Belajar dari Presiden Jokowi

MAHASISWA STFK LEDALERO
Belajar dari Presiden Jokowi 18/01/2021 463 view Opini Mingguan news.detik.com

Covid-19 makin eksis di bumi Indonesia. Setiap hari, kasus-kasus positif dan kematian akibat Covid-19 makin meningkat. Untuk merespons peningkatan kasus-kasus positif dan kematian akibat Covid-19, pemerintah dan masyarakat Indonesia sudah melakukan pelbagai cara untuk mengatasinya. Namun, cara-cara itu belum mampu melawan pergerakannya yang liar dan tak terdeteksi. Maka, cara baru digenjotkan untuk memberantasnya, yaitu vaksinasi.

Vaksinasi menjadi senjata baru Indonesia untuk membasmi Covid-19 di bumi Nusantara. Sebab, vaksinasi merupakan salah satu cara pencegahan penyakit menular yang tidak hanya diberikan kepada bayi, tetapi juga diberikan kepada orang dewasa. Cara kerjanya ialah dengan memberikan antigen bakteri atau virus tertentu yang sudah dilemahkan atau dimatikan. Kemudian, antigen bakteri atau virus itu merangsang sistem kekebalan tubuh untuk dapat mengetahui, menghancurkan, dan mengingat benda asing. Dengan demikian, tubuh dapat dengan mudah mengenali dan mencegah benda asing yang masuk dan menyerang tubuh (www.sanofi.co.id).

Akan tetapi, vaksinasi menuai pro-kontra di kalangan masyarakat. Ada pihak yang setuju dengan vaksinasi karena menurut Presiden Joko Widodo (Jokowi), vaksinasi adalah sebuah ‘game changer’ untuk mengendalikan pandemi Covid-19 dan menjadi kunci yang menentukan pulihnya kehidupan masyarakat, termasuk aspek perekonomian (Kompas.com, 15/01/2021). Kemudian, ada pihak yang kontra vaksinasi karena vaksinasi dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Hal itu disampaikan secara khusus oleh salah satu anggota komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari PDIP, yaitu Ribka Tjiptaning (Bdk. Tempo.co, 12/01/2021).

Dari pihak pemerintah Indonesia, vaksinasi ini bisa dilakukan. Sebab, vaksin Sinovac yang digunakan untuk vaksinasi masyarakat Indonesia sudah lulus uji klinis Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan sudah halal menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI). Hal itu juga disampaikan oleh Pakar Imunologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Deshinta Putri Mulya. Menurut Deshinta, masyarakat tidak perlu ragu ikut vaksinasi. Alasannya, vaksin Sinovac yang diberikan pemerintah secara gratis sudah dipastikan keamanannya (www.Kompas.Tv, 13/01/2021). Alhasil, Presiden Jokowi sebagai Kepala Negara Republik Indonesia menjadi orang pertama (the first man) yang menerima vaksin Sinovac pada tanggal 13 Januari 2021.

Teladan Kepemimpinan

Dengan menjadi orang pertama yang menerima vaksin, Presiden Jokowi menunjukkan teladan kepemimpinan kepada seluruh masyarakat Indonesia. Sebagai pemimpin negara dan kepala pemerintahan, dia “berkorban” menjadi ‘kelinci percobaan’ untuk meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa vaksin Sinovac itu aman bagi manusia, khususnya bagi manusia Indonesia. Pada titik ini, Presiden Jokowi menunjukkan hal yang terpuji dan sangat membanggakan. Tentunya, melalui hal semacam itu, Presiden Jokowi berharap agar masyarakat Indonesia percaya dengan vaksin Sinovac demi kebaikan kita bersama dalam menangani pandemi Covid-19 di negara kita tercinta, Indonesia.

Di sini, Presiden Jokowi mengimplementasikan doktrin yang pernah digagas oleh Alexis de Tocqueville. Bahwasannya, menurut Tocqueville, kita perlu mengedepankan doktrin “kepentingan pribadi yang dipahami secara benar” (self-interest properly understood), yang cuma menuntut bahwa seseorang memiliki “perasaan untuk mengorbankan sebagian kepentingan pribadi guna memperoleh lebih banyak” (the sense to sacrifice some of his private interests to save the rest) (Richard Dagger, “Konsep Liberal Republikan tentang Kewarganegaraan”, dalam Felix Baghi (ed), 2009: 97-98). Di sini, Tocqueville menghendaki kita untuk mengorbankan kepentingan pribadi secara benar, sehingga kepentingan pribadi itu berdampak terhadap kepentingan umum. Artinya, kita mengusahakan agar kepentingan pribadi berjalan sekaligus dengan kepentingan umum.

Presiden Jokowi sudah menunjukkan hal itu. Dia mengusahakan kesehatan pribadinya sekaligus menunjukkan keteladanannya untuk kesehatan banyak orang melalui penerimaan vaksin Sinovac. Dalam hal ini, dia tidak mengutamakan atau memprioritaskan kepentingan pribadinya saja, tetapi lebih memprioritaskan kepentingan seluruh masyarakat Indonesia. Dalam artian, inisiatifnya untuk menjadi orang pertama yang divaksin tidak bertujuan untuk melindungi dirinya sendiri, tetapi lebih bertujuan untuk meyakinkan seluruh masyarakat Indonesia agar mau dan siap untuk menerima vaksin yang sama seperti dirinya.

Maka, sebagai warga masyarakat Indonesia, kita mesti meneladani sikap, perilaku dan tindakan Presiden Jokowi yang berkorban untuk kepentingan banyak orang. Kita perlu meneladani kepemimpinannya di dalam keseharian hidup kita sebagai masyarakat Indonesia, khususnya dalam hal penanganan pandemi Covid-19 di negara kita ini. Agar dengan demikian, kita dapat “mengalahkan” kekuatan jahat dari Covid-19 dengan kekuatan kita sendiri, baik secara jasmani maupun rohani.

Belajar dari Presiden Jokowi

Sebagai pemimpin, dia sudah menunjukkan keteladanannya. Dia sudah menjadi “panglima perang” yang memimpin masyarakat Indonesia untuk melawan rongrongan Covid-19. Kepemimpinannya tidak hanya ditunjukkan lewat kata-kata, tetapi juga ditunjukkan lewat sikap, perilaku, perbuatan dan komitmennya dalam memperjuangkan kebaikan bersama (bonnum commune) dari seluruh masyarakat Indonesia, khususnya di tengah pandemi Covid-19 ini.

Oleh karena itu, sebagai warga masyarakat Indonesia, kita perlu belajar dari Presiden Jokowi. Kita mesti meneladani sikap, perilaku, tindakan, perbuatan dan komitmennya dalam memperjuangkan hidup kita di Indonesia ini. Paling tidak, kita belajar dari Presiden Jokowi untuk memimpin diri kita sendiri dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam sikap, perilaku, tindakan dan perbuatan yang baik dan benar.

Dalam konteks vaksinasi, kita perlu belajar dari Presiden Jokowi untuk berjuang bersama melawan Covid-19. Dalam hal ini, kita perlu terbuka dan rendah hati seperti Presiden Jokowi untuk menerima vaksinasi. Sebab, vaksinasi adalah salah satu cara kita dalam menangani pandemi Covid-19 di Indonesia. Apalagi, vaksin Sinovac yang digunakan untuk vaksinasi sudah dinyatakan aman bagi kesehatan manusia oleh BPOM. Oleh karena itu, kita tidak perlu ragu atau menolak vaksinasi yang notabene bertujuan untuk menyelamatkan hidup kita dari cengkeraman, ancaman, bahaya, dan kematian akibat Covid-19.

Namun, di samping terbuka dan rendah hati untuk menerima vaksinasi, kita tetap perlu mematuhi protokol kesehatan (prokes) dengan baik. Sebab, menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada, Prof. Ari Wibawa, solusi dari pandemi Covid-19 tidak hanya bertumpu pada vaksinasi, tetapi juga kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan. Apabila masyarakat tidak disiplin menerapkan protokol kesehatan, pandemi tetap memiliki potensi untuk berlanjut (Merdeka.com, 19/10/2020). Terkait hal ini, Presiden Jokowi sudah menyampaikannya pasca vaksinasi dirinya pada 13 Januari 2021 kemarin. Di samping itu, Wakin Presiden Ma’ruf Amin dan kepala-kepala daerah yang lain juga menyampaikan hal yang sama, yaitu kita tetap perlu mematuhi prokes, meskipun sudah divaksin.

Akhirnya, penulis berharap agar seluruh masyarakat Indonesia dapat menerima vaksinasi demi mencegah dan melindungi diri dari bahaya Covid-19. Semoga vaksinasi ini juga dapat berjalan dengan lancar di seluruh wilayah Indonesia, sehingga masyarakat Indonesia dapat segera bebas dan terlindungi dari bengisnya Covid-19. Salam sehat, Tuhan memberkati.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya