Catatan Redaksi: Ketika Panik Melanda Manusia

Admin The Columnist
13/03/2020 176 view Catatan Redaksi Philstar.com

Setiap pekan, di hari Jumat, The Columnist menyajikan tulisan dari meja redaksi dengan mengangkat isu publik yang tengah berkembang dan patut diperbincangkan.

Kali ini, catatan redaksi ditulis oleh editor The Columnist Bung Fajar Ruddin, mengangkat isu kontemporer berkaitan dengan kepanikan menghadapi Virus Corona. Disampaikan secara ringan, namun membawa pesan penting khususnya bagi para milenial. 

Selamat Membaca!

"Sewaktu serangan panik itu datang, badan saya tiba-tiba terasa kaku, jantung berdetak lebih cepat disertai keringat yang juga bercucuran. Seketika mulut saya terasa kecut dan saya mulai kesulitan bernafas. Saya kira itu adalah akhir hidup saya.”

Cerita di atas adalah kisah seorang kawan yang pernah dilanda kepanikan. Kisah tersebut saya sajikan mengingat istilah panik begitu populer belakangan ini. Kita sudah tau apa musababnya; virus corona. 

Sejak kasus positif corona pertama di Indonesia diumumkan, gelombang kepanikan tiba-tiba menyapu isi kepala sebagian orang. Sapuan tersebut tidak hanya menenggelamkan rasio, tapi di saat yang sama juga membangkitkan insting bertahan hidup yang prematur.

Di satu sisi, insting bertahan hidup krusial perannya demi menjaga manusia dari kepunahan. Namun di sisi lain, insting ini pula yang pada akhirnya melucuti sifat kemanusiaan dari manusia itu sendiri. 

Dalam film Interstellar, insting ini ditunjukkan dengan apik oleh Dr. Mann yang diperankan oleh Matt Damon. Dr. Mann yang terlibat dalam ‘misi sekali jalan’ untuk menemukan planet yang cocok sebagai pengganti Bumi, dengan egoisnya mengirimkan pesan ke sesama peneliti di Bumi bahwa planet temuannya sangat layak. Sehingga dengan begitu peneliti di Bumi akan mendatanginya. Padahal kondisi planet temuannya itu sangat berkebalikan.

Dr. Mann sebenarnya tau bahwa jarak tempuh planet temuannya dari Bumi memakan waktu puluhan tahun dan di saat yang sama penduduk Bumi sedang tercekat diancam kepunahan. Tetapi karena insting bertahan hidupnya, dia mengubur rasa kemanusiaannya dengan berbohong. Mempertaruhkan nasib ras manusia dengan kepengecutannya.

Pada salah satu dialog, dia mengatakan:
“Saat aku meninggalkan Bumi, kukira aku sudah siap mati”, ujarnya. Tetapi rupanya dominasi insting bertahan hidup lebih kuat tertanam, bahkan pada manusia yang telah berniat mati sekalipun. 

Betul, itu memang hanya sebuah film fiksi, tetapi bukan berarti hal itu mustahil terjadi di kehidupan nyata. Sejarah mencatat usaha bertahan hidup yang lebih tragis beberapa kali pernah terjadi. Kisah kanibalisme penyintas kecelakaan kapal Essex bisa kita ajukan sebagai salah satu contohnya. 

Dilansir dari National Geographic
para penyintas tragedi Essex tahun 1820 harus memakan daging sesama penyintas karena persediaan makanan dan minuman yang telah habis. Bahkan kapten kapal, George Pollard, turut serta membunuh dan memakan daging keponakannya sendiri yang kalah dalam undian untuk menentukan siapa yang harus dikorbankan.

Dalam konteks kasus corona, kita menyaksikan bagaimana sebagian orang terburu-buru mengaktivasi insting bertahan hidup yang mereka miliki. Segera setelah kasus positif corona pertama di Indonesia diumumkan, secepat itu pula mereka menanggalkan sebagian dari ciri kemanusiaannya. 

Di berbagai media kita menyaksikan masyarakat berbondong-bondong menyerbu pusat perbelanjaan untuk memborong apa yang tersedia. Sembako, masker, hand sanitizer, tisu, popok bahkan rempah-rempah ikut disikat. Term panic buying kemudian populer di berbagai media untuk menandai perilaku yang demikian.

Apakah mereka lupa bahwa ada manusia lain yang juga membutuhkan makanan? Apa mereka tidak sadar bahwa panic buying masal dapat menyebabkan kelangkaan makanan sehingga menimbulkan kekacauan yang lebih parah? Betapa cepatnya manusia meninggalkan identitasnya sebagai makhluk sosial ketika insting bertahan hidup mereka teraktivasi.  

Virus dan Panik yang Sama-sama Menular

Sesuatu yang mungkin jarang disadari adalah fakta bahwa panik bisa menular selayaknya virus yang manusia takuti.

Aksi memborong bahan makanan bisa jadi tidak semasif itu jika infonya tidak tersebar luas. Namun karena kita hidup di era digital, kejadian tersebut secepat kilat menghiasi beranda media sosial kita. Memaksa tubuh memompa kortisol lebih banyak sebagai konsekuensi dari stres, was-was dan takut yang diproduksi karena melihat stok makanan yang semakin menipis di toko-toko.

Kuasa panik atas tubuh membuat manusia kesulitan menggunakan akal sehatnya. Padahal jika meluangkan waktu sedikit saja, kita akan mengetahui bahwa virus corona tidak semenakutkan yang dibayangkan. Tanpa maksud mengecilkan bahayanya tentu saja.

Worldometers, salah satu website statistik terbesar di dunia, melaporkan bahwa tingkat imortalitas virus corona (Covid-19) hanya 2 persen. Angka ini jauh di bawah imortalitas MERS yang mencapai 34 persen dan SARS yang berada di kisaran 10 persen. Apalagi jika dibandingkan dengan kematian akibat rokok, tingkat imortalitas virus corona seperti tidak ada apa-apanya.  

WHO (2019) mencatat tiap tahun ada 8,2 juta orang yang mati akibat rokok, 7 juta diantaranya adalah perokok aktif, sedangkan sisanya adalah perokok pasif. Padahal rokok sangat dekat dengan kita. Asapnya bebas menari memenuhi udara kita. Mengapa manusia tidak takut dengan mesin pembunuh ini?

Lagi pula, kalaupun virus corona menginfeksi manusia – kita tidak berharap demikian – banyak bukti menunjukkan bahwa kemungkinan pemulihannya tinggi. Sejauh ini sifat mematikan virus corona didominasi oleh korban dengan riwayat penyakit kronis seperti penyakit paru-paru dan imunodefisiensi. Sehingga semestinya masyarakat bisa lebih tenang dan menahan diri dari panic buying.

Akan tetapi, sebagian orang berdalih bahwa perilaku panic buying tersebut didasarkan atas asas kesiapsiagaan. Berjaga-jaga kalau nanti stok makanan benar-benar langka di pasaran. 
Memang, di tengah wabah penyakit, garis antara kepanikan dan kesiapsiagaan bisa terasa begitu tipis.

Saran saya, jika terbersit panic buying dalam benak anda, segeralah ingat tragedi Essex. Jangan sampai tetangga yang kelaparan memangsa anda akibat bahan makanan yang sudah langka. 

The Columnist memiliki obsesi menghargai artikel para intermediate writer yang belum mendapat tempat di media mainstream. Karena kami punya keyakinan, artikel yang ditolak terbit media mainstream tersebut bukan berarti tidak kritis dan menarik. Silahkan kirim artikel tersebut di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami akan bantu menerbitkan untuk menemui pembacanya.
Artikel Lainnya