untuk itu, upaya untuk menyelaraskan agama dan filsafat dilakukan Al Kindi dengan tahapan-tahapan.

Pertama, Al Kindi membuat kisah-kisah atau riwayat yang membuktikan bahwa masyarakat Arab dan Yunani adalah saudara sehingga tidak mungkin di antara mereka saling bermusuhan. Ditampilkan bahwa Yunani adalah saudara Gathan nenek moyang bangsa Arab. Dengan demikian, bangsa Yunani dan bangsa Arab adalah sepupu dan semestinya yang diharapkan oleh Al Kindi dapat mencari kebenaran masing-masing meskipun dari Yunani dan Gathan menempuh lajur yang berlainan.

Kedua, kebenaran ialah kebenaran yang bisa datang dari sudut, tempat, ruang, pojok, aspek atau semacam lainnya dan kebenaran itu sendiri dapat datang dari mana saja, dan umat agama Islam tidak perlu malu untuk mengakui kebenaran dan mengambil kebenaran itu sendiri. Imam Ali menyatakan bahwa pengetahuan atau kebenaran ialah milik umat Islam yang tercecer. Karena itu kebenaran itu harus diambil dari tempat mana saja.

Ketiga, Al Kindi menyatakan bahwa filsafat merupakan suatu kebutuhan yang bukan sebagai keanehan dan gaya kemewahan melainkan sebagai sarana dan proses berpikir. Dalam peryataan ini, Al Kindi tidak berniat dalam menyampingkan wahyu dan agama melainkan memberikan dorongan pada agama dengan pola pikir yang rasional dan kokoh seperti pola pikir para filosofis.

Keempat, Al Kindi menyatakan metode-metode yang diaplikasikan dalam penyelarasan agama dan filsafat berbeda namun memiliki tujuan yang sama. Di balik semua ini timbul perdebatan yang muncul dari kalangan para agama dan kalangan ilmuwan. Al Kindi berusaha menjawab akan tetapi ia tampak tidak konsisten dalam mengemukakan jawaban. Al Kindi mendapat dua keuntungan dari berkonsep pengetahuan rasioanal filsafat di bawah ilmu keagamaan. Dua keuntungan yakni Al Kindi tetap mempertahankan filsafat dari pihak yang tidak menyukainya dan Al Kindi dapat meredam serangan dari kaum agamawan yang mayoritas kaumnya. Ternyata pemikiran yang semacam ini diikuti oleh Al Farabi dan Al Farabi sendiri mendeskripsikan bahwa filsafat dan agama berasal dari sumber yang sama dan satu dan posisi seorang filosof tidak berbeda dengan posisi seorang nabi. Bukan berarti seorang filosof disamakan dengan nabi akan tetapi kualitas seorang filosof tidak sama dengan kualitas seorang nabi.

Kelima, Al Kindi berusaha memfilsafatkan ajaran dan pemahaman agama sehingga sama dengan pemikiran seorang filosofis. Memberikan dengan cara takwil dilakukan Al Kindi dalam upayanya ini terhadap teks-teks yang secara aktual dinilai tidak setara dengan pemikiran rasioanal filosofis. Menurut Al Kindi, apapun yang disampaikan oleh rasul adalah benar dan dapat diterima oleh nalar sehingga tidak ada pertentangan dalam pemahaman di antara keduanya.

Al Kindi dalam ucapannya “Semua ucapan nabi Muhammad SAW adalah benar adanya dan apa yang disampaikannya dari wahyu Tuhan adalah dapat diterima dan ditentukan dengan argumen-argumen rasional filosofis. Hanya orang yang kehilangan akal sehat dan dipenuhi kebodohan yang menolaknya” dalam buku yang berjudul Al Kindi karya Atiyeh halaman 24.

Al Kindi secara kronologis dapat dianggap sebagai tokoh utama dalam menyelaraskan agama dan filsafat lewat berbagai cara yang diupayakannya dan pemikiran rasional filosofisnya. Upaya-upaya tersebut kemudian diikuti oleh filsuf-filsuf lain seperti Al Farabi, Abu Sulaiman al Sijistani, Ibn Miskawaih, Ibn Sina sampai Ibn Rusyd dengan jalan masing-masing dan aliran filasfat yang dianutnya.

Pemikiran dan upaya ini dituliskan Al Kindi dalam karyanya Al-Falsafah Al-Ula atau yang dikenal dengan Filsafat Pertama dan merupakan karya yang fenomenal di bidang filsafat Islam.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya