Corona dan Ritual Ibadah Kristen

Penulis Buku Cerita Anak 'Si Aropan'
Corona dan Ritual Ibadah Kristen 29/04/2020 3358 view Agama Pixabay.com

Covid-19 menghadirkan transformasi besar-besaran pada peradaban manusia dewasa ini. Dalam banyak hal umat manusia dibuat takluk. Karena kekalahan itu pula, mau tidak mau, manusia dituntut untuk berubah, menyesuaikan diri pada keadaan. Lihatlah yang paling kasat mata bagaimana pandemi virus corona mampu mengubah tata cara beribadah umat beragama. Ritual ibadah kolektif beralih ke ranah pribadi dan dilakukan di rumah masing-masing.

Dan, coba sila gunakan imajinasi liar Anda: apa yang akan terjadi sekiranya yang menyebabkan perubahan ritual-ritual keagamaan atau penghentian perayaan keagamaan bukanlah virus corona? Katakanlah, seorang oknum manusia biasa. Mungkin saja akan timbul kericuhan karena orang itu dianggap telah melakukan penodaan terhadap agama (religion blasphemy).

Dalam konteks yang lebih spesifik corona mampu mengubah persepsi beribadah yang selama ini dibungkus dalam kerangka berpikir konservatif. Berhubung saya merupakan seorang Nasrani, maka saya pikir akan lebih relevan bila agama saya sendiri yang saya ambil sebagai contoh.

Terus terang, sebelum kedatangan virus corona, ada dualisme paradoksal tentang penggunaan gawai dalam peribadahan di gereja. Pandangan A menilai bahwa membawa Alkitab berbahan kertas, misalnya, adalah prasyarat mutlak. Paham ini menganggap Alkitab digital yang bisa diunduh di ponsel dan gawai sejenisnya tidak bisa menjadi substitusi Alkitab berwujud buku.

Pandangan B justru sebaliknya. Alkitab digital diterima sebagai konsekuensi logis dari kemajuan teknologi yang menghadirkan setumpuk kemudahan dalam tiap sendi kehidupan manusia termasuk dalam urusan hubungan dengan Sang Pencipta. Dengan demikian penggunaannya dalam ibadah dianggap sah-sah saja. Pendeta-pendeta dari pihak B ini juga tidak jarang berkhotbah dengan hanya membawa ponsel pintar ke altar. Sampai-sampai muncul pelafalan kata Alkitab berwujud digital yang dibuat berbeda—Alkiteb. Penggalan suku kata –teb dibuat seperti saat melafalkan suku kata –tab pada kata tablet (bahasa Inggris).

Saya tidak dalam posisi membenarkan salah satu paham dan menyalahkan paham yang satunya lagi. Dua-duanya sebetulnya punya sisi plus dan minus. Satu sisi, menolak gawai dalam ibadah, apalagi secara ekstrim, merupakan sebuah kemunduran berpikir. Mengapa demikian? Menurut sejarah, koreksi jika saya salah, Alkitab mula-mula berbahan papirus (alang-alang air yang digunakan sebagai bahan kertas) dan perkamen (berasal dari kulit binatang).

Ketika peradaban manusia semakin berkembang pesat, akhirnya lahirlah Alkitab berbahan kertas seperti sekarang. Kini, dengan peradaban yang kian maju, Alkitab hadir dalam wujud digital. Dan di masa-masa mendatang tidak tertutup kemungkinan akan muncul kembali Alkitab dalam wujud atau versi berbeda.

Artinya, ini bukan yang pertama kali Alkitab telah mengalami metamorfosis dari segi wujudnya. Dan sejauh itu, boleh dikatakan setiap perubahan diterima oleh umat Kristen, tanpa dualisme yang sebegitu kuat seperti sekarang. Oleh sebab itu respon yang sama pun seharusnya ditunjukkan menyikapi kedatangan Alkitab digital ini.

Namun, di sisi lain, tidak dapat dimungkiri juga ketika penggunaan Alkitab yang diunduh ke dalam gawai nyatanya sering mendatangkan persoalan. Alih-alih mendengarkan khotbah secara khidmat, tak jarang jemaat ‘kabur’ secara rohani. Mereka tidak mampu menahan godaan untuk membalas chat, browsing, berselancar di media sosial dan melakukan swafoto hingga live video. Disrupsi-disrupsi semacam ini acap terjadi. Inilah yang pada akhirnya membuat pandangan A melihat kehadiran gawai dalam gereja kerap merusak kesakralan beribadah.

Kembali ke soal virus corona. Sadar atau tidak, pandemi ini ternyata bukan cuma berhasil ‘mendamaikan’ kedua poros berbeda tadi. Tapi lebih dari itu, Covid-19 bahkan membawa umat Kristen melompat jauh ke depan. Umat Kristen tidak lagi berkutat pada perdebatan soal layak atau tidaknya menggunakan ponsel pintar saat beribadah di gereja. Tahapan itu sudah terlewati. Sekarang, virus corona memaksa Virtual World hadir dalam tatanan beribadah, mulai dari kebaktian hari Minggu, persekutuan jemaat dan lain-lain.

Akibat virus corona, ibadah tatap muka secara fisik masif dihentikan untuk waktu yang belum bisa ditentukan. Ibadah online sekarang menjadi pilihan paling rasional. Gereja-gereja, tanpa melihat denominasinya, saat ini kompak mengadakan ritual ibadah dalam jaringan. Beribadah dan khotbah dilakukan melalui aplikasi zoom, lewat live streaming di Youtube atau Facebook dan lain-lain. Tertib acara kebaktian dibagikan lewat Google Drive, sampai di tangan-tangan jemaat dalam bentuk pdf, dibuka dan dibaca lewat gawai.

Poin penting dari ibadah adalah ketulusan hati. Apa pun medianya, yang terpenting adalah kemauan beribadah yang muncul dari hati yang bersih. Pada titik ini, corona seolah memberikan ujian soal ketulusan tadi. Maksud saya begini. Sebelum kemunculan pandemi virus corona, kebaktian-kebaktian di gereja sudah tersusun sesuai jadwal. Jam masuknya diatur. Jemaat tunduk terhadap ketentuan itu.

Kini, dengan tatanan ibadah online, bukan hanya ketulusan, tapi juga kejujuran setiap jemaat diuji soal apakah mereka benar-benar menjalankan ibadah. Dan kalau pun dijalankan, apakah mereka melakukannya dengan sungguh-sungguh? Atau mungkin saat live streaming ibadah, ada jemaat yang menontonnya sambil tidur bermalas-malasan di kamar atau sambil menyantap makanan, misalnya, lagi-lagi hanya pribadi lepas pribadi yang tahu itu. Sebab kebaktian online dengan media gawai memang lebih personal.

Bahwa Ibadah adalah soal hati memang benar. Namun hal-hal yang kelihatannya sepele tadi tentu tidak bisa dikompromikan. Mari kita ambil perbandingan dengan kehidupan duniawai. Untuk pekerjaan yang kita lakoni sehari-hari, untuk sekadar memberi contoh, kita mampu disiplin dalam urusan jam masuk dan jam pulang. Kita bisa patuh soal moda berpakaian yangditetapkan perusahaan. Tapi mengapa kemudian untuk hubungan kita dengan Tuhan standar-standar seperti itu justru terlihat kendor?

Roma 12 ayat 1 menegaskan sekaligus memberi wejangan pada kita,“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya