Merangkul Anak Kehilangan Orang Tua Akibat Pandemi

Mahasiswa STFT Widya Sasana
Merangkul Anak Kehilangan Orang Tua Akibat Pandemi 18/09/2021 903 view Lainnya foto pribadi di Facebook

Beberapa hari ini media informasi terkhusus koran Kompas menyoroti mengenai anak-anak yang kehilangan orang tua karena pandemi covid-19. Hal ini bukan karena suatu pilihan tetapi menjadi suatu keharusan bagi mereka. Situasi pandemi di tanah air yang mengalami ledakan cukup tinggi menjadi salah satu faktor penyebab dari peristiwa itu terjadi. Kita tidak boleh menyalahkan pemerintah ataupun menyalahkan orang tua mereka, dengan alasan apapun. Sebab, memang situasi inilah yang kita alami bersama.

Pandemi membawa dampak yang cukup luar biasa. Dalam survei yang dilakukan oleh laman imperial college London Inggris dan kompas tercatat anak yang kehilangan orang tua di tanah air di masa pandemi ini mencapai 38,127, dan di Pulau Jawa menduduki peringkat tertinggi (koran kompas edisi Senin, 23 Agustus 2021). Memang negara kita masih berada pada posisi kesembilan dalam jumlah anak yatim piatu karena covid-19, tetapi bagaimanapun posisinya hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua. Seluruh masyarakat Indonesia punya tugas dan andil untuk membantu menangani hal ini.

Tantangan yang dihadapi dalam memberikan hak-hak bagi anak-anak korban pandemi bukanlah perkara yang mudah untuk saat ini. Tetapi hal itu perlu diberikan melihat bahwa itu sudah menjadi keharusan bagi bangsa Indonesia yang telah diatur di dalam UU no.35 tahun 2014 mengenai hak anak untuk hidup, tumbuh, dan berkembang. Situasi yang sulit menjadi tantangan tidak mudah, mendampingi mereka dan memberikan hidup yang layak mengingat situasi pandemi dan kemajuan teknologi.

Dalam tajuk rencana kompas edisi Senin, 23 Agustus 2021, dikatakan bahwa siswa atau para pelajar mengalami suatu ketidakpastian dalam pendidikan dan karir mereka yang akan datang. Laporan Deli technologies pada tahun 2020 mengatakan bahwa 85 persen pada tahun 2030 atau tahun-tahun yang akan dimasuki oleh generasi z dan Alpa (termasuk mereka yang menjadi korban pandemi covid-19) belum ditemukan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan kemajuan teknologi 4.0. Lalu apa yang perlu dan bisa kita lakukan untuk saat ini dan yang akan datang bagi mereka?, Kontribusi apa yang bisa kita berikan bagi mereka? Mungkin beberapa pertanyaan itu perlu kita lontarkan pada diri kita, sebab itu menjadi bagian tugas kita sebagai anggota negara Indonesia.

Menuntun Keluar dari Kegelapan

Kehilangan figur (orang tua) yang dikenal sejak kecil bukanlah sebuah proses untuk menerima dengan mudah. Kekecewaan, keputusasaan, dan banyak lagi akan menjadi suatu yang diterima, atau dirasakan. Hal itu tentu akan berpengaruh bagi masa depan mereka. Seolah-olah masa depan mereka menjadi sebuah kegelapan yang sulit untuk diberi cahaya. Oleh karena itu, pendamping bagi mereka untuk keluar dari kegelapan masa depan sangatlah perlu. Kehadiran keluarga terdekat, serta perhatian pemerintah sungguh menjadi sebuah hal utama dalam memberikan cahaya kehidupan.

Keluarga terdekat mereka menjadi penopang utama bagi bertumbuhnya harapan mereka, sebab keluarga menjadi figur kedua setelah orang tua mereka yang dikenal sejak kanak-kanak. Keaktifan keluarga yang menjadi tempat kedua mereka bertumbuh diperlukan suatu rasa proaktif untuk berdialog dengan mereka. Jangan sampai keluarga kedua menjadi tempat yang semakin menambah duka nestapa bagi mereka.

Keaktifan mereka berdialog akan menjadi pintu pembuka bagi orang lain masuk terlebih pemerintah. Dengan keterbukaan di dalam keluarga juga menjadi jalan untuk membantu mereka bertumbuh dan memudahkan pemerintah untuk membantu dalam menggapai cita-citanya. Memang tidak semua anak mau tinggal bersama dengan keluarga terdekat mereka, justru ada yang memilih hidup di panti asuhan atau barangkali bermusafir kemanapun mereka inginkan. Walaupun demikian kontrol dari keluarga sungguh diperlukan, sebab akan ada saatnya mereka akan kembali kepada keluarga untuk berkisah baik buruknya. Hal ini sungguh menjadi suatu aspek yang diperlukan, jangan sampai karena anak itu tidak mau tinggal bersama keluarga menjadikan keluarga menandakan ia tidak akan pernah kembali.

Menjadi Cahaya bagi Semua Orang

Bukan tidak mungkin mereka akan menjadi cahaya bagi semua orang bahkan menjadi cahaya bagi bangsa ini. Mereka akan mampu menjadi garam dan terang bagi bangsa ini, jika perhatian keluarga dan pemerintah sungguh serius di dalam mendampingi mereka. Memang hal ini bukan sebuah proses yang instan. Pendamping yang sungguh serius sangat diperlukan. Dukungan bukan paksaan sungguh diperlukan, artinya mereka diajak untuk mengenali kemampuan mereka, mengembangkan dan mencoba berkreasi. Jangan hanya mengarahkan mereka pada sesuatu yang sebenarnya tidak mereka sukai tetapi terus dipaksa. Tentu semua itu harus bersikap positif.

Dengan memberikan kesempatan untuk berkembang, mereka akan merasa lebih nyaman, mereka juga akan semakin cepat menerima situasi yang pernah terjadi yakni kehilangan orang tua. Kebebasan untuk memilih menjadi suatu faktor utama dalam mendamaikan pengalaman masa lalu (kehilangan orang tua). Dengan diberinya sebuah kebebasan untuk bertumbuh mereka semakin menjadi pribadi yang kreatif dan inovatif. Tentu kebebasan yang dimaksudkan bukanlah sebuah kebebasan yang tidak memiliki arah. Tentu kebiasan di sini diartikan bahwa pemerintah atau keluarga memiliki kesempatan mengarahkan jika mereka dirasa keluar dari tujuan.

Ketika kebebasan sudah mereka tangkap dan nyatakan dalam karya-karya mereka. Di sinilah saatnya peran serta pemerintah memberikan tempat dan bantuan baik itu berupa dana, perlengkapan sarana prasarana, dan tentu pemasarannya. Sebab sering kali mereka yang mampu berkarya secara kreatif dan inovatif belum diberi tempat oleh pemerintah sehingga mereka merasa terabaikan. Jangan sampai hal ini terjadi, sebab jika itu terjadi tentu itu akan mengecewakan mereka, dan pada akhirnya mereka kembali merasa tidak dimiliki.

Memang hal ini bukan hanya tugas pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan keluarga tetapi juga masyarakat Indonesia juga haruslah membantu dalam pengembangan mereka. Jangan sampai kita juga hanya berdiam diri melihat usaha pemerintah memberikan perhatian pada mereka, atau justru sebaliknya keluarga dan masyarakat hanya diam. Jangan sampai hal itu terjadi. Saat ini kerja sama membangun bangsa yang berkeadilan sosial hanya mampu dilakukan secara bersama-sama. Tidak akan terwujud jika hanya dilakukan oleh beberapa golongan. Pandemi covid-19 sudah memberikan contoh nyata dalam hal ini.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya