Benarkah Tahun Baru hanya Ilusi?

Pegiat Demokrasi
Benarkah Tahun Baru hanya Ilusi? 28/12/2019 841 view Lainnya Merdeka.com

Hari ini kita masih berada di penghujung bulan Desember, namun sudah banyak orang di sekeliling kita yang telah mengucapkan "Selamat Tahun Baru",—menuliskannya di berbagai media sosial yang dimiliki misalnya instagram atau facebook, meski sebenarnya sangat menyadari tanggal pertama di bulan Januari baru kita jumpai dua-tiga hari lagi.

Ini mungkin saja didorong oleh rasa hyper-happy karena menyadari sekaligus tak menyangka 365 hari sebentar lagi akan berlalu pergi.

Saya agak bingung bagaimana seharusnya saya memosisikan diri di budaya yang satu ini: Perayaan tahun baru. Pasalnya, saya belum punya baju baru dan jadwal ke mana saya akan pergi meliburkan diri sejenak dari hingar bingar duniawi.

Dari hasil pengamatan saya pribadi, orang-orang yang memilih untuk duluan mengucapkan "Selamat Tahun Baru", sebagian besar adalah politisi.

Akibatnya, semakin sulit bagi kita untuk menolak anggapan bahwa makhluk tuhan yang satu ini tidak pernah rela dirinya ketinggalan satu momen pun—sebisa mungkin seluruh panggung ingin mereka rebut kemudian bernyanyi dengan gembira di atasnya.

Meski demikian, tidak menutup kemungkinan ada juga segelintir orang di luar sana (bisa jadi itu Anda) yang belum mengucapkan "Happy New Year", serta ada pula orang yang tidak mau mengucapkannya sama sekali.

Saya pikir, setiap orang bebas memilih apa saja sesuai selera dan kadar pengetahuannya; entah mengucap atau tidak, itu tetaplah hak yang wajib kita hormati.

Yang pasti, semua orang menjelang perayaan tahun baru akan sibuk menyiapkan resolusi untuk kehidupan satu tahun kedepan. Saya belum menyiapkan resolusi apa pun. Bagi saya itu bukan soal. Namun, yang menjadi soal adalah; apa maksud sebenarnya "Tahun Baru" itu sendiri; apakah tahun baru benar-benar ada?

Untuk menjawab pertanyaan kecil itu orang-orang mungkin akan mengunjungi Wikipedia untuk mengetahui apa jawabannya. Di sana disebutkan "Tahun Baru" adalah: "Suatu perayaan di mana suatu budaya merayakan berakhirnya masa satu tahun dan menandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya." beginilah jawaban Wikipedia.

Bila penjelasan tersebut dibaca secara saksama dan jeli, dapat ditemukan satu lagi pertanyaan baru, yakni pada kalimat "suatu budaya merayakan": itu apa maksudnya?

Bagi mereka yang telah membaca ulasan di Wikipedia tentang "Tahun Baru" pastinya akan mengatakan sesuai dengan ulasan Wikipedia bahwa, di dunia ini tidak hanya terdapat satu budaya saja melainkan ada ribuan budaya beserta kalendernya masing-masing yang tak juga serupa satu sama lain.

Ya, itu benar adanya. Romawi terlalu pandai mengonstruksikan budaya hingga mengukuhkannya dalam kehidupan manusia modern.

Orang-orang beragama Islam di Indonesia mungkin akan mengatakan 1 Januari bukanlah "Tahun Baru" bagi mereka, sebab kalender yang mereka gunakan adalah kalender Hijriyah, bukan Masehi.

Meski begitu, Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah beragama Islam dan cukup toleran dengan budaya lain, sejak lama telah merayakan tahun baru pada menit pertama di setiap tanggal 1 Januari.

Kita tidak perlu kaget secara berlebihan menyadari kondisi tersebut—negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, tapi perayaan tahun barunya secara nasional tidak merujuk pada kalender Hijriyah.

Saya rasa hal itu biasa-biasa saja, tak ada yang aneh. Pasalnya, Indonesia bukan negara Islam. Jadi, tak perlulah hal tersebut ada pihak yang mempersoalkan, apalagi kemudian kembali haram mengharamkan bagi orang-orang muslim yang turut merayakan tahun baru pada tanggal 1 Januari.

Ketimbang kita meributkan soal-soal seputar atribut atau pembungkus kebudayaan (bukan isinya), lebih baik kita bertanya apakah waktu benar-benar berlalu?

Bagi saya pertanyaan itu jauh lebih penting dari segalanya seputar perayaan tahun baru. Karena jangan sampai kita sibuk ke sana ke mari mengucapkan "selamat tahun baru" sambil menyiapkan resolusi, tetapi sebenarnya apa yang disebut dengan "Tahun Baru" nyatanya tidak benar-benar ada alias ilusi semata.

Beberapa fisikawan pernah terlibat dalam perdebatan sengit seputar soal ini—apakah waktu benar-benar berlalu—satu nama di antaranya adalah Albert Einstein. Siapa sih yang tidak kenal nama ini?

Saya yakin tidak ada satu orang pun yang bergelut dalam dunia ilmu pengetahuan yang tidak mengenalinya. Pasalnya, Einstein adalah tokoh besar dalam dunia sains dan ilmu pengetahuan modern.

Suatu waktu, pada tahun 1955, Einstein menuliskan surat untuk keluarga karibnya yang bernama Michele Besso, tujuannya untuk memberikan semangat pada keluarga Besso karena mereka baru saja kehilangan Besso (Besso meninggal dunia). "Ini tidak penting. Bagi kita yang yakin dengan fisikawan, perbedaan antara masa lalu, sekarang, dan masa depan hannyalah ilusi yang keras kepala," tulis Albert Einstein. Melalui tulisan itu, Einstein mengatakan kepada kita bahwa "Tahun Baru" baginya adalah ilusi.

Sebenarnya, gagasan bahwa waktu adalah ilusi adalah gagasan lama, ada sejak zaman Heraclitus dan Parmenides, pemikir pra-Sokrates yang merupakan bahan pokok dari kursus pengantar filsafat.

Heraclitus berpendapat bahwa fitur utama alam semesta adalah bahwa ia selalu berubah. Sedangkan Parmenides, menganggap tidak ada yang namanya perubahan—dalam bahasa modern, ia percaya bahwa alam semesta adalah himpunan semua momen sekaligus.

Bagi Permanides, seluruh sejarah alam semesta adalah satu kesatuan. Einstein sependapat dengan Parmenides. Pandangan semacam ini dinamakan "eternalis" atau "blok semesta"—memikirkan ruang dan waktu sebagai kumpulan peristiwa empat dimensi tunggal, yang tak terpisah, daripada dunia tiga dimensi yang berevolusi dari waktu ke waktu.

Dalam teori relativisme Einstein menulis: "Ketika dipaksa untuk merangkum teori relativitas umum dalam satu kalimat: Waktu dan ruang dan gravitasi tidak memiliki keberadaan yang terpisah dari materi."

Jujur saja, pandangan "abadi" tentang alam semesta ini sangat bertentangan dengan pemikiran umum kita. Kita memandang hidup sebagai sesuatu yang terbuka, dan waktu senantiasa berevolusi.

Jika kita tidak seperti demikian, kita tidak mungkin akan merayakan "Tahun Baru" dan bersusah payah mengucapkan "Selamat Tahun Baru" pada kekasih, kerabat, atau siapa pun yang turut merayakan.

Tapi, jujur saja, saya secara pribadi sepakat dengan Einstein bahwa ini hanyalah ilusi.

Menurut saya, kalender telah menipu banyak orang yang suka berbuat dosa. Sejatinya, waktu seperti sungai—terus mengalir, kita ada di dalamannya, turut mengayunkan diri dan tidak pernah berpindah tempat sama sekali, sekali lagi: tak bisa berpindah sebelum mati.

Seandainya Albert Einstein masih hidup dan sekarang sedang berada di tengah-tengah kita, melihat orang-orang di luar sana sangat berantusias menjemput perayaan "Tahun Baru", Einstein mungkin akan berkata:"Manusia-manusia modern sangat suka mengisolasi dirinya sendiri dalam ilusi yang dibuatnya sendiri dengan maksud untuk menenangkan dirinya sendiri dengan menanamkan harapan-harapan baru tentang masa depan yang sejatinya bersifat ilusif dan tak pasti."

Saya akan menerima sindiran Einstein terhadap kita dengan senang hati. Saya pun akan mengucapkan terima kasih padanya. Einstein adalah pria yang baik, yang tidak ingin melihat kita melakukan kesalahan yang sama terus menerus. "Kegilaan adalah melakukan hal yang sama terus menerus namun mengharapkan hasil yang berbeda," tutur Einstein.

Kini, saya tahu bagaimana seharusnya saya memosisikan diri saya sendiri saat menyaksikan sebagian besar orang di lingkungan tempat saya tinggal riang gembira menyambut Tahun Baru 2020. Tapi saya tetap ingin berpesta bersama mereka di setiap waktu atas nama persaudaraan semata, tidak lebih. Sekian.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya