Ya Sudahlah

Mahasiswa S1 Program Studi Psikologi Universitas Islam Indonesia.
Ya Sudahlah 30/03/2021 69 view Lainnya enterpreuner.com

"Ya Allah.., kenapa hidup saya tak seberuntung mereka? Kenapa aku tak sepintar dan seganteng dia? Kenapa aku tak bisa menang kompetisi seperti dia? Kenapa aku masih biasa-biasa saja gini?" Diantara pembaca, apakah ada yang memiliki pertanyaan sejenis demikian?

Jika ada, semoga tulisan ini dapat menjadi alarm bagi anda dan tentu diri saya pribadi saat bertanya dan berperasaan seperti itu. Sebabnya, perasaan itu adalah hal yang teramat sering hadir pada orang awam nan tuna ilmu ini. Perasaan yang butuh segera disembuhkan dan dibersihkan saat hadir.

Karena jika dihinggapi perasaan itu, hal yang sering terasakan adalah hati yang kemrungsung. Seakan sedang dibakar diatas tungku. Panas nan menyakitkan. Seakan sendiri. Tak ada yang bisa merasa selain diri sendiri. Merasa hanya diri ini yang tak beruntung. Tak diberi adil oleh Tuhan.

Keadilan Tuhan seolah hanya untuk mereka saja. Mereka yang bahkan tak sekuat dan segigih saya dalam berusaha. Mereka yang bahkan memperoleh kesuksesan dari keberuntungan nasab dan keluarga. Betapa tak adilnya Tuhan itu!

Begitu kurang lebih yang terasa saat hati dihinggapi hal keirian akan milik orang lain. Tak tenang dan panas rasanya jiwa ini. Namun teman, jangan khawatir jika rasa itu memasuki dirimu. Tak apa. Seiring berdetiknya jarum kehidupan, sedikit demi sedikit perasaan itu akan bisa segera dikikis. Kuatkan pribadi, dan adillah pada diri, itu kuncinya.

Pasalnya, perasaan itu muncul akibat ketidakadilan pada diri. Muncul karena kekurangan ilmu dan ketidakseimbangan jiwa. Akibat ketidakadilan dan ketidakseimbangan itu, maka hal yang dipantik adalah pandangan seolah Tuhan tak adil dalam memberi sesuatu. Seolah Tuhan tak seimbang dalam menakar rizkinya. Seolah hanya keinginan kita yang telah seimbang dan adil. Padahal, diri sendirilah yang belum seimbang dan adil.

"Wa Allahu Faddhola ba'dhokum 'ala ba'dhin fiir rizq" (Allah melebihkan sebagian diantara sebagaian lain dalam hal rizkinya), begitu Allah berfirman. Itulah ayat yang laiknya direnungkan bagi anda dan saya jika merasakan keirian, sehingga dapat bersikap adil. Bahwa Allah memang tidak hendak menyamakan rizki antara satu orang dengan yang lain. Allah tidak akan menyamakan harta kita dan harta mereka. Allah tidak hendak menyamakan prestasi kita dengan prestasi mereka. Allah tidak ingin menyamakan ilmu kita dengan ilmu mereka.

Maka bagaimana mungkin Allah mengingkari janjinya sendiri? "Inna wa'da Allahi haqq" begitu kata Allah. Barang tentu Dia akan lebihkan rizki antara satu hamba dengan hambanya yang lain. Allah akan bedakan antara rizki saya dan rizki anda.

Barangkali ada pembaca yang bertanya, "Kalau begitu Allah memang tidak adil. Kan Dia tidak menyamakan rizki hambanya?" Teman, realitanya adil bukan soal kesamaan, namun soal kesetaraan dan keseimbangan. Bukan soal keinginan kita.

Coba tengok alam. Coba tengok kehidupan di sekitar kita. Apakah sama antara rizki ikan dengan rizki burung? Apakah sama antara rizki ayam dengan rizki semut? Apakah sama antara rizki harimau dengan rizki kambing? Itu perihal makanan. Perihal kemampuan pun tidaklah sama antara satu makhluk dengan yang lain. Ikan memiliki kemampuan berenang dan menyelam yang tak dimiliki burung. Akan tetapi, burung berkemampuan terbang tinggi di udara yang tak dimiliki ikan.

Tegasnya, setiap makhluk memiliki perannya masing-masing dalam dunia ini. Setiap makhluk memiliki ladang kehidupannya masing-masing. Tidak lain agar keseimbangan hadir; agar alam tetap serasi dan terpelihara adanya.

Hal yang sama terjadi pada hayat manusia. Barangkali mereka memiliki prestasi yang prima. Barangkali mereka berwajah rupawan dan berotak pintar. Barangkali mereka kaya akan harta. Namun teman, belum tentu mereka miliki kesehatan dan keluarga harmonis seperti yang kita miliki.

Barangkali kita hanya hidup sebagai orang desa. Biasa-biasa saja. Hanya menjadi seorang buruh tani. Hanya bekerja sebagai buruh pabrik. Hanya bekerja sebagai nelayan. Namun kita masih punyai keluarga dan kesehatan yang prima. Bagaimana tak bahagia dengan keistemewaan itu?

Untuk apa juga menganggap pekerjaan kita sebagai "hanya": hanya seorang petani, hanya seorang ini dan itu. Itu yang menjadikan kita minder dan kecewa pada diri. Itu yang menjadikan kita merasa tak sukses. Buanglah "hanya" agar sukses. Sebabnya, sukses adalah tentang syukur dan beroleh bahagia. 

Banyak orang-orang yang berharta, berprestasi, berwajah rupawan, dan berotak cemerlang tapi keluarganya kacau balau. Kesehatan jiwanya terganggu. Bahkan, ada yang menghabiskan hidupnya di balik jeruji besi. Lihat saja, koruptor, orang tak beroleh kekuasaan (gagal calon), para selebriti dll. Apakah dapat dikata mereka sukses? 

Bukan berarti saya menyuruh kalian untuk menjadi orang tak diperhitungkan dalam masyarakat. Bukan berarti saya mendorong anda untuk menjadi orang biasa-biasa saja. Toh, "hidup cuman sekali, hiduplah yang berarti," begitu kata Ahmad Rifai Rif'an.

Saya hanya ingin kita menerima peran kita sebagai manusia seperti adanya saat ini. Jika ekspektasi kita tak sesuai kenyataan, bukan berarti kita tak sukses. Sebabnya, jika definisi sukses adalah tentang ekspektasi yang harus sesuai kenyataan, maka lebih baik saya tak sukses. Sukses itu hanya menjadikan saya tertekan dan kecewa. Tak apa saya tak sukses, asal saya mengerti rasanya ketenangan dan kebahagian hidup. Begitu.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya