Mengurangi Sampah dengan Mengompos di Rumah

penyuluh lingkungan hidup
Mengurangi Sampah dengan Mengompos di Rumah 30/12/2022 66 view Lainnya PxHere

Permasalahan sampah yang semakin meningkat menimbulkan berbagai permasalahan baru bagi Indonesia. Masih banyak daerah-daerah yang belum menangani permasalahan sampah ini dengan baik. Seperti halnya sampah plastik yang jumlahnya semakin meningkat sementara pengelolaannya tidak mudah karena plastik baru akan terurai setelah puuhan sampai ribuan tahun. Sedangkan pengelolaan sampah organik lebih mudah.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementrian Lingkungan Hidup negara menghasilkan sampah rata-rata 7.991,99 ton/hari. Sampah yang dihasilkan ini masih banyak yang belum terpilah. Dimana komposisi sampah yang terbanyak adalah sisa makanan sebanyak 42,37 persen. Sehingga dari data tersebut diperoleh kesimpulan bahwa sampah yang organik lebih mudah untuk dilakukan pengolahan dan komposisinya juga paling besar dibandingkan yang lain .

Rumah tangga adalah sebagai salah satu sumber penghasil sampah organik terbesar dibandingkan sumber lainnya. Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN, Kementrian Lingkungan Hidup) diperoleh data bahwa rumah tangga menghasilkan sampah sebesar 63,9 persen. Sehingga dengan adanya pengolahan sampah organik menjadi kompos untuk skala rumah tangga diharapkan bisa menjadi salah satu solusi untuk pengurangan sampah terutama di perkotaan.

Selain itu kompos juga dapat membantu menanggulangi permasalahan pemakaian pupuk kimia dosis tinggi yang semakin marak dan menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan. Sehingga cara bijak untuk mengembalikan kesuburan tanah adalah dengan menggunakan pupuk organik seperti kompos tersebut. Bahan ini diyakini mampu mengurangi dampak buruk penggunaan pupuk kimia dan sekaligus mengembalikan kesuburan tanah hingga kembali seperti semula.

Kompos adalah hasil penguraian parsial atau tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik.

Sedangkan pengomposan adalah proses di mana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup, pengaturan aerasi, dan penambahan aktivator pengomposan.

Bahan kompos sangat banyak tersedia di sekitar kita dalam berbagai bentuk. Beberapa contoh bahan kompos dalam rumah tangga adalah potongan sayur, sisa makanan, kulit buah, dan segala sesuatu yang dapat hancur yang sangat banyak kita jumpai dalam kehidupan kita. Banyak dari bahan tersebut menumpuk menjadi sampah yang mengganggu kesehatan.

Hasil akhir dari pengomposan ini merupakan bahan yang sangat dibutuhkan untuk kepentingan tanah-tanah pertanian di Indonesia, sebagai upaya untuk memperbaiki sifat kimia, fisika dan biologi tanah, sehingga produksi tanaman menjadi lebih tinggi. Kompos yang dihasilkan dari pengomposan sampah dapat digunakan untuk menguatkan struktur lahan kritis, menggemburkan kembali tanah pertanian, menggemburkan kembali tanah petamanan, sebagai bahan penutup sampah di TPA, eklamasi pantai pasca penambangan, dan sebagai media tanaman, serta mengurangi penggunaan pupuk kimia.

Proses pengomposan akan segera berlangsung setelah bahan-bahan mentah dicampur. Proses pengomposan secara sederhana dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap aktif dan tahap pematangan. Selama tahap-tahap awal proses, oksigen dan senyawa-senyawa yang mudah terdegradasi akan segera dimanfaatkan oleh mikroba mesofilik. Suhu tumpukan kompos akan meningkat dengan cepat. Demikian pula akan diikuti dengan peningkatan pH kompos. Suhu akan meningkat hingga di atas 50 - 70 Derajat Celcius. Suhu akan tetap tinggi selama waktu tertentu. Mikroba yang aktif pada kondisi ini adalah mikroba Termofilik, yaitu mikroba yang aktif pada suhu tinggi. Pada saat ini terjadi dekomposisi atau penguraian bahan organik yang sangat aktif. Mikroba-mikroba di dalam kompos dengan menggunakan oksigen akan menguraikan bahan organik menjadi CO2, uap air dan panas. Setelah sebagian besar bahan telah terurai, maka suhu akan berangsur-angsur mengalami penurunan. Pada saat ini terjadi pematangan kompos tingkat lanjut, yaitu pembentukan komplek liat humus. Selama proses pengomposan akan terjadi penyusutan volume maupun biomassa bahan. Pengurangan ini dapat mencapai 30 – 40 persen dari volume atau bobot awal bahan.

Manfaat dari kompos ini sangat banyak. Selain untuk mengurangi sampah yang berserakan di lingkungan kita, juga mempunyai manfaat sangat besar bagi dunia pertanian antara lain : sebagai pembenah tanah, penyedia makanan bagi tanaman, menjaga kesehatan akar serta membuat akar tanaman mudah tumbuh

Mari kita bersama-sama mengolah sampah terutama sampah organik yang banyak dihasilkan dari rumah tangga menjadi kompos. Karena mengompos itu mudah dilakukan. Sehingga dengan kita mengompos di rumah kita sudah membantu menyelamatkan lingkungan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya