Catatan Redaksi: Syekh Ali Jaber, Memori Indah untuk Indonesia

Admin The Columnist
Catatan Redaksi: Syekh Ali Jaber, Memori Indah untuk Indonesia 17/01/2021 203 view Catatan Redaksi Fajar Ruddin

Setiap pekan The Columnist menyajikan tulisan dari meja redaksi dengan mengangkat isu publik yang tengah berkembang dan patut diperbincangkan.

Kali ini catatan redaksi ditulis oleh Bung Fajar Ruddin membahas mengenai hikmah perjalanan dakwah dari ulama kharismatik Syekh Ali Jaber di Indonesia. Disampaikan secara ringan, namun membawa pesan penting khususnya bagi para milenial.

Selamat membaca !

Tahun 2015. Itu pertama kalinya saya mengunjungi Madinah, kota yang menjadi saksi perjuangan Nabi Muhammad saw di 10 tahun terakhir hidupnya. Sejak pertama kali tiba, saya sudah jatuh hati dibuatnya. Padahal saya belum kemana-mana, baru sekadar mengedarkan pandangan saja setelah turun dari bis. Entah mengapa ada perasaan yang begitu kuat menambat hati saya. 

Sebagai kota yang disucikan, Madinah menyediakan fasilitas ukhrawi yang lengkap. Masjid Nabawi yang memiliki kadar pahala sholat 1:1000 dibanding masjid biasa, makam Rasulullah dan para sahabat, situs sejarah yang monumental, ulama yang faqih, imam yang syahdu, lingkungan yang islami hingga penduduknya yang berhati lapang. Wajar rasanya kalau orang ingin berlama-lama tinggal di sana, membenamkan diri dalam khusyuknya ibadah. 

Tetapi tidak demikian dengan Ali Saleh Mohammed Ali Jaber atau yang lebih akrab dengan sebutan Syekh Ali Jaber. Pendakwah yang merupakan penduduk asli kota Madinah itu memutuskan hijrah ke Indonesia untuk berdakwah sejak tahun 2008. Beliau rela meninggalkan zona nyamannya untuk menolong agama Allah. 

Menariknya, kunjungan beliau ke Indonesia rupanya bukan kunjungan musiman, datang sebentar memberi tausiyah kemudian pulang. Lebih dari itu, beliau membaktikan diri berdakwah di Indonesia secara kontinu. Sambutan yang baik, ditambah kecintaannya kepada dakwah membuat beliau rela berganti warga negara sejak 2012. Berbagai macam privilesenya sebagai warga negara Arab Saudi ditanggalkan agar bisa total menyeru umat Islam di Indonesia. 

Kontribusi dakwah Syekh Ali Jaber untuk umat muslim di Indonesia terbilang besar. Jadwal ceramahnya padat, sambung menyambung dari kota ke kota. Saya sendiri berusaha keras mengingat-ingat, kapan dan dimana saya pernah menghadiri ceramah beliau. Saya yakin pernah, tapi sayangnya memori itu tak juga muncul. Bukan karena ceramah syekh yang kurang menarik, tapi murni karena ingatan saya yang buruk dan kemalasan saya menuliskan ilmu. 

Satu ceramah Syekh Ali Jaber (entah saya dengar secara langsung atau melalui video) yang begitu membekas dalam memori saya adalah ketika beliau menceritakan masa-masa awalnya tinggal di Indonesia. 

“Pernah dulu ketika awal-awal tinggal di Indonesia,” beliau mengawali cerita “saya mengikuti tarawih di satu masjid.”

“Waktu itu kaget betul saya mendengar bacaan imam tarawih yang sangat cepat. Sampai-sampai saya tidak tau surat apa yang dibaca si imam” lanjutnya dengan bahasa Indonesia yang fasih. “Saya baru tau bacaan imam ketika ia membaca ujung surat. Di situlah baru jelas imam melafadzkan: naaiiimmm [merujuk pada akhir surat yang dibaca imam]. Oh, imamnya tadi baca surat At-Takatsur” kenang beliau sambil tertawa. 

Saya tidak menyangka, Syekh Ali Jaber yang dalam benak saya berpembawaan serius, ternyata memiliki sisi humoris yang menyegarkan juga. Selain humoris, beliau juga mewarisi kelembutan dan kelapangan hati penduduk Madinah yang masyhur sejak zaman kenabian. 

Dikisahkan dulu ketika Mekkah terasa semakin menghimpit dan tantangan dakwah menjadi kian sulit, Rasulullah mengajak para sahabatnya untuk hijrah ke Madinah. Kedatangan Rasulullah dan para sahabat disambut dengan hati lapang oleh penduduk setempat. Bahkan mereka rela memberikan sebagian hartanya kepada para sahabat yang memang tidak membawa perbekalan dari Mekkah.

Saking berkesannya Madinah di hati Rasulullah, beliau sampai pernah bersabda dan mendoakan: 

“Seandainya orang-orang berjalan ke satu bukit dan orang-orang Anshar [merujuk pada penduduk Madinah saat itu] ke bukit lain, pasti aku berjalan ke bukit kaum Anshar. Ya Allah, rahmatilah orang-orang Anshar, anak-anak orang Anshar dan cucu-cucu orang Anshar” (HR. Tirmidzi).

Mungkin doa Rasulullah itu juga mengalir dalam diri Syekh Ali Jaber. Kelembutan dan kelapangan hati beliau membuatnya disukai beragam kalangan. Dalam satu video (candid) yang sempat viral pasca wafatnya, ada satu momen di mana beliau sedang memuliakan orang-orang yang berkebutuhan khusus. Diberinya mereka hidangan dan disantuninya dengan uang yang tidak sedikit. Dan perbuatan mulia itu bukan satu dua kali saja dilakukan, tapi sudah menjadi rutinitas beliau. Bahkan beliau punya yayasan sendiri yang fokus bergerak menyantuni orang-orang yang membutuhkan. 

Kelembutan hati Syekh Ali Jaber semakin masyhur ketika beliau menghadapi satu kejadian yang hampir merenggut nyawanya. Bulan September 2020 lalu beliau pernah ditusuk orang saat sedang ceramah. Beruntung beliau sempat menghindar sehingga lukanya tidak fatal. Walau hampir dibunuh, tapi beliau tidak dendam. Sebaliknya, pelaku penusukan dimaafkan dan didoakan. Bahkan beliau sendiri yang menghalangi massa agar tidak menghakimi pelaku yang langsung tertangkap. 

Meskipun selamat dari pisau penjahat, tapi Syekh Ali Jaber tak bisa mengelak dari ajal yang datang menjemput. Kamis, 14/01 lalu berita duka menghampiri rakyat Indonesia. Pendakwah yang identik dengan tsaub (gamis) dan syimag (serban) itu wafat di RS Yarsi, Jakarta dalam keadaan negatif Covid-19. Sebelumnya Syekh Ali Jaber memang sempat dirawat intensif akibat virus corona. Tapi komplikasi penyakit yang beliau alami diyakini keluarga sebagai penyebab kematiannya. 

Bagi umat Islam di Indonesia, Syekh Ali Jaber telah mengajarkan banyak hal. Kerelaannya meninggalkan zona nyaman (Madinah) untuk berjuang di medan dakwah telah membuka mata kita. Bahwa hidup harus dimaknai sebagai perjalanan membantu sesama, bukan asyik menenggelamkan diri dalam ibadah pribadi. Kedermawanan dan kelembutan hatinya melekat kuat dalam memori umat Islam di Indonesia. 

Selamat jalan, Syekh. Semoga Allah merahmatimu.
***

Hari-hari ini berita duka datang bertubi-tubi. Belum sempat kami menyelesaikan tulisan ini, telah datang berita duka yang lain. Gempa bumi Majene, corona yang menggila, banjir bandang Kalimantan Selatan, tanah longsor Sumedang, aktivitas vulkanik Gunung Merapi, jatuhnya pesawat Sriwijaya Air dan berita wafatnya para ulama lainnya membuat bangsa ini dirundung duka. Tanpa mengurangi rasa hormat, dari hati yang terdalam kami sampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Semoga diberi kesabaran dalam melewati berbagai musibah ini. 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya