Covid-19: Berkurangnya Populasi Kaum Religius

Mahasiswa STFT Widya Sasana Malang
Covid-19: Berkurangnya Populasi Kaum Religius 27/02/2021 265 view Agama news.detik.com

Perkembangan virus corona hingga saat ini masih terus mengalami “turun-naik” sehingga sulit diprediksi akan segera berakhirnya pandemi ini. Virus corona yang kini hidup dan tinggal bersama seakan telah menjadi teman, sahabat bahkan sosok rekan seperjalanan dalam peziarahan hidup manusia. Dengan demikian sulit untuk mendefinisikan apalagi menyatakan virus ini sebagai musuh.

Virus corona yang telah menjamur di seluruh belahan bumi ini tidak dapat disangkal akan dampak yang ditimbulkannya. Dampak yang tidak tanggung-tanggung hanya melibatkan satu aspek kehidupan. Melainkan semua lini kehidupan mengalami kemandekan, kemerosotan bahkan keberhentian secara total. Aspek tersebut misalnya di bidang ekonomi, hampir semua negara mengalami defisit ekonomi, krisis pangan, stabilitas ekonomi merosot. Rakyat kecil semakin miskin, sedangkan yang kaya mengalami shock tak terperikan. Akhirnya berbagai rencana dan srategi baru kembali dibenah. Hebatnya berbagai cara yang tidak halal pun diperagakan.

Sistem perpolitikan pun mengalami berbagai strategi dan rancangan baru. Berbagai negara melaksanakan sistem kerja sama multilateral demi meningkatkan kemajuan negaranya. Sistem pemerintahan, pola kerja, dan pencapaian kinerja terbilang kurang maksimal. Akibatnya apa? Berbagai elit politik semakin berkecimpung dengan berbagai permainan politiknya demi menduduki kursi jabatan dalam pemerintahan. Timbul cara baru untuk menimbun kekayaan. Lagi-lagi ada yang menggunakannya dengan cara yang tidak halal.

Sistem sosial dan budaya turut mendapat pengaruh yang kini menyebabkan kesenjangan sosial. Nilai-nilai moral, budaya, adat istiadat dan berbagai kebiasaan yang khas dari kebudayaan setiap daerah semakin merosot. Dampaknya ialah terjadinya jaga jarak, hilangnya sikap saling gotong royong secara bersama-sama dalam lingkungan, berkurangnya budaya berkumpul-kumpul dalam persaudaraan, perkumpulan, perserikatan, paguyupan dan sebagainya.

Sistem pendidikan masih dalam tahap pembelajaran via online. Berbagai aplikasi menjadi sasaran utama dalam menyatukan dua insan utama dalam dunia pendidikan. Pengajar yang membimbing dan Pelajar yang notabene masih berkutat dalam ketidaksiapan dalam menerima kenyataan belajar dengan metode baru. Nyatanya masih banyak pelajar yang kurang siap, kurang memahami materi yang diajarkan, lebih banyak bermain game, dan tidak fokus dengan pembelajaran yang sulit diserap secara maksimal.

Lalu apa kabar dengan relasi antara Aku dan Tuhan? Kini berbagai agama di seluruh dunia kiranya semakin meningkatkan imannya terhadap Tuhan. Tuhan kini semakin menjadi Sang Pahlawan yang diharapkan mampu membebaskan umatNya dari penjajahan Virus Corona ini. Relasionalitas Keduanya terbilang semakin intim dan mendalam. Manusia sedang mencari, menemukan dan berharap dapat tinggal bersama Sang pemilik kehidupan. Tempat abadi di mana segala penderitaan dan penjajahan baik fisik dan psikis tidak dapat dirasakan lagi.

Hal yang menjadi keprihatinan dan kesedihan penulis yakni banyaknya pemuka agama yang kini telah kembali kepangkuan Sang Ilahi. Secara khusus seperti yang penulis alami dalam agama Katolik. Berbagai berita duka terus mengalir sebagai akibat dari virus mematikan ini. Telah banyak Uskup, Pastor, Suster dan kaum religius lainnya yang meninggal dunia. Lalu apa dampak yang terjadi? Dampak yang terjadi adalah kemerosotan panggilan sebagai kaum religius dalam agama Katolik. Kaum religius yang dipandang sebagai wakil Tuhan di dunia semakin berkurang populasinya. Padahal, mereka ini adalah gembala umat yang membawa umat pada pertobatan sehingga dapat terselamatkan dan kembali bersatu dengan Tuhannya.

Banyaknya para imam tertahbis yang meninggal menjadi perhatian khusus bagi umat Katolik di seluruh dunia. Mereka ini juga yang bertugas dalam pelayanan, pewartaan Sabda Allah dalam wujud evangelisasi dan kesaksian hidup sebagai teladan di dunia. Keselamatan umat manusia kiranya dapat terjadi melalui perantara mereka. Namun kenyataan hidup tidak dapat dipungkiri. Virus corona telah banyak merenggut nyawa para kaum religius ini. Pemaknaan di setiap perayaan, Misa dan Ibadah sulit untuk dihayati hampir semua orang.

Lalu apa yang mesti diperjuangkan penulis sebagai bagian dalam lingkup kaum religius ini? Kiranya tulisan ini mau mengajak orang muda Katolik dan semua orang katolik di seluruh dunia secara umum dan secara khusus di Indonesia untuk semakin menyadari realitas semakin berkurangnya kaum religius Katolik ini. Dampak covid yang tak terperikan terhadap ruang lingkup agama tentu mempengaruhi eksistensi agama sebagai sarana/jembatan Manusia dan Tuhan dapat kembali bersatu dan bahagia. Dengan demikian benih panggilan untuk menjadi biarawan dan biarawati masih sangat diperlukan. Inilah yang menjadi tugas kita generasi muda Gereja.

Benih panggilan yang diharapkan semakin tumbuh dan lahir dari kaum muda mampu menangkal semakin berkurangnya populasi jumlah imam, biarawan-biarawati serta kaum religius lainnya. Insan-insan muda Katolik yang semakin banyak terpanggil akan sangat membantu perkembangan pelayanan, pewartaan dan kesaksian hidup. Kesemuaanya itu demi menumbuhkan perkembangan iman umat, kemajuan membangun relasi yang akrab dengan Tuhan, membangun sikap tobat dan berubah menjadi orang yang baik dan berkenan di hadapan Tuhan.

Akhirnya semoga melalui tulisan ini semakin banyak orang yang sadar akan dampak covid-19 yang hingga saat ini masih sulit teratasi. Kesadaran bahwa dampaknya banyak mempengaruhi kehidupan dan kemajuan manusia dari semua aspek. Dengan demikian setiap orang mampu mengatasinya demi perkembangan kemajuan hidup, iman, perilaku yang semakin kritis dalam menanggapinya. Dan, semakin banyak orang yang semakin menaati protokol kesehatan sehingga dengan harapan besar dari semua umat manusia Covid-19 segera berakhir. Semuanya tentu bukan hanya demi kepentingan pergolongan atau kelompok tetapi demi keselamatan publik. Semoga.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya